Kongres Bahasa Sunda, Setelah itu Apa?

    --Kenyataan seperti inilah yang kemudian
memunculkan sejenis kecemasan, pada satu saat (yang
tidak lama lagi) bahasa Sunda (dan bahasa daerah
lainnya di Indonesia) akan mati. 

DIHITUNG-HITUNG, waktu sudah berjalan 17 tahun sejak
Kongres Bahasa Sunda (KBS) berlangsung di Cipayung
Bogor tahun 1988. Ini titimangsa yang cukup penting,
karena dari sanalah wacana tentang KBS dan Lembaga
Basa jeung Sastra Sunda (LBSS) dihidupkan kembali. KBS
sebelumnya diselenggarakan tahun 1961, jadi ada
rentang waktu kekosongan selama 27 tahun. LBSS pun
cukup lama tidak terdengar aktivitasnya. Maka sangat
wajar kalau KBS Cipayung yang diprakarsai Uu Rukmana
dan Acil Bimbo tersebut memperoleh perhatian sangat
besar dari masyarakat. Bupati Bogor saat itu,
Sudardjat Nataatmadja juga memberi dukungan yang
penting. Cukup banyak keputusan yang disepakati KBS
Cipayung itu, termasuk salah satunya mengaktifkan
kembali LBSS.

KBS akan kembali dilangsungkan di Subang 28-30 Juni
2005. Ini merupakan kongres kedelapan. Khususnya
setelah KBS Cipayung, pada tempatnyalah kalau muncul
pertanyaan, sampai sejauh mana keputusan-keputusan KBS
sudah direalisasikan? KBS adalah acara lima tahunan
yang memang selalu memperoleh dukungan sangat
bersemangat bukan saja dari pihak pemerintah (termasuk
menyediakan anggaran) tapi juga dari masyarakat. Tapi
menjelang diselenggarakannya KBS Subang sekarang,
khususnya di media muncul wacana tentang kekhawatiran
musnahnya bahasa Sunda. Ini tentu saja sesuatu yang
agak aneh. Jika masyarakat selalu antusias menyambut
dan mengikuti KBS, mengapa muncul kecemasan seperti
itu? Jangan-jangan ada yang tidak nyambung antara apa
yang selama berhari-hari dibicarakan dalam kongres
dengan yang berlangsung di masyarakat itu sendiri.

Apa yang dirasakan oleh para pemakai bahasa Sunda saat
ini sebenarnya juga dirasakan oleh para pemakai bahasa
daerah lainnya. Bahasa Jawa saja yang jumlah
pemakainya paling banyak mengemukakan persoalan yang
sama. Jadi ini merupakan persoalan bahasa daerah di
Indonesia umumnya. Mulanya ada desakan dari masyarakat
yang menduga pangkal semua kecemasan itu bermula dari
sekolah, artinya menyangkut materi pengajaran. Maka
diusulkanlah agar bahasa daerah dimasukkan sebagai
salah satu mata pelajaran. Tapi, setelah sekian puluh
tahun berjalan, ternyata tidak mampu menjawab apa yang
dikhawatirkan selama ini. Para pemakai bahasa Sunda
(seperti juga para pemakai bahasa daerah lainnya)
ditengarai terus berkurang. Kenyataan seperti inilah
yang kemudian memunculkan sejenis kecemasan, pada satu
saat (yang tidak lama lagi) bahasa Sunda (dan bahasa
daerah lainnya di Indonesia) akan mati.

Tema KBS Subang tahun ini, Ngagunakeun Basa Sunda dina
Kahirupan Kiwari (Menggunakan Bahasa Sunda dalam
Kehidupan Saat ini), tampaknya sengaja dipilih sebagai
salah satu cara untuk menjawab kecemasan tadi.
Meskipun terkesan ada semacam penyederhanaan (dari
sebuah masalah yang sesungguhnya cukup rumit) tapi
upaya itu tentu saja harus disertai prediksi yang
(sedapat mungkin) akurat. Pada dasarnya, para pemakai
bahasa akan memakai bahasa tertentu untuk memenuhi
kebutuhannya. Tentu bukan semata-mata untuk urusan
komunikasi meskipun hal ini merupakan bagian yang
sangat penting. Jika masalahnya penggunaan bahasa
Sunda dalam kehidupan sehari-hari, kepentingannya
tentu saja efeknya kemudian.

Sekolah sebenarnya merupakan lembaga yang sangat
penting untuk menerapkan pola-pola tatanan kehidupan
yang ideal yang sebelumnya sudah disepakati. Maka
perencanaan dan penyelenggaraan lembaga pendidikan
tidak bisa disederhanakan begitu saja. Misalnya hanya
dengan menyediakan buku pelajaran bahasa Sunda maka
persoalan tentang bahasa tersebut sudah dianggap
selesai.

Masyarakat pemakai bahasa Sunda tentu saja merupakan
bagian dari masyarakat yang lebih besar di mana satu
sama lain terus-menerus melakukan interaksi.
Belakangan, sejalan dengan penemuan sarana teknologi
yang memberikan kemudahan terjadinya proses
komunikasi, masyarakat pemakai bahasa Sunda juga
menjadi bagian dari sebuah masyarakat yang sangat
dinamis. Perubahan terus berlangsung dengan sangat
cepat, dan terjadi dalam berbagai bidang. Apakah para
pemakai bahasa Sunda mampu mengikuti dinamika seperti
itu? Inilah barangkali salah satu pertanyaan cukup
penting yang harus dijawab dalam KBS Subang sekarang.***


                
____________________________________________________ 
Yahoo! Sports 
Rekindle the Rivalries. Sign up for Fantasy Football 
http://football.fantasysports.yahoo.com


Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke