”Nyadong”

SALAH seorang rekan saya asal Kuningan Jawa Barat,
yang baru pindah tugas sebagai pegawai swasta di
kawasan Bandung, mengeluhkan kondisi Kota maupun
Kabupaten Bandung saat ini, terutama pada siang hari.
Sudah padat lalu lintas, kerap macet, jalanan sering
bau sampah, serta kaum duafa "dadakan" ada di
mana-mana, termasuk di jalan.

"Persoalannya, terhadap kaum duafa dadakan itu bukan
sebatas memberi atau tidak memberi. Tetapi, pantaskah
mereka dikasihani? Mendidikkah apabila mereka
dikasih," kata rekan saya.

Jika di sekitar traffic light, barangkali anak-anak
mengamen atau meminta-minta, pengemis, atau ada pula
yang basa-basi dengan membersihkan kaca mobil yang
berhenti, mungkin biasa. Akan tetapi, bila ada
sekelompok remaja yang berdiri di tengah jalan
menguruk lubang jalan lalu menengadahkan tangan, tentu
saja memprihatinkan.

Semangat mereka untuk menguruk lubang di jalan,
patutlah mendapat pujian. Namun, ketika apa yang telah
mereka perbuat itu ujung-ujungnya ada pamrih, itulah
yang bikin kita sedih. Apa bedanya dengan mereka yang
mangkal di seputar traffic light, toh sama-sama
nyadong (menengadahkan tangan).

Sayang betul dengan niat mereka yang mungkin semula
ikhlas untuk menghindari pengguna jalan celaka, jika
pada akhirnya meminta upah. Pahala barangkali jadi
hilang dengan ditukar uang receh seratus dua ratus
rupiah. Sebuah amal kebajikan yang telanjur
tergadaikan dengan upah murahan.

Memang, mereka tidak sepenuhnya bisa disudutkan begitu
saja. Lantaran, sepertinya ulah mereka pun sah-sah
saja. Pasalnya, orang tua atau aparat di tingkat bawah
sekalipun, tak ada yang menegurnya. Tidak heran bila
aksi serupa terus menjamur di mana-mana.

**

PEMERINTAH daerah atau aparat terkait, baik langsung
maupun tidak langsung, turut mengakomodasi aksi
nyadong di jalan ini. Salah satu contoh yang bisa kita
saksikan hingga sekarang di wilayah Kabupaten Bandung,
misalnya, adalah di jalur jalan antara Soreang -
Pasirjambu. Di sana terdapat badan jalan yang
mengalami longsor. Mungkin sudah hampir satu tahun
kondisi tersebut terus dibiarkan, sehingga membuka
peluang bagi remaja sekitar untuk melakukan nyadong di
jalan.

Keberadaan mereka memang sangat membantu para
pengendara roda empat maupun roda dua yang melintasi
jalur tersebut. Oleh karenanya, andai saja mereka
ikhlas melakukannya, dipastikan pahalanya berlimpah,
apalagi dalam bulan Puasa seperti baru saja lewat.

Benar, mereka sama sekali tidak ada yang memaksa
pengendara untuk memberikan uang receh. Namun,
pertolongan itu telah berkurang nilainya karena
dibarengi dengan tangan menengadah. Tentu orang tidak
akan menganggap lagi sebuah pertolongan, melainkan
hanya sebuah "pekerjaan kecil-kecilan" untuk
mendapatkan imbalan.

Pertanyaannya sekarang, sampai kapan kondisi jalan
tersebut dibiarkan seperti itu? Dampaknya, tentu saja
membiarkan anak-anak muda sekitar untuk melanjutkan
kebiasaannya selalu nyadong. Apalagi pada saat
menjelang dan setelah Lebaran, kendaraan semakin ramai
menuju kawasan wisata Ciwidey. (Akim Garis/"PR")**

Baktos,

Rahman, Wassenaar/NL


        
                
__________________________________ 
Yahoo! Mail - PC Magazine Editors' Choice 2005 
http://mail.yahoo.com


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke