--- In [email protected], Waluya <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Ieu aya artikel sae deui, soal Azahari, kenging copy-paste tina millis
> tatangga.
> 
> Baktos,
> WALUYA
> 

Rek nambahan ah Kang.

Azahari, Fundamentalisme, dan Terorisme
Oleh Wiwit Rizka Fatkhurrahman
22/11/2005

Ahli kimia yang menyabet gelar doktor di University Of Reading,
Inggris itu, lahir di Malaka, 14 september 1957. Sejak kecil hingga
dewasa, ia dikenal sebagai sosok yang cerdas. Di jalur akademis, dosen
pembimbingnya tak ragu untuk memberinya rekomendasi guna menempuh
program doktoral. Tahun 1990, Azahari meraih gelar Philosophiae Doctor
(Ph.D) dalam soal kajian model statistik dengan predikat cum laude.


Rabu sore (9/11) lalu, Vila Flamboyan No A 1/7, di kota Batu, Malang,
menjadi saksi bagi akhir petualangan Dr. Azahari Husin, buron teroris
nomor wahid di Indonesia, dan dua orang rekannya. Pasca peristiwa itu,
nama Azahari kembali menjadi buah bibir banyak orang. Dari rentetan
perjalanan hidupnya, kita membaca bagaimana Azahari yang mulanya awam
akan gerakan-gerakan militan Islam, justru pada akhir hayatnya akrab
dengan berbagai aksi teror yang menghebohkan.

Ahli kimia yang menyabet gelar doktor di University Of Reading,
Inggris itu, lahir di Malaka, 14 september 1957. Sejak kecil hingga
dewasa, ia dikenal sebagai sosok yang cerdas. Di jalur akademis, dosen
pembimbingnya tak ragu untuk memberinya rekomendasi guna menempuh
program doktoral. Tahun 1990, Azahari meraih gelar Philosophiae Doctor
(Ph.D) dalam soal kajian model statistik dengan predikat cum laude.

Sejak kuliah di Australia, tidak ada anasir radikal yang jadi
minatinya. Dari pergaulannya dengan lingkungan, tidak ada pula
tanda-tanda bahwa ia akan mengikuti dan memelopori gerakan-gerakan
radikal. Ketika mengambil keputusan bersama istrinya untuk menjadi
dosen di Fakultas Teknik dan Ilmu Geoinformasi UTM di Skudal, Johor
Bahru, masyarakat sekitarnya pun menganggap Azahari sebagai sosok
akademisi yang cerdas dan harmonis dalam keluarga.

Titik balik hidup Azahari baru bermula tahun 1991. Dia bergabung dalam
sebuah kelompok pengajian (usroh) di Skudai. Sejak saat itu, jejak
langkahnya seolah berbelok haluan. Tanpa banyak diketahui teman maupun
dosennya, Azahari aktif di pesantren Lukmanul Hakim, yang belakangan
diketahui sebagai tempat Amrozi dan Ali Ghufron alias Muchlas (dua
terpidana mati kasus peledakan bom di Bali I) pernah mengaji.

Entah doktrin dan dogma apa yang merasuki Azahari sehingga jadi begitu
militan dan keras. Dengan berbekal doktrin itu, Azahari menempa
pengalaman di berbagai negara. Dia mengukuhkan dirinya sebagai seorang
militan; otak intelektual pelbagai pengeboman di banyak tempat.

Tahun 1999, ia sudah disebut-sebut sebagai instruktur bom di kamp
gerilyawan Moro Islamic Liberation Front (MILF) di Mindanao, Filipina
Selatan. Setahun kemudian, bersama Hambali alis Encep Nurjaman, ia
mengikuti kursus bom tingkat lanjut di Kandahar, Afganistan. Dan akhir
Januari-Maret 2002, ia dan Noordin Mohammad Top berada di Thailand,
menyusul Ali Imron yang lebih dulu tiba di sana setelah diburu
pemerintah Malaysia atas dugaan keikutsertaan dalam jamaah Mujahidin.

Baru 5 Oktober 2002 Azahari menginjakkan kaki di Indonesia. Dari
situlah bermulanya cerita pengeboman berdarah di tanah air. Azahari
bersama Noordin Moh Top menjadi buah bibir setiap kali terjadi bom di
berbagai tempat di Indonesia; bom Bali I (12 Oktober 2002) yang
menewaskan 202 orang, bom di hotel JW. Marriott (5 Agustus 2005), bom
di depan Kedubes Australia di Jl H. R. Rasuna Said, Jakarta, (9
September 2004), serta terakhir, Bom Bali II (1 Oktober 2005).

Cerita Lain Fundamentalisme

Dari perjalanan hidup Azahari, kita tidak menyangka, sosok mudanya
yang cerdas dan ramah, tiba-tiba menunjukkan kemarahan. Jika melihat
karirnya, kita jadi teringat pernyataan Karen Armstrong, yang
meramalkan akan terjadinya fenomena paling mengejutkan di akhir abad
ke-20, yaitu munculnya fundamentalisme dalam tradisi keagamaan dunia.

Dalam ceritanya, Armstrong menggambarkan bagaimana para fundamentalis
tega menembaki jamaah yang sedang salat di masjid, membunuh para
dokter dan perawat dalam klinik aborsi, membunuh presiden, dan bahkan
mampu menggulingkan pemerintahan yang kuat (Karen Armstrong, Berperang
Demi Tuhan, 2001).

Fundamentalisme yang dimaksud Armstrong, tidak hanya terjadi dalam
agama semitik saja--Yahudi, Kristen, dan Islam--tetapi menerpa seluruh
agama-agama "formal" dunia. Fundamentalisme agama melambangkan
keinginan kuat untuk kembali ke ajaran fundamental agama, dan upaya
mempertahankan serta menegakkan kembali "duplikasi sejarah" agama itu
pada kondisi saat ini. Lebih jauh Armstrong menjelaskan,
fundamentalisme tidak hanya gerakan kembali ke akar, tetapi juga
gerakan melawan modernitas yang dituduh mengakibatkan krisis multidimensi.

Pernyataan Armstrong menemukan pembenaran ketika kita melihat
terorisme global dan kejahatan kemanusiaan universal yang menggunakan
ajaran agama sebagai kedok dan legitimasi. Pengeboman WTC (11
September 2001), agresi meliter Amerika atas Afganistan yang sempat
disebut "Crusade" oleh George W Bush, dan aksi-aksi kekerasan di Tanah
Air menguatkan pendapat Armstrong.

Pelbagai pertunjukan kekerasan berkedok agama, termasuk serangkaian
bom di beberapa tempat di tanah air, merupakan gambaran budaya
keberagamaan kita saat ini. Dari petualangan Azahari yang menorehkan
luka di berbagai tempat, yang acap kali memakai label agama, kita bisa
membuktikan bahwa agama punyai potensi untuk membentuk pribadi yang
beragam, mulai dari "ekstrim kanan", hingga "ekstrim kiri".

Cara pandang dan penghayatan seseorang atas agama dan kepercayaannya,
ditambah perkembangan sosial-relijius di lingkungannya, dapat saja
kuat berpengaruh pada pola perilaku umat beragama umumnya. Penghayatan
dan ekspresi keberagamaan masyarakat, niscaya tidak akan pernah
tunggal, tapi selalu beragam dan warna-warni. Tafsir terhadap agama
juga cukup beragam, sehingga kalau ia cukup mengakar juga akan ikut
membentuk perilaku keberagamaan masyarakat.

Hasilnya adalah fundamentalisme umat Islam yang acapkali berbuah
aksi-aksi kekerasan. Selain karena faktor-faktor
sosial-politik-ekonomi, itulah dampak tafsir atas agama.

Fundamentalisme = terorisme?

Lalu apakah dengan begitu fundamentalisme akan selalu berujung pada
terorisme? Kesan ini tidak sepenuhnya salah, namun juga tidak
sepenuhnya benar. Yang perlu adalah kejelian serta kritisisme kita
agar tidak menyeret agama ke dalam label terorisme. Inilah yang jadi
persoalan.

Masalahnya, kini kita juga melihat indikasi telah disesatkannya
istilah fundamentalisme. Fundamentalisme kini bukan lagi sekadar
kategori sosiologis bagi pemeluk agama tertentu yang hendak kembali ke
ajaran pokok, dasar dan asas dari agama, namun telah masuk dalam
pencitraan negatif, seperti kepicikan, militansi, dan kecenderungan
menafsirkan teks suci agama secara literal.

Contoh paling nyata dari citra negatif fundmentalisme Islam adalah
peristiwa Rabu, 9/11, lalu, tepat di hari ke-5 idul fitri. Kita
dikejutkan oleh aparat Australia yang menangkap 17 orang Islam yang
dituduh sebagai aktivis teroris. Inilah penangkapan paling kolosal
yang terjadi bulan ini terkait isu terorisme (Radar Banyumas, 10/11).

Namun lepas dari berbagai peristiwa di tempat lain tersebut, kekerasan
atas nama agama yang beberapa tahun terakhir merebak di negeri ini,
sejatinya tetap saja tidak dapat dibenarkan dengan dalih apapun.
Agama, dan Islam khususnya, sejatinya mesti tetap ditegakkan sebagai
rahmat bagi semesta alam, bukan laknat bagi kehidupan. Tantangan kita
saat ini dan ke depan: mampukah kita mewujudkan peradaban dunia atas
landasan rahmah dan perdamaian? Wallahu a'lam!

* Wiwit Rizka Fatkhurrahman, sekretaris eksekutif eLSA (Lembaga Studi
Sosial dan Agama) di Semarang. 





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today!
http://us.click.yahoo.com/LeSULA/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke