Berbagai wartawan media internasional seperti BBC,
Time Magazine, The Guardian, serta peneliti yang
tertarik dengan kondisi tubuh warga Rampasasa
berbondong-bondong mendatangi dusun tersebut. Tim dari
Laboratorium Bioantropologi dan Paleoantropologi
Universitas Gadjah Mada (UGM) yang dipimpin Teuku
Jacob, April lalu, malah sempat mengukur tinggi badan
warga Rampasasa. Dari 76 orang yang diukur, sekitar 50
di antaranya tergolong pigmi atau katai. Laki-laki
paling pendek di dusun itu tingginya 133,1 cm dan
perempuannya 133,6 cm.

Ketertarikan terhadap keunikan warga Rampasasa tak
lepas dari penemuan temuan prasejarah di goa yang sama
dengan tempat cerita Paju bermula. Peneliti asal
Australia dan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
menemukan tulang dan tengkorak mungil yang diduga
milik individu setinggi satu meter, berjenis kelamin
perempuan dengan usia 30 tahunan dari 18.000-38.000
tahun silam.

Tengkorak yang kemudian dinamai Ebu atau dalam bahasa
setempat berarti nenek itu, mencuatkan berbagai
pendapat. Para penemunya beranggapan Ebu sebagai
spesies baru dan menyebutnya Homo floresiensis.

Ilmuwan lain berpendapat, si nenek sebagai mata rantai
evolusi yang hilang mengingat masa hidupnya dari kurun
18.000- 38.000 tahun silam. Kurun itu merupakan masa
berakhirnya Homo erectus dan sebelum maraknya periode
kehidupan Homo sapiens di Tanah Air. Apalagi dalam
individu yang sama terdapat ciri erectus dan sapiens.
Sementara sejumlah antropolog meyakini fosil itu
merupakan manusia katai dengan kelainan individu
mikrosefali atau pengecilan kepala kecil.

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0506/28/humaniora/1845256.htm

Manusia Flores
Banyak Cerita tentang Orang Katai

Cerita tentang keberadaan manusia pigmi alias katai
telah meramaikan dunia sejak dulu. Tak sebatas kisah
Paju, manusia hutan yang tingginya hanya satu meter
yang hidup di Liang Bua, sebuah goa besar di kaki
bukit kapur di Pulau Flores, Manggarai, Nusa Tenggara
Timur, dan diyakini oleh warga Dusun Rampasasa sebagai
nenek moyang mereka. Kisah serupa tersebar pula di
berbagai belahan dunia lain.

Istilah pigmi sendiri konon berasal dari kata Yunani,
pygmaios atau fist sized (sekepalan tangan) yang
merupakan manusia kerdil dalam mitologi Yunani.
Pygmalion, manusia kerdil itu, digambarkan buruk rupa
dan sulit mendapatkan pasangan. Dengan kepandaiannya,
dia lalu memahat patung seorang perempuan cantik dari
bahan marmer putih terbaik dari sebuah pulau di Paros.
Belakangan dia malah jatuh cinta pada patung tersebut
dan meminta para dewa agar mengasihaninya dengan
menghidupkan patung tadi. Patung itu pun dihidupkan
oleh para dewa, tetapi ironisnya ia tidak tertarik
pada manusia kerdil tersebut.

Tidak sekadar mitos, di benua hitam Afrika populasi
pigmi Mbuti di tengah hutan hujan Ituri di Kongo
pernah diteliti oleh antropolog kelahiran Skotlandia,
Colin Turnbull, pada tahun 1962 (The Forest People).
Komunitas tersebut digambarkan masih menjalani
kehidupan berpindah-pindah, berburu, dan mengumpulkan
makanan. Namun, mereka mampu berinteraksi dengan
tetangganya yang tidak katai dan sudah bercocok tanam.
Di kawasan Asia juga pernah dikabarkan keberadaan
manusia katai, sebutlah seperti di Andaman dan di
Filipina dengan kabar adanya kaum Agta.

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0506/28/humaniora/1846551.htm

Baktos,

Rahman, Wassenaar/NL

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke