Tindak Lanjuti KBS VIII

BANDUNG,(PR).-
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat, Drs. H.I. Budhyana,
M.Si., akan menginstruksikan Panitia Kongres Basa Sunda (KBS)VIII
dengan melibatkan pakar serta pemerhati bahasa, sastra, dan aksara
Sunda untuk menjabarkan lebih konkret hasil kongres yang
diselenggarakan di Pendopo Kabupaten Subang 28-30 Juni lalu. Upaya
konkret tersebut lebih ditekankan pada hal-hal yang bersifat
operasional secara terprogram untuk waktu 5 tahun.

Saat ditemui seusai salat Jumat (1/7), Kadisbudpar Jabar mengatakan
hasil KBS VIII yang terdiri dari 39 butir rekomendasi masih
kualitatif. "Untuk itu saya menginstruksikan agar panitia kongres
tidak dibubarkan dan membentuk tim untuk menjabarkan secara konkret
terhadap hasil kongres ke arah operasional," ujarnya.

Selain meminta untuk menyusun program yang lebih mengarah ke
operasional, pihaknya juga meminta agar dibuat evaluasi hasil kongres
sebagai acuan agar dalam penyusunan program dapat sesuai dengan yang
diharapkan peserta kongres.

Menurut Budhyana, hal tersebut dilakukan agar tidak muncul anggapan
pelaksanaan kongres hanya sebagai kegiatan seremonial semata. Selain
itu penyusunan program juga dimaksudkan untuk dijadikan tolok ukur
kegiatan yang dilaksanakan maupun keberadaan bahasa, sastra dan aksara
Sunda yang dikhawatirkan akan punah.

"Saya mengharapkan akhir Juli ini program sudaah ada dan segera
dilaksanakan. Untuk tim penyusunnya dibentuk tidak hanya dari panitia
kongres saja tetapi di antaranya dari pakar serta pemerhati," ujarnya.

Lebih jauh dikatakan Budhyana, program yang akan dirumuskan akan
dijadikan bahan untuk kebijakan menentukan penyusunan anggaran. Selain
itu juga akan dijadikan bahan ajuan kebijakan pihak eksekutif. "Jadi
apa yang dihasilkan bukan hanya sekadar statement tetapi juga
merupakan angka," tegasnya.

Langkah lain yang akan ditempuh oleh pihaknya, menurut Budhyana dalam
waktu dekat akan membuka layanan saluran khusus untuk menampung
aspirasi masyarakat. Aspirasi yang disampaikan tidak hanya berhubungan
dengan masalah bahasa, sastra maupun aksara Sunda saja tetapi juga
semua hal yang berkenaan dengan tugas dan fungsi jajaran Disbudpar
Jabar, seperti masalah seni, budaya maupun kepariwisataan.

Jangan suuzan

Sementara itu, Ketua Lembaga Basa jeung Sastra Sunda (LBSS) Taufiq
Faturrahman dan Ketua Panitia KBSVIII Elin Syamsuri menyatakan
keberatan dengan penilaian sementara pihak yang menilai KBS tidak
menghasilkan program nyata.

Menilai suatu hasil dari sebuah kongres tidaklah bijaksana
mengedepankan sikap suuzan (buruk sangka), terlebih diungkapkan oleh
seorang yang dapat dikatakan sebagai pemikir pituin Sunda, juga
dikenal sebagai budayawan, kritikus dan kolomnis. Rasanya apa yang
dilontarkan semata-mata sikap subjektif tanpa melihat realitas yang
ada dari hasil kongres.

Taufik dan Elin merespons langsung pernyataan Pemimpin Redaksi
Cupumanik, Hawe Setiawan maupun Ketua MGMP (Musyawarah Guru Mata
Pelajaran), Djuhara, juga peserta kongres seperti M.N. Dahlan dan
Darpan Ariawinangun.

Menurut Taufik, apa yang dilakukan dalam kongres sama sekali tidak
mengetengahkan organisasi LBSS, tetapi subtansi kongres adalah
terhadap persoalan-persoalan menyangkut bahasa, sastra maupun aksara
Sunda, karena sejak kongres di Garut lima tahun lalu banyak
perkembangan yang terjadi. Itu dapat dilihat dari hasil putusan
kongres, bisa dibandingkan dengan kongres sebelumnya. Tidak benar jika
dikatakan tidak jauh berbeda dengan hasil kongres sebelumnya.

Bagi Taufik, jika dikatakan bahwa kongres ini tidak ada manfaatnya
atau dikatakan tidak ada program nyata, itu pun pernyataan yang kurang
mengerti arti dari kongres. LBSS hanya sebagai medium yang menampung
berbagai aspirasi dari berbagai stakeholder, para inohong, budayawan,
sastrawan, guru-guru, dari berbagai tokoh-tokoh kasundaan lainnya,
bersama-sama memikirkan eksistensi bahasa, sastra dan aksara Sunda,
agar tidak lenyap begitu saja, tetapi tetap menjadi hidup, baik dalam
keluarga, di sekolah dan dalam kehidupan sehari-hari.

"LBSS itu bukan ngeupeul ngahuapan maneh, sama sekali tidak. Dana yang
kami gunakan untuk acara ini 60% adalah usaha sendiri dan bantuan dari
Disbudpar 40%, itu semua untuk kepentingan kongres. LBSS juga sama
sekali tidak operasional, apa yang direkomendasikan adalah untuk
kepentingan semua unsur, baik itu organisasi kesenian, sastra, maupun
asosiasi-asosiasi lainnya yang berhubungan dengan bahasa, sastra dan
aksara Sunda. Program nyata tentunya ada di dinas, dalam hal ini
Disbudpar, tinggal sejauhmana menerjemahkan hasil putusan kongres ini
menjadi program," jelasnya.

Demikian pula dikatakan Elin Syamsuri M.Pd., kongres ini bukan kongres
yang identik dengan kongres partai politik atau rapat dinas, yang
hasilnya harus dilaksanakan secara nyata dan memilih pemimpin, sama
sekali bukan itu. "Kami benar-benar disudutkan, sepertinya apa yang
telah kami perbuat untuk bahasa Sunda tidak ada artinya, tidak ada
manfaatnya, padahal hasil yang kami capai akan menjadi milik
masyarakat Sunda. Kami tidak mengerti, ada apa di balik pernyataan
mereka ini, apakah hal ini karena dimulai dari pernyataan orang yang
paling sangat kami hargai, seorang tokoh Sunda yang sudah
menginternasional, yaitu Kang Ajip Rosidi yang menolak untuk
berpartisipasi dalam kongres ini," paparnya.

Menurutnya, jauh hari Hawe Setiawan sudah diagendakan sebagai seorang
pembicara dalam kongres, karena oleh panitia Hawe dianggap yang paling
paham perkembangan sastra Sunda, tetapi Hawe menolak untuk menjadi
pembicara.(A-87/A-73)***




Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke