POLITIKA

Riwayat Orde Baru

Budiarto Shambazy

Sejarah politik kita tak kenal istilah "closure" atau "tamatlah sudah
riwayatnya". Kita telah terbiasa menyaksikan sandiwara yang sering tak
berjudul, panjang sekali ceritanya, melanglang buana ke mana-mana,
amat melelahkan, sangat menyebalkan, dan tak mengandung pelajaran.

Dua peristiwa menarik secara persis menggambarkan jalan cerita tanpa
closure tersebut. Peristiwa pertama terjadi tatkala pengarang asal
Belanda, Antonie Dake, meluncurkan buku Sukarno File belum lama ini.

Setelah berita peluncurannya itu diberitakan, buku tersebut langsung
habis terjual di semua toko. Maklum saja, buku itu menuding Presiden
Soekarno sebagai dalang di belakang terjadinya peristiwa G30S tahun 1965.

Patut dicatat mengapa baru sekarang Dake meluncurkan buku dia yang
telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia itu? Seseorang yang
mengetahui mengungkapkan cerita yang sesungguhnya.

Memang banyak orang yang bertanya dan juga banyak wartawan yang ingin
melakukan wawancara. Namun, Dake hanya muncul saat itu saja, tidak
seperti biasanya ilmuwan asing yang biasanya rajin ngasong ke
mana-mana untuk mempromosikan karyanya.

Mungkin orang membeli karena penasaran atau marah dengan tudingan Dake
tersebut. Apa pun, yang pasti para pembaca membeli buku Dake karena
ingin tahu tentang hal ihwal sejarah bangsanya sendiri.

Muncul kesan bahwa buku Dake seperti "membunuh" kembali Bung Karno
untuk kesekian kalinya. Ia antara lain pernah "dibunuh" Orde Baru
karena tidak diakui sebagai penggali Pancasila.

Peristiwa menarik kedua terjadi sehubungan dengan Rapimnas Partai
Golkar. Selain dianugerahi penghargaan berkat jasanya di masa lalu,
sempat muncul pemberitaan mengenai rencana pencabutan Ketetapan MPR
Nomor XI/1998 tentang dugaan KKN yang dilakukan oleh mantan Presiden
Soeharto.

Tidak salah jika orang lalu menghubung-hubungkan "nasib baik" Pak
Harto dengan "pembunuhan" terhadap Bung Karno. Jangan sampai timbul
kesan "pilih kasih" karena para pendukung fanatik kedua tokoh ini
masih banyak di mana-mana.

Bung Karno meninggal "sendirian" dalam kondisi yang sangat
memprihatinkan. Secara politis maupun konstitusional, nama Bung Karno
masih tercela dan perlu direhabilitasi.

Walaupun kurang sehat, nasib "Bapak Pembangunan" jauh lebih baik
dibandingkan dengan "Bapak Bangsa". Jika Bung Karno di saat menjelang
kematian menjadi bapak yang tak bisa dikunjungi anak-anaknya, Pak
Harto masih dikelilingi anak-anak dan cucu-cucunya.

Pada sebuah edisi di rubrik ini saya menulis sebuah kalimat, "Meskipun
kedua pemimpin (Bung Karno dan Pak Harto) melakukan
kesalahan-kesalahan, janganlah kita melupakan jasa-jasa mereka".
Seperti kata pepatah Inggris, "Let by gone be by gone".

Sebuah hal yang kita sering lupa, pemimpin bukan manusia super. Namun,
paling tidak Bung Karno atau Pak Harto tidak menaikkan harga BBM
sebanyak dua kali dalam satu tahun.

Paling tidak, Bung Karno atau Pak Harto tidak "melepaskan" Timor
Timur. Dengan cara masing-masing, mereka berdua juga tak pernah mau
orang-orang asing ikut merundingkan nasib rakyat di Aceh.

Empat presiden setelah Pak Harto memang merupakan bagian dari sistem
politik masa Orde Baru. Namun, harus diakui juga bahwa presiden
keempat dan kelima memberangus budaya politik Orde Baru.

Kita sempat seperti orang disihir bahwa Orde Baru telah pergi ke alam
baka untuk selama-lamanya. Kita agak percaya tatkala para pemimpin
"setengah Orde Baru" ingin menerapkan demokrasi sesungguh-sungguhnya.

Namun, Orde Baru memang sakti mandraguna. Maka, presiden keempat pun
langsung takluk tak berdaya.

Presiden kelima pada dasarnya juga bersikap dan berwujud "setengah
Orde Baru". Apalagi untuk pertama kalinya ia menjadi pemimpin pertama
yang berkelamin baru dalam sejarah kepresidenan kita.

Jadi, Orde Reformasi sebenarnya gagal. Presiden keempat dan kelima,
yang ikut menikmati berkah politik Pak Harto, tak mampu melakukan
pergantian rezim secara total 100 persen.

Sistem politik boleh berubah, tetapi orang-orang lama dari Orde Baru
masih berada di dalamnya. Adalah biasa ada menteri atau dirjen yang
menjabat di semua era presiden yang kedua sampai yang kelima.

Waktu di masa Orde Baru, menteri atau dirjen itu memuja Pak Harto. Di
masa BJ Habibie, ia merasa sok suci.

Di era Abdurrahman Wahid, ia mendadak menjadi tokoh teladan. Dan di
masa Megawati Soekarnoputri, ia menjadi "keperempuan-perempuanan".

Sebagian dari mereka yang berada di parlemen juga merupakan
wajah-wajah yang lama. Sebagian berganti loyalitas, sebagian keluar
masuk partai-partai politik yang berlainan.

Sebagian lagi memang merupakan orang-orang baru. Namun, tak lama
kemudian justru ikut mengentalkan budaya politik ala Orde Baru.

Dan selama 40 tahun budaya politiknya tetap sama: tertidur di saat
persidangan. Mungkin yang berbeda cuma jenis suara ngorok-nya.

Begitu juga orang-orang partai politik yang berbudaya politik sama
saja. Konflik internal sudah terjadi sejak sekitar akhir tahun 1960-an
pada masa Orde Baru sampai sekarang.

Jadi, janganlah sok-sokan melawan Orde Baru. Seperti di awal cerita
tulisan ini, "Ia merupakan sandiwara yang sering tak berjudul, panjang
sekali ceritanya, melanglang buana ke mana-mana, amat melelahkan,
sangat menyebalkan, dan tidak mengandung pelajaran".

Kita sudah berkali-kali dengan gemas mengucapkan "tamatlah sudah
riwayatmu!". Akan tetapi, ia tetap selamat, kuat, dan selalu dirawat
supaya senantiasa sehat.

Ah, saya jadi ingat seseorang....





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke