Asvi Warman Adam Meluruskan Sejarah

Oleh: P Bambang Wisudo

ASVI Warman Adam (50) merupakan seorang sejarawan yang
terus mendesakkan agenda pelurusan sejarah dan lantang
menyuarakan perlunya kebohongan seputar peristiwa 1965
dibongkar. ”Sejarah yang selama ini dipergunakan
sebagai alat penindas perlu diubah menjadi medium
pembebasan,” kata Asvi.

Sejak rezim Soeharto jatuh, peneliti senior dari
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ini
mengalihkan konsentrasi kegiatan riset dan penulisan
tentang sejarah kontemporer Indonesia. Ia sangat aktif
menulis di surat kabar, berbicara dalam berbagai
pertemuan dan seminar, serta melakukan riset seputar
peristiwa 1965 dan sejumlah topik lainnya. Ia menulis
sederet pengantar buku-buku yang ditulis oleh para
korban dan mereka yang disingkirkan akibat peristiwa
kelabu itu.

Dua buku yang diterbitkan baru-baru ini, Soeharto Sisi
Gelap Sejarah Indonesia dan Pelurusan Sejarah
Indonesia, mengungkapkan bagaimana sejarawan ini
bersikap.

Ironinya, Asvi yang dikenal luas berbagai kalangan,
baik mahasiswa, intelektual, aktivis organisasi
nonpemerintah, para korban kekerasan Orde Baru, sampai
anak-anak SMA itu, tidak terlibat dalam ”proyek-proyek
pelurusan sejarah” yang disponsori negara. Ia mundur
dari tim penulisan ulang Sejarah Nasional Indonesia.
Ia tidak dilibatkan dalam revisi sejarah seputar
peristiwa 1965 yang dibentuk pada masa pemerintahan
Megawati Soekarnoputri. Baru-baru ini, namanya juga
gugur dalam seleksi keanggotaan Komisi Kebenaran dan
Rekonsiliasi (KKR) yang diharapkan bisa menyingkap dan
mengobati kabut hitam perjalanan Indonesia.

Asvi menyatakan tidak kecewa dan bisa menerima hasil
seleksi itu. ”Saya akan tetap berusaha untuk
memperbaiki persoalan sejarah masa lalu di luar KKR,”
kata Asvi.

Apa yang memotivasi Anda untuk mengikuti seleksi
keanggotaan KKR?

Itu bagian dari keprihatinan saya. Pelurusan sejarah
dan KKR merupakan bagian dari reparasi politik masa
lalu yang tidak terselesaikan. Ibarat reparasi mobil.
Kalau mobil ditabrak dibawa ke bengkel, reparasi apa
pun tidak bisa memulihkan pada kondisi awal. Ini
hendaknya disadari. Reparasi ini juga menyangkut
permohonan maaf. Ada ganti rugi, kompensasi. Itu yang
dilakukan KKR.

Namun, reparasi juga menyangkut apa yang dilihat
masyarakat. Menyangkut juga gugatan terhadap peristiwa
masa lampau, bagaimana memori masyarakat. Ini bisa
diselesaikan melalui pelurusan sejarah, pendidikan
sejarah di sekolah lebih baik, penerbitan buku-buku,
pembuatan film, dan lain-lainnya.

KKR juga berkaitan dengan pelurusan sejarah, karena
dari situ akan dihasilkan dokumen negara untuk
penulisan sejarah.

Kegiatan utama Anda saat ini?

Menulis sejarah kontemporer, hal-hal kontroversial,
yang terkait dengan pelurusan sejarah.
Peristiwa-peristiwa dalam sejarah kontemporer itu dulu
dibengkokkan oleh rezim.

Pada masa lampau, sejarah yang diajarkan di sekolah
lebih banyak bercerita tentang pemberontakan.
Seakan-akan Indonesia, sejak 1945-1965, hanya berisi
serangkaian pemberontakan, lalu ada tentara yang
berhasil menumpas pemberontakan dan jadi pahlawan.
Padahal cerita Indonesia tidak hanya tentang itu.
Pemberontakan itu harus dilihat dari perspektif lebih
komprehensif.

Kurikulum 2004 lebih maju dalam hal ini. Pemberontakan
tidak dilihat sebagai pemberontakan an sich.
Pemberontakan juga dilihat dari persoalan-persoalan
yang terjadi di Indonesia. Ada persoalan kesenjangan
ekonomi, ada persoalan ideologis, dan ada persoalan
sosial politik lainnya. Peristiwa-peristiwa itu
dilihat dari perspektif sebuah bangsa yang menghadapi
berbagai persoalan. Tidak semata-mata bercerita
tentang ada sekelompok orang yang ingin keluar dari
negara di Indonesia, kemudian ada yang berhasil
membela negara kesatuan.

Mengapa fokus Anda pada Peristiwa 1965?

Peristiwa 1965 merupakan tahun pembatas zaman. Zaman
berubah antara sebelum 1965 dan sesudahnya. Perubahan
itu terjadi dalam bidang ekonomi, politik, dan sosial
budaya secara serentak.

Setelah tahun 1965, politik luar negeri berubah total.
Dari nonblok menjadi pro-Barat, menjadi pengikut
Amerika Serikat. Ekonomi Indonesia yang dulunya
berdikari berubah menjadi ekonomi yang tergantung pada
modal asing. Dalam bidang sosial budaya juga terjadi
perubahan sangat besar. Pada masa lampau, orang boleh
mempersoalkan tanah. Pada masa Orde Baru, penelitian
tentang agraria pun hilang. Orang tidak boleh lagi
mengungkit-ungkit tanah. Dalam bidang kebudayaan,
sebelum 1965, kita bebas berpolemik. Sesudah tahun
1965 budaya kita seolah-olah satu, menjadi monolitik.
Tidak ada lagi perbedaan. Semua seragam.

Saya tidak menampik bahwa sebelum tahun 1965 juga
terjadi hal-hal buruk. Ada aksi-aksi sepihak dari
Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Barisan Tani
Indonesia (BTI). Ada serangan Lekra terhadap kelompok
Manikebu yang tidak terpuji. Namun, pembantaian yang
terjadi sesudahnya merupakan pembalasan yang lebih
dari setimpal. Kenapa sesudah tahun 1966 masih
dilanjutkan permusuhan itu? Seharusnya rekonsiliasi
seluruh anggota masyarakat dilakukan pada tahun 1966.

Peristiwa 1965 menimbulkan dampak sangat besar. Dari
tahun 1965 sampai 1966, ada sekitar setengah juta
orang terbunuh. Ini luar biasa. Sebuah peristiwa yang
harus ditulis dalam buku pelajaran sejarah nasional.
Akan tetapi, peristiwa ini tidak pernah disinggung.
Pembunuhan 1965-1966 sengaja dihilangkan dalam
sejarah. Akibatnya, kekerasan lebih kurang serupa
terulang lagi melalui pelanggaran HAM di mana- mana.
Peristiwa 1965 merupakan kekerasan paling besar dalam
sejarah Indonesia modern.

Sudah ada berbagai versi tentang peristiwa 1965. Apa
yang akan Anda tulis?

Saya ingin lebih melihat dampak peristiwa itu terhadap
korban, keluarga korban, dan masyarakat secara
keseluruhan.

Setelah peristiwa 1965 masyarakat menjadi terbelenggu
pikirannya. Mereka mempunyai ketakutan terhadap
peristiwa itu, kemudian menghindari dan menjauhi
orang-orang yang dituduh terlibat. Peristiwa 1965
menimbulkan stigma dan label sangat jahat terhadap
mereka yang di- duga PKI dan keluarganya. Itu
berlanjut sepanjang sejarah Orba.

Upaya menanamkan kebencian terhadap PKI dibuat
berbagai film, monumen, dan museum. Di samping untuk
mengagungkan rezim yang berkuasa, film, monumen, dan
museum tersebut juga dibuat untuk selalu mengingatkan
bahaya satu kelompok. Museum-museum dibangun secara
sistematis dari tahun-ke-tahun. Nugroho Notosusanto
meninggal tahun 1985, tapi 1987 berdiri museum Waspada
Purbawisesa tentang bahaya dari kelompok Islam
radikal. Museum itu diresmikan Benny Moerdhani. Itu
tak cukup. Pada tahun 1990 Soeharto membangun museum
pengkhianatan PKI di Lubang Buaya.

Selalu ada ekstrem kanan maupun kiri. Semua bahaya.
Dan satu-satunya yang menyelamatkan bangsa ini adalah
tentara.

Mengapa tidak ada satu pun sejarawan Indonesia yang
menulis versi lain dari sejarah kontemporer Orde Baru?

Pada waktu itu Kejaksaan Agung dan Kopkamtib sangat
berkuasa. Sejak tahun 1970 ada ketentuan tidak boleh
lagi ada peringatan hari lahir Pancasila. Buku Bung
Karno diperiksa. Ada ketakutan untuk menerbitkan
buku-buku tentang Bung Karno atau buku-buku sejarah
yang sebenarnya bisa diperdebatkan secara ilmiah.
Sampai saat-saat terakhir Orde Baru, larangan itu
berlanjut. Buku Bayang-bayang PKI terbitan ISAI yang
hanya mengatakan ada beberapa versi tentang G30S
dilarang.

Larangan demi larangan terhadap buku yang tidak sesuai
versi pemerintah menyebabkan sejarawan jadi enggan
menulis buku tentang persoalan itu.

Bagaimana pelurusan sejarah mesti dilakukan? Tidak
cukup berbagai versi buku sejarah diterbitkan?

Munculnya berbagai versi buku sejarah merupakan suatu
yang positif. Namun, buku-buku saja tidak cukup.
Sejarah perlu diajarkan di sekolah. Untuk mengajar di
sekolah perlu ada pedoman. Dulu ada buku Sejarah
Nasional Indonesia dan tengah ditulis ulang meski
belum selesai-selesai juga. Delapan jilid bisa dibuat
yang lebih tipis, Sejarah Nasional Indonesia untuk SMA
dan SMP. Kurikulum memang sudah berubah, tetapi tanpa
buku pegangan mana, guru jadi bingung.

Keikutsertaan Anda dalam tim penulisan ulang Sejarah
Nasional Indonesia yang dulu disponsori Direktorat
Jenderal Kebudayaan?

Saya mengundurkan diri.

Karena alasan politis?

Bukan, karena alasan akademis.

Saya diminta menyumbangkan tulisan untuk jilid
delapan. Saya berbeda pendapat dengan editornya. Saat
berdiskusi tentang apa- apa yang harus ditulis, saya
mengatakan bahwa selama ini selalu diceritakan hal-hal
yang positif saja tentang Orde Baru. Saya berpendapat,
sebaiknya ditulis juga tentang apa yang terjadi di
balik sukses ekonomi. Namun, editornya lebih melihat
bahwa saat ini terlalu banyak hujatan terhadap Orde
Baru. Padahal, menurut dia, banyak juga hal
positifnya.

Itu berbeda sekali dengan pandangan saya, jadi saya
pilih mundur.

Bagaimana dengan tim yang dibentuk pada masa
pemerintahan Megawati Soekarnoputri untuk penulisan
ulang sejarah tentang peristiwa 1965?

Saya tidak masuk di situ.

Ada sejumlah perubahan yang saya dengar. Tetapi
mengenai peristiwa 1965, Pak Taufik Abdullah
menekankan pada peristiwa 30 September 1965 yang
disebutnya sebagai malam jahanam.

Namun mana yang lebih jahanam, peristiwa 30 September
atau pembunuhan-pembunuhan yang terjadi puluhan malam
sesudahnya? Istilah itu tidak tepat. Seolah-olah
peristiwa itu hanya berpusat pada 30 September,
padahal yang lebih penting adalah dampak jangka
panjangnya. Di situ hanya disebut berbagai versi
tentang peristiwa G30S. Jumlah tulisan yang menyebut
versi keterlibatan Soekarno pun lebih banyak.

Apa perlu ada kelompok independen untuk menulis ulang
sejarah Indonesia?

Seharusnya begitu. Tetapi sejauh ini masih baru
sebatas wacana. Jaringan Kerja Budaya pernah
melontarkan gagasan itu. Ada pula usulan dari Program
Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma,
Yogyakarta. Namun usaha mempertemukan tim seperti itu
tidak jadi-jadi.

Anda pernah diteror?

Melalui telepon, waktu menjadi anggota tim
penyelidikan pelanggaran HAM berat Soeharto. Tapi
ternyata anggota lain lebih parah. Ada yang bilang
saya juga dimaki-maki di milis, tapi saya tidak pernah
baca….

Apa yang ingin Anda berikan melalui pergulatan Anda
dalam sejarah kontemporer Indonesia?

Saya ingin sejarah ini berguna bagi bangsa. Ada
persoalan yang dihadapi bangsa ini di mana sejarah
dapat menyumbangkan sesuatu. Ada persoalan 1965, etnis
Tionghoa, Islam garis keras, superioritas Jawa
terhadap luar Jawa, dan persoalan tentara. HhnHHal-
hal ini dalam waktu 10-20 tahun masih akan jadi
persoalan, dan sejarah akan memberikan sumbangan.

Paradigma sejarah yang dipergunakan menjadi alat
penindas harus diubah. PKI dijadikan dalang tunggal
peristiwa 1965, Gerwani diceritakan melakukan
pemotongan kemaluan para jenderal. Mereka yang diduga
anggota PKI dibantai. Keluarganya mendapat stigma,
tidak bisa jadi pegawai negeri atau tentara. Sejarah
semacam ini di satu sisi menyebarkan kebohongan,
tetapi di lain sisi juga jadi alat penindasan.

Jadikan sejarah medium pembebasan, bukan alat
penindasan. Caranya dengan mengatakan sebenarnya
peristiwa itu. Kembalikan sejarah ke rel sebenarnya.

Baktos,

Rahman, Wassenaar/NL

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke