Bersyukur dan Menggugat Diri Oleh: Jakob Oetama
Bersyukur! Ya, bersyukur. Itulah luapan hati yang pertama ketika bersama memperingati 60 tahun Indonesia Merdeka pada tanggal 17 Agustus 2005. Indonesia Merdeka masih tegak berdiri dari Sabang sampai Merauke. Rasa syukur berkelanjutan, apalagi ketika kita melihat lebih jauh, sosok Indonesia Merdeka itu pada usianya yang ke-60. Rasa syukur dilanjutkan dengan bertanya diri, menggugat diri, serta membangun kemauan untuk bangkit mewujudkan tujuan Indonesia Merdeka, yakni membangun perikehidupan seluruh warga yang sejahtera, makmur, adil, damai, bersilaturahmi. Kita rasakan bersama suatu urgensi, bangkit, bangkit, bangun, bangun. Lihat kiri kanan, kenyataan dan gambaran apa yang kita peroleh? Serba penderitaan, kekurangan, dan percobaan hidup bagi kebanyakan warga. Serba ketinggalan, negara berpenduduk 220 juta ini dari negara-negara tetangganya. Ketinggalan hampir di segala bidang kehidupan. Perikehidupan warga sehari-hari dilaporkan silih berganti dengan busung lapar, nutrisi buruk, warga miskin tak sanggup berobat ke rumah sakit, demam berdarah. Kehidupan warga keseluruhan digoyang oleh gonjang-ganjingnya kenaikan harga minyak di dunia yang langsung menimpa perikehidupan warga di Indonesia. Yang mendasar dan elementer belum berhasil dipenuhi, seperti biaya pendidikan dan kesehatan. Lapangan kerja, jumlah orang miskin yang mencapai 54 juta orang. Ada semacam perasaan, tak habis-habisnya malang merundung, yang satu belum usai sudah disusul yang lain. Menurut kecenderungannya yang naluriah, ketika suatu bangsa diterpa percobaan berkepanjangan, bangkitlah serentak bangsa itu. Ada hasrat bangkit bersama, menghadapi tantangan bersama. Naluri itu mestinya hadir pula di tengah kita. Namun, kondisi kita kebetulan sedang dalam transisi yang paradoksal, jika bukan serba dilematis. Hasrat kebangkitan kita bersama dewasa ini tersalurkan dalam keberagaman pandangan dan sikap demokrasi, bahkan demokrasi dalam transisi. Artinya demokrasi yang masih mencari bentuk dan sosoknya, komitmen serta kultur politiknya. Bukan kebersamaan yang lebih berperan, tetapi perbedaan. Kebersamaan dalam persaingan, bahkan persaingan yang belum sepenuhnya fair, sehingga disertai konflik dan kekerasan. Lihatlah pilkada. Ditengarai hadirnya persoalan yang lebih mendasar. Menjelang 60 tahun Indonesia Merdeka, beberapa tokoh senior menyatakan keprihatinan perihal masalah yang mendasar. Yakni seberapa jauh, amandemen-amandemen UUD 1945 yang notabene dilaksanakan oleh lembaga yang konstitusional kompeten, yakni MPR, secara utuh, penuh historis orisinal tetap mengekspresikan jiwa dan makna UUD asli 1945. Berulang kali dan pada forum-forum yang tulus komitmennya, pertanyaan dan kerisauan itu kita dengar. Memang umumnya keprihatinan disuarakan oleh para tokoh dan sesepuh perjuangan kemerdekaan. Namun sekaligus harus dikatakan, motivasi mereka tulus. Kita kemukakan hal-hal itu, sekali lagi, karena kecuali kita syukuri bersama, 60 tahun Indonesia Merdeka, juga menggugat serba kondisi kita dewasa ini. Perubahan Juga kehidupan kita sebagai bangsa adalah interaksi dengan lingkungan. Lingkungan dari dalam dan lingkungan dari luar. Perkembangan dan perubahan dari dalam serta perkembangan dan perubahan dari luar. Perkembangan dan perubahan itulah lingkungan dan dunia, di mana setiap bangsa dan negara kini berada. Suka atau tidak suka. Luar biasa aktualitas dan pengaruh revolusi teknologi dalam bidang informasi. Dicirikan sebagai global, serentak, dan interaktif. Teror bom di London, pandangan dua anggota DPR Amerika Serikat tentang Papua, naiknya harga BBM di pasar dunia, wabah flu burung? Sekali lagi, global, serentak, dan interaktif. Tidak ada lagi negara dan bangsa yang bebas dari globalisasi informasi. Globalisasi informasi membawa serta atau berlangsung dalam serba interaksi dengan perubahan-perubahan lain. Dalam konteks itu juga, ilmuwan sosial ekonomi seperti Francis Fukuyuma berkesimpulan, justru tentang the end of history. Berakhirnya sejarah oleh periode berlakunya demokrasi liberal dan ekonomi pasar. Dari jalan pikirannya, masuk akal. Dari sudut pandang yang lain, fase yang ia katakan mengakhiri sejarah justru membangkitkan dan mengundang pengulangan sejarah. Sebab, pertanyaan mendasar dan relatif final bukanlah berlakunya sistem sosial politik dan sosial ekonomi ini atau itu, melainkan seberapa jauh sistem-sistem kemasyarakatan dalam beragam bidang secara komprehensif itu sanggup menyelenggarakan dan mewujudkan perikehidupan seluruh warga manusia yang adil, makmur, damai, sejahtera, serba penuh beragam dimensi kemanusiaannya sesuai dengan kodrat dan panggilannya. Namun, zaman berkembang dan berubah adalah kenyataan yang tak dapat diingkari. Bahwa globalisasi dalam aneka bidang kehidupan melanda, juga merupakan realitas yang sehari-hari menimpa perikehidupan kita semua di mana pun. Kita belum penuh memenuhi karya ilmu, teknologi, industri, perdagangan yang memadai di dalam negeri, keburu tertimpa dan dibanjiri oleh arus semua hasil fase-fase kemajuan itu. Lebih dalam hasil dan pengaruhnya yang menghadirkan dan meluaskan pola hidup serba konsumerisme. Mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus cerdas dan bijak belajar dari gelombang perkembangan dan perubahan yang serba berdimensi global itu. Sedang kita saksikan bagaimana Myanmar dipaksa, termasuk oleh sesama negara ASEAN, untuk menerima perubahan zaman itu. Kita saksikan pula, kisah sukses pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di China karena pemerintah dan bangsanya cerdas dan bijak menangkap peluang perubahan. Pemahaman kritis Dari arus dan gelombang perubahan besar, kita ikut dibangkitkan kesadaran dan pemahamannya. Bukan dengan sikap sekadar itu, apalagi membeo, tetapi karena kesadaran dan pemahaman secara kritis konstruktif. Karena arus dan semangat perubahan itu kita dialogkan dengan masalah dan perkembangan yang kita hadapi di Indonesia. Pertama, setelah 60 tahun Indonesia Merdeka dan selama 60 tahun itu mengalami perkembangan dan perubahan pasang surut dalam beragam bidang kehidupan, seberapa jauh kita masih mengenal Indonesia. Pilkada berekses lokalisme yang dalam pengalamannya yang pertama lebih disertai kompetisi yang tidak fair, politik uang dan serba kekerasan. Pola itu karena pengalaman pertama atau karena berbagai hal yang lebih bersifat pola yang akan selalu hadir. Pilkada adalah interpretasi terhadap otonomi dalam bidang politik. Perlu diikuti secara kritis konstruktif. Bagaimana otonomi? Suatu perkembangan yang tepat, bijak, cerdas. Negeri seluas Indonesia dengan keanekamacaman suku bangsa, daerah, kebudayaan, komunitas, Indonesia yang berbhinneka tunggal ika, tepatlah menganut faham dan sistem otonomi. Sampai tahun 1945, pergerakan Indonesia Merdeka dari bawah, dari daerah, tentu saja dalam interaksi dengan pusat-pusat pergerakan di Jakarta dan tempat-tempat lain. Untuk mengerem gerakan sentrifugal, separatisme, dan daerahisme, kecenderungan sejak Indonesia Merdeka adalah sentripetal, serba ke pusat dan serba dari pusat. Sampailah tercapai pemahaman dan kesepakatan otonomi. Kembali dari bawah, dari daerah, namun dalam interaksi dengan pusat, dan dalam kerangka negara kesatuan yang berideologi Pancasila. Suatu ideologi yang mencerminkan kearifan para bapak pendiri bangsa dan rakyat Indonesia. Ideologi yang berketuhanan, berperikemanusiaan, berkeadilan sosial dan inklusif, tempat bagi keragaman hidup dalam interaksi dan kebersamaan yang konstruktif. Ideologi terbuka bagi makna upaya pergulatan mewujudkan kesejahteraan bersama bagi seluruh warga Indonesia dan warga dunia. Lewat otonomi, energi dan dinamika warga dan masyarakat ditampung dari bawah, dari lokalitas, dalam interaksi dan kebersamaan dengan sesama warga dalam bingkai negara kesatuan. Tepat pula waktunya, lewat otonomi, mengenal dan menemukan kembali Indonesia. Indonesia dalam peta, Indonesia dalam Bhinneka Tunggal Ika, Indonesia dalam kenyataan. Kenyataan peta, pulau, penduduk, alam keindahan, sumber kekayaan darat, laut dan udara, kenyataan perikehidupan warga dan rakyat dalam beragam ekspresi, karya, seni, kehidupan komunitas, peninggalan sejarah. Mengenal dan menemukan kembali Indonesia dalam konteks dialog dan kerja sama dengan bangsa-bangsa lain. Warisan, kekayaan, dan kebijakan lokal untuk sekaligus memperkaya kebijakan dan sosok kita sebagai bangsa dan negara. Peduli dan cinta lingkungan hidup digerakkan dan dilaksanakan pula dalam kerangka itu. Mengenal, memelihara, mencintai Tanah Air beserta warga, seni, nilai, komunitas serta lingkungan alamnya. Pariwisata memperoleh kaitan, referensi, serta pertimbangan yang lebih kaya dan komprehensif. Pariwisata domestik maupun pariwisata antarbangsa. Sekaligus dicermati dan dipelihara peninggalan seni budaya, adat, warisan masa lalu. Dalam zaman serba teknologi, makna warisan dan peninggalan masa lampau itu semakin dihargakan. Sikap proaktif Globalisasi membangkitkan kesadaran dan pemahaman yang lebih kaya dan konstruktif. Niscaya tetap harus kita kecam dan kita hindarkan pandangan, doktrin, dan praktik yang semangat dan hasilnya adalah exploitation de lhomme par lhomme, eksploitasi manusia oleh sesamanya. Sikap terhadap berbagai aliran, doktrin dan praktik eksploitasi, kita pegang dan kita jabarkan sesuai dengan perkembangan agar efektif. Sementara itu, bangsa-bangsa yang ketinggalan belajar mengambil pengalaman. Kecuali bersikap kritis terhadap aliran dan dominasi politik, sosial ekonomi dan sosial budaya dari luar, juga menumbuhkan sikap kritis dan orientasi ke dalam. Harus diambil pula secara serentak sikap proaktif ke dalam. Bukan saja secara kritis korektif menyoroti pengaruh dan kekuatan dari luar, tetapi juga melakukan introspeksi dan kritik diri. Belajar dari negara-negara tetangga, termasuk China, Malaysia, Vietnam, dan juga dari negara-negara Amerika Latin, kita menggugat sumber dan halangan kemajuan adalah orientasi nilai dan sikap masyarakat bangsa sendiri. Seperti dulu oleh Max Weber disoroti hal-hal yang menyertai perkembangan dan kemajuan ekonomi di masa reformasi Protestantisme, diangkat dan dipelajari lagi beragam latar belakang sikap dan nilai yang ikut menyebabkan maju, mundur, atau stagnannya perkembangan ekonomi suatu bangsa. Kiranya, Indonesia juga tidak bisa mengalpakan fenomena yang tercakup dalam ungkapan culture matters, sikap dan orientasi nilai setiap bangsa dan negara berperanan dalam membuat bangsa itu maju atau terus ketinggalan. Di antara sikap dan nilai-nilai itu ialah orientasi ke masa depan, menghargai waktu dan disiplin, bekerja keras, hidup terkendali dan pandai mengelola keuangan, menempatkan dan mengupayakan pendidikan, menghargai prestasi, taat hukum, membangun saling kepercayaan, mengembangkan pemikiran yang rasional. Bisa diperkaya dari pengalaman dan terutama pengalaman kita apa lagi orientasi nilai dan sikap yang relevan bagi masyarakat bangsa kita untuk dikembangkan. Ekonomi pasar Dari perkembangan global, ada satu panggung lagi yang minta perhatian kita. Reformasi di negeri kita sejak tahun 1998 memusatkan perhatian ke dua panggung. Panggung negara dengan gerakan reformasi prodemokrasi, hak-hak asasi dan martabat manusia. Panggung kedua, panggung masyarakat madani. Membangun dan mengaktualkan masyarakat warga bagi perikehidupan publik. Perhatian terhadap panggung negara dan gerakan reformasinya menggebu dan membawa hasil, terutama berupa pemilihan presiden dan wakil presiden secara langsung. Berhasil menempatkan DPR, DPD, dan lembaga-lembaga lain dalam posisi dan peran yang sesuai dengan undang-undang, peran serta perilaku masing-masing lembaga. Kehidupan partai politik sebagai pilar demokrasi marak dan menggebu. Meskipun disertai fenomena perpecahan intern serta kultur kekuasaan yang belum melayani, tetapi masih melanjutkan orientasi dilayani. Panggung masyarakat madani berkembang lewat jaringan lembaga swadaya masyarakat, beragam pergerakan serta aktivitas dan kontribusi pergerakan-pergerakan masyarakat seperti beragam organisasi dan gerakan keagamaan. Upaya menjadikan rakyat sebagai warga masih harus dilanjutkan. Ada satu panggung lagi, yang kurang disentuh dan disadari kehadirannya, yakni panggung ekonomi pasar. Padahal, posisi dan peran panggung itu juga menentukan kemajuan. Hal itu sedang menjadi bahan pembicaraan serius oleh berbagai pihak, yakni panggung ekonomi pasar seperti yang dipraktikkan di Republik Rakyat China. Panggung dan kaitannya dengan para pelaku serta jaringannya tampak semakin besar perannya untuk membawa kebangkitan dan kemajuan ekonomi. Perkembangan China dan India dicatat sebagai fenomena karena begitu mengesankan. Seperti halnya panggung negara dan panggung masyarakat madani, panggung ekonomi pasar pun membawa beragam permasalahan. Tidak kalah rumit dan peliknya. Ekonomi pasar mudah mengundang asosiasi dengan faham kapitalisme dan faham liberal yang dalam pemikiran kita telah menggumpal sebagai stereotip yang negatif. Secara sederhana, tidaklah masuk akal, kiranya, manakala China, India, dan lain-lain menempatkan panggung ekonomi pasar yang sekadar kapitalis dan liberal. Mau tidak mau falsafah dan orientasi ideologi negara-negara itu berperanan memengaruhi sosok dan orientasi pasar yang dibangunnya. Hal serupa berlaku di Indonesia. Dari pengalaman negara-negara Eropa pun, orang belajar, hadir, dan berperannya panggung ekonomi pasar yang mengacu ke kesejahteraan rakyat banyak, sebut saja ekonomi pasar sosial. Tidak begitu saja hitam putih. Disesuaikan dengan orientasi dan falsafah setiap negara, namun kita pun belajar akan hadirnya satu persyaratan, yakni bahwa segala sesuatu untuk meminjam istilah Presiden Peru haruslah visibel. Di Indonesia panggung ekonomi pasar juga hadir. Kehadiran dan kinerjanya hendaknya berpijak pada prinsip good corporate governance, yang memiliki tanggung jawab sosial dan lingkungan. Jaringan dan pelakunya tampak, para pengusaha kecil, menengah besar sampai kegiatan koperasi. Kegiatan koperasi oleh pelopor dan pendirinya, Bung Hatta, senantiasa diingatkan, jika akan berhasil, harus dipahami dan dipraktikkan bahwa gerakan koperasi adalah kegiatan ekonomi. Perilaku dan praktik ekonomi berikut profesionalitas dan kultur yang diperlukan, tetapi tujuannya berdimensi kesejahteraan bersama. Kehadiran panggung ekonomi pasar di Indonesia diperlukan untuk mengentakkan pemahaman baru, bahwa pelaku bisnis bukan lagi instrumen atau alat seperti pemahaman sejauh ini. Alat, ganti memperalat dan muncullah kolusi serta praktik bisnis yang tidak sehat dan tidak berorientasi kepada kesejahteraan bersama. Dalam konteks reformasi yang berlaku untuk panggung negara dan panggung masyarakat madani, panggung ekonomi pasar adalah kegiatan pelaku bisnis yang otonom dalam profesinya, tetapi otonomi yang berorientasi kepada konstitusi, berarti kepada kesejahteraan bersama. Pelaku bisnis bukan instrumen bagi pemegang kekuasaan dan birokrasi, tetapi pelaku dalam panggung ekonomi pasar serta mitra dalam usaha memajukan kemajuan ekonomi bangsa. Perlindungannya hukum, bukan afinitas dan kolusi. Berulang kali ditegaskan, termasuk oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, diskriminasi no, solidaritas yes. Tidak lagi ada diskriminasi. Yang ada solidaritas, setia kawan. Diciptakan iklim, orientasi dan semangat bersama, kesamaan dan kebersamaan. Pengusaha dari latar belakang dan keturunan apa pun ditanggalkan konotasi serta praktik diskriminasinya. Diganti dengan solidaritas, peran yang semestinya, kontribusi bagi negara dan setia kawan sosial bagi kemajuan dan kemakmuran bersama. Dengan kerangka baru dan dengan semangat dan orientasi baru itu, sudah saatnya panggung ekonomi pasar juga diperhatikan serta diberi tempat dan peran yang dipercaya para pelakunya. Negara lain, termasuk Malaysia, sudah melaksanakannya dan membawa hasil. Kita jangan membiarkan diri ketinggalan. Semangat proklamasi Diperlukan konfigurasi yang juga diperbarui arah dan semangatnya untuk bangkit serta menangkap dan menghidupkan lagi semangat proklamasi 1945. Sampai Indonesia Merdeka dan sampai tahun 1955, kekuasaan dan elite kekuasaan, pejabat negara, birokrat, dan pimpinan partai, berhasil melakukan reformasi terhadap kekuasaan. Reformasi kekuasaan dalam sistem dan kultur feodal adalah privilese dan untuk dilayani dengan segala ikutannya, terutama korupsi dan KKN. Kekuasaan dalam sistem republik dan demokrasi bukan lagi privilese untuk dilayani, tetapi obligasi yang sukarela diterima, yakni obligasi untuk melayani. Maka tertutuplah ruang untuk KKN. Demoralisasi kultur kekuasaan itulah yang belum berhasil kita reformasi secara efektif sehingga pengaruhnya juga mempunyai efek demonstratif. Pemerintah dewasa ini serius dalam menyikapi dan menangani masalah ini. Kita tunjang seraya kita berikan masukan yang kritis konstruktif. Persoalannya tidak mudah, tidak sederhana. Namun, inilah termasuk esensi dan substansi reformasi. Kita dukung kemauan dan langkah semua pihak, termasuk pemerintah, untuk melaksanakan rekonsiliasi. Sangat diperlukan dan dibandingkan dengan misalnya Afrika Selatan, kita ketinggalan. Kita maju mundur, kurang menentu, dan setiap kali terperosok dalam perpolitikan. Padahal rekonsiliasi memerlukan kebajikan dan sikap kenegarawanan. Berbagai lembaga untuk rekonsiliasi telah dibangun. Kita berpendapat, lembaga-lembaga itu diperlukan, namun suatu usaha rekonsiliasi rupanya memerlukan kepemimpinan. Kepemimpinan itu pada presiden, dibantu para tokoh masyarakat. Kekuatan, energi, dan motivasi bangsa Indonesia dari semua lapisan diperlukan untuk kebangkitan kita bersama. Komitmen masih ada. Energi bisa disulut kembali. Kita ketinggalan dalam banyak hal, bahkan dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Hari-hari menjelang 60 tahun Indonesia Merdeka, lagi-lagi, terdengar vokal dan merata, keluh kesah. Inilah momentum untuk bangkit bersama. Kita bisa. Luar biasa warisan ideologi dan pandangan hidup kenegaraan yang ditinggalkan oleh para bapak pendiri bangsa. Luar biasa kekayaan dan kenyataan komunitas bangsa Indonesia yang bermasyarakat Bhinneka Tunggal Ika. Hutan terbakar, hutan gundul, kekayaan laut diambil orang lain. Namun, kekayaan dan sumber alam Indonesia masih memadai. Anak-anak bangsa menunjukkan kelebihannya dalam berbagai bidang ilmu. Bangsa Indonesia memiliki kemampuan. Yang harus kita ciptakan bersama, iklim, suasananya, momentum. Momentum itulah yang marilah kita bangkitkan dari peringatan dan refleksi 60 tahun Indonesia Merdeka. Penuh syukur, disertai refleksi mawas diri, koreksi diri, rekonsiliasi dan bangkit bersama. Demokrasi, ya demokrasi. Kebebasan dan kesetaraan yang mau dan mampu menggalang perbedaan dan sikap saling mengingatkan, juga mau dan mampu menggalang kebersamaan. Perbedaan yang melangkah maju, bukan sekadar asyik berjalan di tempat. Bekerja di samping bicara. Baktos, Rahman, Wassenaar/NL __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> <font face=arial size=-1><a href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12h767s85/M=362343.6886681.7839642.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1124299633/A=2894350/R=0/SIG=10tj5mr8v/*http://www.globalgiving.com">Make a difference. Find and fund world-changing projects at GlobalGiving</a>.</font> --------------------------------------------------------------------~-> Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
