Tekad Kaum Miskin di Tengah Keterpurukan

Belitan utang yang makin mencekik suatu keluarga memaksa seorang gadis
belia berdoa khusuk kepada sang Maha Mendengar, Mula Jadi Na Bolon. Ia
memohon sepenuh hati agar diubah menjadi sebatang aren. Dengan menjadi
aren ia percaya bisa membantu ayahnya yang sangat miskin. Ajaib,
doanya dikabulkan. Gadis itu berubah menjadi sebatang aren. Lalu
ayahnya menderes aren itu. Akhirnya, dari hasil penjualan tuak aren,
semua utang terlunasi dan dapur keluarga pun dapat terus mengepul.
Keluarga itu berhasil keluar dari labirin kemiskinan, namun sang dara
jadi pohon aren selamanya.

Bagi orang terpelajar di zaman ini, kisah terjadinya sebatang aren
dari tubuh gadis belia tentunya dianggap omong kosong (nonsense)
belaka. Dari segi tahapan evolusi, bagaimana mungkin tumbuhan berasal
dari manusia?

Berpegang pada logika ilmiah masa kini, kisah ini tentunya merupakan
pemutarbalikan yang serampangan, tidak bisa dipertanggungjawabkan
secara ilmiah. Namun, mengingat bahwa mitos adalah suatu bentuk
pengungkapan kreatif kenyataan yang sarat pesan dan makna tersembunyi,
tidak perlu alergi jika mitos tidak memuaskan hasrat kita akan
fakta-fakta.

Selalu ada nilai berharga yang dapat dipetik dari sebuah mitos.
lagipula, mitos adalah bagian inheren dari kehidupan manusia. Bahkan
pengetahuan ilmiah pun mempunyai mitos-mitos.

Tulisan ini bermaksud menggali nilai tersembunyi yang ada di balik
mitos asal-usul pohon aren, yang populer dalam masyarakat Batak.

Perspektif sosio-ekonomi

Mitos ini lahir dari sebuah masyarakat pertanian pra-modern. Desa
tradisional, dataran tinggi, terisolir, lahan pertanian yang terbatas,
masyarakat yang mempraktikkan perbudakan (yang dapat menjebloskan
orang yang tidak sanggup membayar utang menjadi budak), sistem
pembagian warisan yang menguntungkan hanya anak laki-laki yang paling
sulung dan bungsu, wilayah yang rawan dilanda kekeringan, itulah
antara lain kondisi-kondisi yang melatarbelakangi mitos ini.

Tinggal di sebuah desa yang demikian, dengan sawah atau ladang yang
sempit, membuat seseorang rentan pada kemiskinan. Apalagi kalau hasil
panen tidak mencukupi, kemiskinan tak dapat dielakkan. Dan apabila
panen gagal, sementara sumber-sumber lain untuk penghidupan tidak ada,
orang terpaksa berutang untuk menyambung nyawa.

Utang yang kian menumpuk di masyarakat seperti ini, pada akhirnya,
dapat menjebloskan seseorang menjadi budak! Perbudakan karena utang
adalah hal yang lazim di masyarakat Batak zaman dahulu. Bahkan hingga
tahun 1940-an gaungnya masih terdengar. Orang Batak berutang pada Sir
Stanford Rafless untuk penghapusan secara legal sistem perbudakan dari
masyarakat Batak. (Si Jabat, WD 1991).

Konon, dalam usaha untuk keluar dari keterpurukan ekonomi, sejumlah
orang mencoba untuk menggali potensi sumber daya alam yang tersedia di
wilayahnya. Lewat trial and error, akhirnya mereka melihat potensi
pohon aren sebagai sumber penghasilan: manisan dapat diperoleh dengan
menderes pangkal tandanan bunga aren. Dengan mengolah manisan itu
diperoleh gula merah dan tuak.

Manisan aren menjadi gula merah setelah direbus cukup lama hingga
tinggal saripatinya. Dari sekitar 100 liter manisan diperoleh
kira-kira 15 kg gula merah. Sedang tuak diperoleh dengan memasukkan
beberapa potongan kecil raru (kulit pohon waru yang kering) ke dalam
manisan. Hasilnya adalah tuak yang terasa pahit dan mengandung alkohol
kurang lebih 10%.

Pemanfaatan potensi aren ini telah memunculkan profesi baru sebagai
paragat (penderes aren). Kegiatan menderes aren, dalam bahasa Batak,
disebut Maragat. Tetapi kegiatan ini berisiko tinggi bagi keselamatan.

