Indonesia yang Berkesetaraan Oleh: SISWONO YUDO HUSODO Indonesia akan memperingati 60 tahun kemerdekaannya pada 17 Agustus 2005 mendatang. 60 tahun bagi suatu negara bangsa bukanlah waktu yang pendek, dengan berbagai dinamika yang telah kita alami, serta tantangan yang terus bertambah. Dengan mensyukuri berbagai kemajuan yang telah kita capai, utamanya demokratisasi yang demikian maju, yang akan mengantarkan kita pada kemajuan di bidang-bidang lain, patut dicatat berbagai kemunduran juga terjadi.
Era keterbukaan sekarang ini sesungguhnya memberi peluang untuk melakukan revitalisasi pada falsafah bernegara dan bermasyarakat, memantapkan ideologi kebangsaan kita. Namun, tak dapat dimungkiri bahwa dalam beberapa tahun terakhir kesadaran hidup berbangsa majemuk ini melemah. Sebagian kecil masyarakat secara demonstratif mengembangkan gagasan yang mendirikan bulu roma masyarakat pendukung negara kebangsaan yang berkesetaraan. Manifestasinya muncul dalam bentuk gerakan separatisme, bentrok fisik berlatar belakang suku dan agama, pelaksanaan menyimpang dari otonomi daerah yang menyuburkan etnosentrisme, primordialisme sempit yang berlebihan, dan demokratisasi yang dimanfaatkan untuk mengembangkan paham sektarian ekstrem yang fanatik. Perlu disadari bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) terbentuk dengan karakter utama mengakui pluralitas dan kesetaraan antarwarga bangsa. NKRI yang mengakui keragaman dan menghormati kesetaraan adalah pilihan terbaik untuk mengantarkan masyarakat kita pada pencapaian kemajuan peradabannya. Cita-cita yang mendasari berdirinya NKRI yang dirumuskan founding fathers telah membekali kita dengan konsepsi normatif negara bangsa Bhinneka Tunggal Ika yang sangat maju dan modern, membekali hidup bangsa kita dalam keberagaman, kesetaraan, dan harmoni. Hal tersebut merupakan kesepakatan bangsa kita yang bersifat mendasar. Oleh sebab itu, tugas kita semua sebagai warga bangsa untuk mengimplementasikannya secara konkret. Membangun kesetaraan Beberapa minggu lalu saya mengunjungi India, yang berpenduduk lebih kurang 1,1 miliar, dengan komposisi Hindu 77%, Muslim sekitar 12%, Sikh 4%, Buddha 3%, Katolik dan Protestan 3%, dan agama-agama lain sekitar 1%. India adalah salah satu bangsa yang sangat bhinneka yang hanya bisa diimbangi kebhinnekaannya oleh Indonesia dan Nigeria. Presiden India saat ini adalah Dr AJP Abdul Khalam, seorang ahli nuklir, beragama Islam, dan perdana menteri (PM)-nya Dr Mahmohan Singh, seorang ahli ekonomi, beragama Sikh; dua-duanya dari unsur minoritas. Ketua Umum Partai yang sangat berpengaruh, Partai Kongres adalah Sonia Gandhi, keturunan Italia, beragama Katolik. India memperlihatkan sebuah sistem politik demokrasi yang menghargai kemampuan seseorang tanpa membedakannya atas dasar asal-usul, agama, ras/etnik. Elite politik di India memegang teguh pandangan bahwa suatu bangsa akan dapat menjadi bangsa besar dan kuat kalau setiap orang dinilai berdasarkan merit system. Ditambah dengan perlindungan negara pada freedom of thought (kebebasan berpikir), maka setiap warga negara India memiliki peluang untuk berprestasi maksimal bagi kemajuan diri, masyarakat, dan bangsanya. Dilihat dari sistem politiknya, India merupakan contoh baik dari âNegara Kebangsaan yang Berkesetaraanâ. Melihat pada catatan sejarah, terlihat bahwa negara bangsa yang terbentuk dari unsur yang berbeda-beda mempunyai masalah pada awalnya. Utamanya pada kesediaan untuk membangun kesetaraan dan membangun keyakinan bahwa keberhasilan membangun kesetaraan akan membuat bangsa itu menjadi lebih besar. Amerika Serikat, negara kampiun demokrasi, juga mengalami gejolak yang panjang untuk mencapai masyarakat yang berkesetaraan. Di antaranya, harus menempuh perang saudara, dan perjuangan panjang tokoh antidiskriminasi ras kulit hitam Martin Luther King yang terkenal dengan ucapannya: âI have a dream; that one day all American will be threated equalâ. Panjang waktu yang diperlukan oleh bangsa Amerika, untuk sampai pada saat ini, bisa menerima seorang Menlu berkulit hitam, Condolezza Rice. Dalam dimensi keagamaan, John Fitzgerald Kennedy (JFK) adalah Presiden non-Protestan pertama di Amerika setelah hampir 200 tahun usia AS. Keberhasilan JFK yang beragama Katolik yang dipeluk oleh 5% rakyat Amerika menjadi presiden tidak berlangsung dengan smooth. JFK tewas tertembak di Dallas dan hingga kini peristiwa itu masih diliputi misteri. Tetangga kita Filipina juga telah menunjukkan kematangannya sebagai negara yang demokratis. Fidel Ramos yang beragama Protestan, menjadi presiden pada tahun 1992-1998 di negara Filipina yang 81% penduduknya beragama Katolik. Thaksin Sinawatra, keturunan Tionghoa menjadi PM di Thailand, dan memimpin Thailand pulih dari krisis ekonomi. Proses tanpa akhir Secara sporadis terlihat tanda-tanda bahwa kita telah mencapai kemajuan dalam membentuk masyarakat yang menilai warga negara secara setara dan berdasarkan kemampuannya. Di masa lalu Pangab pernah dijabat Jenderal Maraden Panggabean yang beragama Protestan dan Jenderal Benny Moerdani yang beragama Katolik. Saat ini Gubernur Kaltim Suwarna, orang Sunda. Bupati Boyolali periode yang lalu, Hazmi, orang Aceh. Bupati Bekasi sekarang HM Saleh Manaf adalah putra Meulaboh-Aceh yang sebelumnya menjabat Kepala BPN Kabupaten Bekasi. Namun, belum waktunya kita berpuas diri. Konflik horizontal antarsuku masih terjadi di Sampit, antaragama di Ambon dan Poso. Gerakan separatisme juga masih berkembang di Aceh dan Papua. Kita belum selesai membentuk bangsa Indonesia yang merupakan proses tanpa akhir. Konstitusi secara tegas menyatakan bahwa Indonesia adalah negara yang berkesetaraan. Pasal 27 menyatakan: Setiap warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan" adalah rujukan yang harus benar-benar melandasi seluruh produk hukum dan ketentuan moral yang mengikat warga negara. Para pendiri bangsa telah menunjukkan kesediaan berkorban demi terwujudnya sebuah nation state. Ketika bahasa nasional kita dideklarasikan pada 28 Oktober 1928, semua berkorban untuk menerima bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Dalam rapat PPKI, tujuh kata Piagam Jakarta sepakat didrop oleh kelompok Muslim, juga pengorbanan. Dalam membangun masyarakat berkesetaraan, peran elite politik amat dominan. Sungguh luar biasa kesepakatan politik yang dibangun elite Partai Demokrat AS ketika menetapkan untuk mencalonkan JFK. Amat luar biasa ketika Lok Shaba India dengan demokratis memilih seorang Muslim menjadi Presiden India. Pujian juga patut kita berikan pada DPRD Kaltim yang memilih orang Sunda jadi Gubernur di Kaltim. Juga DPRD Boyolali yang memilih orang Aceh jadi bupati di Boyolali. Masalah kebangsaan Indonesia akan tuntas, misalnya manakala seorang kiai yang menjiwai aspirasi rakyat NTT terpilih menjadi gubernur NTT; dan seorang Katolik yang mengabdi di Bali jadi gubernur di Bali; juga kalau di Sulut gubernurnya seorang Buddhis yang amat paham Sulut. Saat ini belum semua warga bangsa ini menerima keragaman sebagai berkah. Saya meyakini bahwa akan datang saatnya di mana orang Indonesia akan dinilai berdasarkan kemampuan dan pengabdiannya pada tanah airnya. Perlu disadari oleh semua pihak bahwa proses demokratisasi yang sedang berlangsung ini memiliki koridor, yaitu untuk menjaga dan melindungi keberlangsungan NKRI, yang menganut ideologi negara Pancasila yang membina keberagaman dan memantapkan kesetaraan. Keberagaman bangsa yang berkesetaraan akan merupakan kekuatan besar bagi kemajuan dan kesejahteraan bangsa dan negara kita. Negara bangsa yang beragam yang tidak berkesetaraan, lebih-lebih yang diskriminatif, akan menghadirkan kehancuran. Siswono Yudo Husodo Ketua Yayasan Pendidikan Universitas Pancasila ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> <font face=arial size=-1><a href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12h9s7oht/M=362329.6886307.7839373.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1123923363/A=2894324/R=0/SIG=11hia266k/*http://www.youthnoise.com/page.php?page_id=1998">1.2 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery</a>.</font> --------------------------------------------------------------------~-> Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
