Sajian Kuliner09 April 2010, 14:45:50| Laporan Manda RoosaNyambangi Markas
Lontong Balap
suarasurabaya.net|
Suatu pengalaman yang sangat menyenangkan. Bertandang langsung ke
sebuah rumah yang menampung belasan penjual lontong balap keliling. Di
sini mereka menyiapkan dagangan, mulai belanja, meracik hingga
memasak.Semua dikerjakan sendiri oleh tangan terampil para penjual yang
semuanya laki-laki. Hebat bukan!
Sebuah
gang kecil di jalan Semarang, menampung penjual lontong balap, yang
kebanyakan dari Mojokerto dan Gresik.
Bersama pedagang lainnya mereka
berkumpul di rumah MBAH REJEB, yang disebut sebagai juragan lontong
balap. Lelaki tua yang berumur 81 tahun ini masih terlihat gesit,
bahkan terlihat tak bisa diam, karena ada saja yang dikerjakan.
Bersama sang istri, MBAH REJEB menjadi pemimpin bagi para pendagang
lontong balap. Di rumahnya inilah 18 pedagang berkumpul, tinggal
sementara, bahkan menggunakan dapur yang sama untuk mempersiapkan
dagangannya.
Ditanya mulai kapan pastinya menjadi juragan bagi para pedagang lontong
balap, MBAH REJEB menjawab, jika usahanya sudah dirintis sejak tahun
1950. “Saat ini penjual lontong balap masih pikulan semua. Belum ada
yang menggunakan gerobak dorong seperti sekarang ini, “ tuturnya.
Meski berstatus sebagai jurugan, MBAH REJEB yang kala itu masih kuat,
juga ikut berjualan keliling. “Lha, kalau sekarang sudah tidak lagi.
Tidak kuat, sekarang kerjanya mbikin lentho saja,”katanya.
Di rumah MBAH REJEB inilah, para pedagang mendapat modal awal untuk
berjualan. Mulai minyak goreng, minyak tanah, tahu, sate kerang dan
lentho semua dari MBAH REJEB.
“Kita tinggal membuat bumbu dan jualan,” ujar IMAN, yang sudah ikut
MBAH REJEB, berjualan lontong balap selama 21 tahun. IMAN bersama 18
pedagang yang lain, selama di Surabaya tinggal di rumah MBAH REJEB. “Di
sini kami hanya ditarik biaya air saja,” ujarnya.
Setiap hari para pedagang ini berjualan keliling, masing-masing
mempunyai rute sendiri. Dan hasil yang didapat setiap hari, disetor
kepada MBAH REJEB, yang nilainya disesuaikan dengan jumlah bahan yang
telah mereka gunakan. Dalam setahun, mereka libur sebulan, tepatnya di
bulan puasa. Di saat libur itulah mereka kembali ke desa, dan beralih
profesi sebagai buruh tani. www.suarasurabaya.net
FOTO : ANTON KUSNANTO, M-comm
function fbs_click()
{u=location.href;t=document.title;window.open('http://www.facebook.com/sharer.php?u=http://kuliner.suarasurabaya.net/?id=af28e0aea2e3b4a237df52c38b4fa90b201075321&t='+encodeURIComponent(t),'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');return
false;}Share on Facebook
:) www.sijagomakan