Pohon aren biasanya tinggi dan memanjatnya susah. Tak jarang pohon itu
tumbuh di tepi jurang. Kalau orang jatuh kemungkinan mati, atau
setidaknya cacat. Selain itu, lebah sering mendatangi aren yang sedang
dideres untuk ikut mengisap airnya yang manis. Aren juga harus dideres
dua kali sehari, kalau tidak, airnya akan berhenti menetes.

Dengan menjual tuak atau gula merah yang mereka hasilkan, paragat
mendorong perputaran uang di desanya. Para pemilik panen yang cukup
membagi simpanannya kepada para paragat (yang hasil panennya tidak
mencukupi) lewat membeli gula atau tuak. Dana masuk ini menolong
paragat mengatasi kekurangan hasil penennya. Dapur keluarganya tetap
dapat mengepul sekalipun lahan dan panennya sangat terbatas.

Singkatnya, maragat adalah suatu solusi yang ditempuh oleh paragat
untuk menyiasati keterbatasan lahan pertanian di wilayahnya. Solusi
ini kreatif karena menggali dan memanfaatkan potensi sumber daya alam
setempat. Hasilnya memenuhi kebutuhan masyarakat akan gula dan tuak.
Kendati beralkohol, tuak sangat diminati di daerah dingin seperti
Tapanuli. Barangkali salah satu alasannya karena dapat menghangatkan
badan. Bukan hanya kaum pria, sebagian kaum wanita juga gemar meminum
tuak. Ibu yang baru melahirkan dianjurkan minum tuak karena dipercaya
memperlancar ASI.

Sampai di sini, dari perspektif sosio-ekonomis dapat dikatakan bahwa
mitos aren adalah kisah tentang terobosan yang dilakukan kaum miskin
di suatu tempat untuk keluar dari keterpurukan ekonomi dengan jalan
menggali dan memanfaatkan potensi daerahnya.

Perspektif etis

Selain dari perspektif sosio-ekonomi, mitos ini juga dapat dibaca dari
perspektif etis. Ada suatu pesan etis yang disampaikan mitos ini.
Pesan itu dapat disusun dalam rumusan yang padat: Akui dan hargailah
pengorbanan kaum perempuan!

Di masyarakat Batak zaman itu perempuan tidak mempunyai hak atas
warisan orang tua. Dalam perkawinan, istri dianggap dibeli oleh
suaminya dan menjadi miliknya.

Jika sang suami meninggal tanpa mempunyai putra, maka hartanya akan
dikuasai oleh saudaranya laki-laki. Dalam pekerjaan sehari-hari
pekerjaan perempuan (atau istri) jauh lebih banyak dari laki-laki
(over burden). Patriarki yang kental ini tentunya sangat merugikan
kaum perempuan.

Dengan mengisahkan bahwa sang Ayah dapat keluar dari impitan utang dan
kemiskinan karena kerelaan anak gadisnya untuk berubah menjadi
sebatang pohon aren, mitos ini mengakui bahwa kesejahteraan yang
dinikmati suatu keluarga juga adalah hasil dari pengorbanan diri kaum
perempuannya. Para lelaki yang menyombongkan privilege (hak istimewa)
mereka, diingatkan akan dasar semua itu: pengorbanan perempuan!

Jika dibaca dalam konteks negara saat ini, mitos aren ini dapat
memberi inspirasi. Gadis belia menjadi enau agar dapat menjadi sumber
mata pencaharian baru, memberi ilham akan transformasi yang perlu kita
lakukan agar dapat mencapai kehidupan yang sejahtera.

Bila tadinya banyak dari warga negara kita menggantungkan harapan pada
lembaga pemerintah atau swasta untuk memberi pekerjaan, kini saatnya
untuk mengubah pola pikir, menjadi aren (baca: membuka lapangan
pekerjaan sendiri).

Sang ayah di dalam mitos itu mempunyai mata pencaharian baru dengan
menderes aren, tidak terpaku pada lahan pertaniannya yang sempit. Ini
memberi inspirasi agar tidak berkutat pada lapangan kerja sempit yang
disediakan oleh lembaga pemerintah dan swasta.

Daya tawar yang lemah, peluang untuk dimangsa oleh para calo, nasib
yang ditentukan orang lain, adalah beberapa pil pahit yang harus
selalu ditelan jika tidak mengubah pola pikir dan sikap terhadap
pekerjaan! Mitos aren mengajak kita semua untuk mengupayakan terobosan
baru.

Bila sudah mengalami transformasi sikap dan pola pikir terhadap
pekerjaan, kita tentu dapat bekerja dengan bangga sambil menyanyikan
baris lagu yang pernah didendangkan Frank Sinatra, I did it my way.

Saut Pasaribu Mantan Paragat dan Sekarang Penerjemah Buku-buku
Humaniora, Tinggal di Yogyakarta





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke