Haturan baraya,

Nembe teh nampi ieu artikel... punten rada ambay2an.
Ieu mah sakadar bahan bandingkeuneun bae...

KH. Mustofa Bisri:
Fatwa MUI, Refleksi Ketidakpercayaan Diri
15/08/2005

Sebelas fatwa hasil Munas Majelis Ulama Indonesia
(MUI) ke-VII akhir bulan lalu masih mengandung
beberapa problem. Salah satu problem yang luput dari
perhatian MUI sebelum mengeluarkan fatwa adalah soal
dampaknya terhadap masyarakat. Berikut perbinganan
Novriantoni dari Jaringan Islam Liberal (JIl) dengan
pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang,
KH. Mustofa Bisri, Kamis (4/8) lalu.
Sebelas fatwa hasil Munas Majelis Ulama Indonesia
(MUI) ke-VII akhir bulan lalu masih mengandung
beberapa problem. Salah satu problem yang luput dari
perhatian MUI sebelum mengeluarkan fatwa adalah soal
dampaknya terhadap masyarakat. Berikut perbinganan
Novriantoni dari Jaringan Islam Liberal (JIl) dengan
pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang,
KH. Mustofa Bisri, Kamis (4/8) lalu.

NOVRIANTONI: Gus Mus, apa kesan Anda terhadap sebelas
fatwa MUI hasil Munas VII akhir bulan lalu?

KH. MUSTOFA BISRIKH. MUSTOFA BISRI (GUS MUS): Pertama,
kalau tidak ada protes dari orang-orang kota, saya
kira, fatwa MUI itu--seperti yang lalu-lalu—tidak akan
kedengaran di bawah. Karena ada yang protes, sampai
Gus Dur segala yang turun, fatwa itu lalu bergaung.
Sebetulnya kan ini soal biasa saja. Banyak dan sering
sekali MUI membikin fatwa-fatwa yang kontroversial.
Tapi karena sekarang ada tanggapan, jadi terus
bergaung.

NOVRIANTONI: Tapi nampaknya fatwa kali ini perlu
ditanggapi. Sebab doa bersama yang wajar saja,
tiba-tiba diharamkan MUI.

GUS MUS: Memang kebetulan saya mencermati fatwa ini
dari pers, jadi tidak tahu mereka menggunakan dalil
apa. Yang saya baca hanya keputusan-keputusan saja.
Jadi kalau saya menanggapi, ya hanya berdasarkan itu;
berdasarkan keputusan-keputusan yang dimuat di
ketentuan-ketentuan hukum yang mereka keluarkan tanpa
dalil itu. Misalnya soal doa bersama yang tidak
dibolehkan. Apa yang dimaksud doa? Ada yang menyebut
doa itu ibadah. Itu masih bisa dipertanyakan, karena
semua hal yang kita sangkut-pautkan dengan Allah itu
bisa bernilai ibadah. Jadi tidak hanya doa. Pertanyaan
berikutnya untuk MUI: mubâhalah itu termasuk doa atau
tidak?

Mubâhalah adalah memohon. Menurut Tafsir Jalâlain,
mubâhalah itu bukan hanya termasuk doa, tapi tadlarru’
fid du`â atau memohon sungguh-sungguh dalam berdoa.
Nah, kalau bicara soal mubâhalah seperti bisa Anda
baca di Alquran surah Âli `Imrân: 61, Nabi Muhammad
Saw justru disuruh Allah untuk mengajak tokoh-tokoh
Nasrani Najran untuk bermubahalah atau memohon kepada
Allah secara bersama-sama. Kanjeng Nabi mengajak
orang-orangnya, pemuka Nasrani mengajak
orang-orangnya, dan mereka berdoa bersama.

NOVRIANTONI: Tapi bagi MUI itu bid’ah. Padahal seperti
yang Gus Mus juga tahu, Syekh al-Azhar di Mesir juga
biasa berdoa bersama dengan Pope Shenouda.

GUS MUS: Karena itu perlu dipertanyakan dulu;
mubahalah itu doa atau tidak? Kalau itu dianggap doa,
Nabi toh disuruh berdoa bersama orang-orang Nasrani,
sekalipun tidak terlaksana karena tokoh-tokoh Nasrani
waktu itu tidak mau. Jadi, waktu itu Nasrani Najran
lah yang tidak mau berdoa bersama untuk meminta
kebenaran yang sejati kepada Tuhan. Jadi menurut saya,
doa itu bisa ibadah saja, bisa juga permohonan. Kalau
diartikan permohonan, asal permohonannya baik kan
tidak apa-apa, dan itu justru diperintahkan. Jadi
kalau dalilnya seperti yang dikatakan Pak Amidhan,
bahwa orang yang protes fatwa MUI hanya menggunakan
akal, sedangkan MUI menggunakan Alquran dan Sunnah
Rasul, bagaimana keterangannya tentang mubâhalah ini?

NOVRIANTONI: Tapi bagaimana dengan anggapan bahwa
berdoa bersama itu akan mendangkalkan keyakinan atau
mengarah pada sinkretisme agama?

GUS MUS: Justru pemikiran yang demikian itu yang
dangkal. Masak kita hanya begitu saja akan menjadi
dangkal?! Ini nggak bisa. Saya pikir, hampir semua
atau rata-rata fatwa yang keluar ini menunjukkan bahwa
ada semacam ketidakpercayaan diri pada orang-orang
Islam itu.

NOVRIANTONI: Artinya kalau kita kuat iman, tentu doa
bersama tidak jadi soal?

GUS MUS: Tidak jadi persoalan. Dan kita ini tidak
pantas kalau rendah diri, karena kita di sini
mayoritas. Presidennya beragama Islam dan seterusnya.
Itu salah satu contoh fatwa MUI. Yang lain adalah soal
kawin campur. MUI mengatakan bahwa perkawinan
laki-laki muslim dengan wanita ahli kitab adalah haram
dan tidak sah. Sesuai dengan omongan H. Amidhan, fatwa
itu berdasarkan Alquran dan Sunnah. Bagaimana dengan
Alquran surah al-Mâ’idah ayat 5? Di situ jelas-jelas
diperkenankan kawin dengan ahli kitab. Para sahabat
Nabi banyak sekali yang kawin dengan
perempuan-perempuan Nasrani berdasarkan ayat itu.
Bahkan, dalam Tafsîr Ibn Katsîr dikatakan, hanya Ibnu
Abbas saja yang mengatakan bahwa yang boleh dinikahi
itu adalah Nasrani yang tidak memerangi orang Islam.
Selain Ibnu Abbas justru mengatakan tidak apa-apa,
baik yang memerangi atau yang tidak, baik yang dzimmî
atau pun harbî. Jadi semuanya dibolehkan li `umûmil
âyah karena ayat itu bersifat umum. Ayat itu
mengatakan, “Al-yauma uhilla lakum al-thayyibât,
watha’âmu alladzîna ûtûl kitâb hillun lakum,
watha’amukum hillun lahum, wal muhshanâtu min
al-mu’minat, wal muhsanâtu min alladzîna ûtul kitâb
min qablikum (pada hari ini dihalalkan untukmu semua
yang baik. Makanan orang-orang ahli kitab halal
bagimu, dan makanan kalian dihalalkan untuk mereka.
(Begitu juga) dihalalkan bagi kalian untuk menikahi
perempuan-perempuan baik dari kalangan beriman dan
para ahli kitab sebelum kamu, Red).

NOVRIANTONI: Tapi biasanya selalu ditegaskan bahwa
sekarang ini tidak ada ahli kitab lagi.

GUS MUS: Pertanyaannya, apakah ahli kitab yang dulu
lain dengan ahli kitab yang ada sekarang? Ahli kitab
pada zaman Rasulullah itu sudah sering kali diajak
berdebat oleh kanjeng Rasul karena pada waktu itu
sudah seperti sekarang juga. Dari dulu sudah ada
Trinitas segala macam. Ahli kitab dulu itu sama saja
dengan sekarang. Jadi sejak masa kanjeng Nabi,
orang-orang Nasrani itu sudah begini juga, jadi tidak
sekarang saja begini.

NOVRIANTONI: Tapi UU Perkawinan sama sekali tidak
mengakomodasi keragaman pandangan itu dan langsung
mengharamkan secara pukul rata, sehingga perkawinan
lintas agama tidak bisa dicatat dalam catatan sipil.

GUS MUS: Ya. Ini karena MUI yang menjadi rujukan
pemerintah, kan? Ada hal-hal yang bersifat keagamaan,
lalu MUI memfatwakan seperti itu. Karena itu, akan
terjadi seperti itulah. Sebetulnya, kalau kita mau
netral, ya ikut Qur’an sajalah. Kalau diakal-akali,
sama saja dengan apa yang dikatakan Pak Amidhan
tentang mereka yang memprotes fatwa mereka;
menggunakan akal saja. Jadi, kalau mereka mengeluarkan
fatwa menggunakan akal, kenapa orang lain tidak boleh
menggunakan akal? Alquran dan Sunnah itu, tanpa akal,
sama sekali tidak bisa.

NOVRIANTONI: Bagaimana pandangan Gus Mus tentang
haramnya pluralisme, liberalisme, dan sekuralisme
agama?

GUS MUS: Paham itu kan gagasan (ide), dan isme itu
adalah pemikiran. Saya kira, menghukumi pemikiran, di
samping tidak lazim, juga sia-sia. Itu sama saja
dengan melarang orang berpikir. Mestinya, pemikiran
harus dilawan dengan pemikiran juga, kecuali bila
pemikiran itu diejawantahkan dalam tindakan yang
merusak dan merugikan orang banyak. Kalau sudah
demikian, yang berwenang mengambil tindakan adalah
pemerintah. Jadi kalau pemikirannya sendiri,
gagasan-gagasan, tidak bisa diharamkan. Kalau sampean
punya gagasan akan menzinahi bintang film, ia baru
haram kalau Anda laksanakan. Kalau masih gagasan tidak
apa-apa. Saya kira, tidak ada gagasan-gagasan yang
lebih buruk dari gagasan orang-orang munafik. Orang
munafik itu, gagasannya jahat sekali tentang Islam.
Tapi pada waktu itu (di masa Nabi), mereka dibiarkan
saja. Kalau masih gagasan, mereka tidak diapa-apakan.

Jadi sebatas berpikir saja tidak apa, asal tidak
diejawantahkan dalam segala tindakan yang merusak dan
merugikan orang banyak. Karena kita harus tahu bahwa
agama ini sebetulnya bukan untuk Allah, tapi untuk
kita, untuk manusia. Tujuan agama tak lain bagaimana
manusia hidup baik di dunia dan di akhirat. Itu saja.
Kadang-kadang kita menganggap bahwa, (agama) ini
kepentingan Tuhan. Sebenarnya Tuhan itu tidak perlu
apa-apa. Kalau 5 miliar orang di dunia ini mbambung
semua, tidak salat semua, itu tidak apa-apa. Tuhan
tidak rugi sama sekali.

NOVRIANTONI: Mestinya begitulah pemahaman tauhid yang
kokoh, ya Gus?

GUS MUS: Ya. Kadang-kadang saking semangatnya,
orang-orang merasa seolah-olah mendapat mandat dari
Allah. Ya maklum saja, orang yang hidup di akhir zaman
ini kan sudah jauh dengan kanjeng Rasul. Karena itu,
kadang-kadang berperilaku lucu-lucu.

NOVRIANTONI: Gus Mus, apakah sebuah aliran yang
dianggap sesat tetap boleh hidup di sebuah negara
mayoritas muslim, meskipun tidak melakukan
tindak-tindak pengrusakan?

GUS MUS: Ya. Di Timur Tengah itu ada aliran bernama
Darusiyah atau Druz yang juga dianggap sesat oleh
al-Azhar. Tapi ya dianggap sesat saja; orang-orang
Islam diberitahu bahwa aliran itu sesat. Itu saja.
Jangan lalu memberitahu pemerintah supaya mereka
di-segala-macamkan. Kalau vonis itu hanya untuk
menjaga umat sendiri, silakan saja.

NOVRIANTONI: Artinya, kita yakin Tuhan-lah yang akan
menghakimi ”kesesatan” mereka nantinya?

GUS MUS: Ya. Vonis sesat itu kan menurut kita. Ya,
boleh saja. Kita memberitahu anak-anak kita bahwa itu
sesat juga boleh. Tapi kalau kita terus melapor ke
bupati bahwa kelompok tertentu sesat, karena itu harus
ditangkap, itu tidak benar. Jadi tidak benarnya di
situ. Bagi saya, yang menyerbu tempat Ahmadiyah di
Parung Bogor kemarin juga sesat sekali. Itu bentuk
kezaliman yang nyata. Itu tidak ada dalilnya sama
sekali.

NOVRIANTONI: Bagaimana dengan anggapan mereka
melecehkan agama?

GUS MUS: Tidak bisa. Kalau orang sesat kita sikat,
maka kita akan sesat semua. Kenapa kita tidak sesat?
Karena Rasulullah itu tidak menyikat dan tidak melibas
orang-orang yang sesat. Dia justru mendekati mereka
bil hikmah dan mau`idhatil hasanah. Kalau ia
berbantahan, maka ia lebih baik dari mereka. Ini
sesuai dengan kaidah wa jâdilhum billatî hiya ahsan
(berbantahan dengan cara yang santun, Red). Sekarang
kita pertanyakan: kapan kita pernah mendakwahi mereka
dengan baik dan dengan hikmah? Kok tahu-tahu
menghancurkan?! Itu tidak bisa dibenarkan.

Bagi saya, pelaksanaan amar ma`rûf nahyul munkar itu
landasannya harus kasih sayang. Kalau tidak ada kasih
sayang, tidak ada yang namanya amar ma`rûf nahyul
munkar. Kalau ada orang yang menjalankan amar ma`rûf
nahyul munkar karena kebencian, itu jelas bohong dan
bodoh sekali. Rasulallah itu ber-amar ma`rûf dengan
giat sekali, sampai dijuluki al-âmirun nâhî oleh Imam
al-Bûshiri. Kenapa? Karena beliau sangat sayang pada
sesama. Kalau Anda melihat saya akan terjerumus ke
dalam jurang, lalu Anda menarik tangan saya, itu bukan
karena sampean mau menyakiti saya, tapi karena sayang
sama saya. Tapi kalau Anda tidak kenal saya, tidak ada
urusan apa-apa, lalu menarik-narik saya, saya kan jadi
bingung.

NOVRIANTONI: Gus Mus, bisa diberi gambaran bagaimana
Nabi menerjemahkan konsep non-paksaan dalam agama atau
lâ ikrâha fid dîn ketika berhadapan dengan orang-orang
munafik atau pun kafir?

GUS MUS: Nabi Muhammad itu adalah manusia yang paling
manusia. Dia tahu manusia dan sangat memanusiakan
manusia. Karena beliau manusia, dia tahu manusia.
Setiap manusia itu harus didekati secara manusiawi,
tidak secara macani atau singawi. Rasulullah tahu
bahwa kehidupan manusia selalu dalam proses. Orang
yang baik, sudah jadi kiai, ulama besar, bersorban
tinggi, bisa saja tiba-tiba menjadi preman. Orang yang
asalnya preman atau bajingan, lalu menjadi baik, juga
banyak. Semua orang berada dalam proses. Dulu pada
permulaan masa dakwahnya, kanjeng Rasul senantiasa
disakiti oleh mereka yang sulit diperbaiki. Lalu ia
ditawari malaikat untuk menghukum mereka yang
menyakitinya. Tapi ajaibnya, Rasulullah justru meminta
supaya kaumnya diberi petunjuk. Bagi Nabi, mereka
bersikap demikian karena tidak tahu. Sikap untuk yang
tidak tahu bukan justru dimarahi, tapi mesti
diberitahu. Orang lupa cukup diingatkan, bukan
ditempeleng agar mereka tidak gegar otak.

Ayat lâ ikrâh fid dîn qad tabayyanar rusydu minal
ghayyi sudah jelas. Sesuatu yang benar sudah jelas,
kenapa harus dipaksa-paksa? Makanya, fa man syâ’a fal
yu`min wa man syâ’a fal yakfur (barangsiapa yang
hendak beriman berimanlah dan barangsiapa yang hendak
kufur kufurlah, Red). Anda tahu, karena kebijaksanaan
Rasulullah, `Amr bin ‘Ash putra ‘Ash bin Wail (musuh
bebuyutan Rasulullah) justru menjadi pahlawan Islam.
Khalid bin Walid, anaknya Walid bin Mughirah, juga
masuk Islam. Ikrimah, anaknya Abu Jahal juga masuk
Islam. Masih banyak contoh lainnya. Itu karena apa?
Karena Kanjeng Rasul sangat bijaksana. Seandainya
Kanjeng Rasul kasar, kejam, dan ganas, orang-orang itu
tidak akan mendekati Rasul dan Islam. Islam tidak akan
berkembang seperti ini. Ini sesuai dengan firman
Allah: “Lau kunta fadhzan ghalîzhal qalbi lanfadldlû
min haulik”. Ayat ini yang seharusnya kita pegang.
Kita ini belum dakwah apa-apa sudah marah-marah. Kita
mestinya dakwah dulu. Kapan kita dakwah? Kita hanya
mendakwahi orang-orang sendiri, mendengarkan omongan
sendiri, mengkhotbahi diri sendiri, dan tidak pernah
bicara pada orang lain.

Kalau orang-orang yang dianggap sesat itu kita sikat,
pertanyaannya kemana fungsi ayat ud’û ilâ sabîli
rabbika? Dia akan muspra atau mubazir. Apakah kita
akan memusprakan atau membiarkan ayat ini tidak
berfungsi? Beranikah kita mengatakan bahwa ayat ini
tidak ada? Ajaklah ke jalan Tuhan-mu atau ke jalan
yang benar. Kalau orang yang sedang tidak berada di
jalan yang benar disikat, mereka tidak akan pernah
sampai ke tempat yang benar selamanya.

NOVRIANTONI: MUI selalu merujuk Pakistan dan Arab
Saudi dalam menyikapi Ahmadiyah. Bagi mereka, Inggris
wajar saja memberi hak hidup bagi Ahmadiyah karena
mereka negara sekuler. Tanggapan Gus Mus?

GUS MUS: Saya kira, karena kasus serangan atas
Ahmadiyah di Bogor itu, MUI lalu membikin fatwa
(menegaskan fatwa lama, Red) yang mewajibkan
pemerintah untuk mengantisipasi dan menanganinya.
Jalan pikiran MUI mungkin mengatakan: MUI hanya
berfatwa; dampak fatwa itu bukan urusan MUI. Karena
itu, pemerintah lah yang harus mengantisipasi dan
menanganinya. Dalam putusan MUI, pemerintah wajib
melarang segala macam. Itu jadi lucu.

MUI seakan-akan ingin menegaskan, “Saya cuma membahas
dan sudah menyampaikan.” Kasus itu lalu dianggap
urusan pemerintah dengan masyarakatnya. Tapi mestinya,
ketika menjadi mufti, segala sesuatu itu harus sudah
diperhitungkan. Bahkan, pengamalan amar ma`rûf nahyul
munkar itu berjenjang-jenjang. Itu yang tidak pernah
diceritakan orang-orang yang selalu menganjurkannya.
Pertama, amar ma’rûf itu harus dilaksanakan secara
makruf pula. Kedua, ia berjenjang-jenjang sambil
melihat akibatnya; apakah ia akan berakibat lebih
buruk atau tidak? Karena itu, kita diberi jalan oleh
Nabi lewat tiga cara; bil yadd, bil lisân, bil qalb.

NOVRIANTONI: Bil yad itu maknanya seperti apa, Gus?

GUS MUS: Bil yad itu dengan tangan atau dengan
kekuasaan. Lalu dengan lisan dan dengan hati. Nah,
semua itu harus dipertimbangkan. Kalau dilakukan
dengan tangan, apakah akan lebih baik atau lebih
buruk? Kalau akan lebih buruk, maka kita ambil opsi
bil lisân. Tapi apakah bil lisân juga tidak akan
berakibat lebih buruk seperti sekarang ini? Saya tidak
mengerti jalan pikiran orang-orang yang menyerbu
Ahmadiyah; apakah itu amar ma`rûf atau apa. Kalau
disebut amar ma`rûf, dampaknya jelas lebih buruk.
Citra Islam terus buruk. George W Bush akan selalu
punya dalil; “O, begitulah Islam!” Kalau kita kasar
dan keras, mereka akan selalu punya dalil untuk
membenarkan sikapnya. Padahal, kita tidak boleh
membenarkan orang-orang yang membenci kita dengan
kelakuan kita sendiri.

Makanya Rasulullah melarang orang Islam untuk
mencaci-maki orang kafir, karena dampaknya mereka akan
mencaci Tuhan kita. Ini kan harus dipertimbangkan
juga. Saya menduga, mungkin kiai yang betul-betul kiai
di MUI tidak serius membicarakan masalah ini sampai ke
dampak-dampaknya. Urusannya diserahkan saja pada yang
muda-muda, yang masih enerjik, yang biasanya semangat
saja. Yang bikin susah selama ini, semangat
keberagamaan kita tidak imbang dengan pemahaman atas
agama sendiri. Ini yang sering menyulitkan. []

Baktos,

Rahman, Wassenaar/NL

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hoonpfc/M=323294.6903899.7846637.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1124201639/A=2896130/R=0/SIG=11llkm9tk/*http://www.donorschoose.org/index.php?lc=yahooemail";>Give
 underprivileged students the materials they need to learn. Bring education to 
life by funding a specific classroom project  
</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke