Geus unggul ah, apan dina widang K mah geus nomer wahid lin? Ke Mana Budaya Unggul
Belum lagi hilang ajakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk membangun budaya unggul, pil pahit harus kita telan. Di SEA Games XXIII Indonesia terpuruk. Kontingen Indonesia hanya mampu berada di urutan kelima di belakang tuan rumah Filipina, Thailand, Vietnam, dan Malaysia. Ketua Umum KONI Pusat Agum Gumelar memang langsung menyampaikan permohonan maaf atas kegagalan itu. Namun, tetap menjadi pertanyaan, bagaimana mungkin negeri dengan penduduk 220 juta, negeri terbesar di kawasan yang selama ini merajai ajang SEA Games, bisa terpuruk seperti ini? Jawaban yang bisa segera kita sampaikan, kegagalan itu merupakan cerminan dari kegagalan kita membangun sumber daya manusia yang andal. Olahraga hanyalah potret kecil dari bangsa ini. Gambaran besarnya, kita bukan lagi bangsa yang menghargai proses, menghargai kerja, keras, tetapi ingin serba instan. Padahal, tidaklah mungkin kita bisa meraih prestasi tinggi tanpa melalui sebuah proses latihan yang optimal dan penuh disiplin. Mukjizat atau kebetulan itu hanya datang sekali-sekali. Bahkan dalam olahraga terukur seperti atletik, renang, menembak, panahan, tidaklah mungkin kita mengandalkan datangnya mukjizat itu. Kita lihat bersama betapa buruknya persiapan yang kita lakukan menghadapi SEA Games XXIII. Karena itu, bukan sesuatu yang mengejutkan apabila kita gagal total di pesta olahraga dua tahunan tersebut. Kalau kita kembali kepada ajakan Presiden untuk membangun budaya unggul, maka tidak bisa lain kecuali kita mengubah cara pembinaan yang dilakukan. Harus dibangkitkan kesadaran untuk mau bekerja keras dan disiplin dalam berlatih. Hanya dengan itulah kita bisa membangkitkan kesadaran untuk tidak mudah menyerah dan tidak pernah mau kalah dari bangsa lain. Untuk itu pola pelatihan bagi peningkatan prestasi tidak bisa lagi dilakukan secara asal-asalan, tetapi harus terarah dengan metode dan ukuran kemajuan yang jelas. Penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pembinaan olahraga tidak bisa lagi hanya sekadar wacana, tetapi benar-benar harus dipraktikkan. Sebagai bagian dari pembangunan bangsa, tentu tidak bisa terhindarkan perlu adanya investasi. Namun, semua itu harus dilakukan secara transparan dan akuntabel sehingga sepenuh dana itu dipakai untuk pembinaan olahraga, bukan justru dijadikan kesempatan bagi segelintir orang untuk "menumpang hidup". Kita melihat bangsa-bangsa besar memulai pembangunan bangsanya melalui jalur olahraga. Dibangkitkan betul budaya unggul dari olahraga untuk kemudian ditularkan ke bidang-bidang lain. Jepang meraih kemajuannya setelah sukses di Olimpiade 1964 Tokyo. Korsel menjadi negara ekonomi terkemuka melalui Asian Games 1986 dan Olimpiade 1988 Seoul. Di depan mata, China menggunakan ajang Olimpiade 2008 Beijing untuk masuk ke jajaran negara besar dunia. Mengapa Indonesia justru mundur setelah sukses di Asian Games 1962. Ini persoalan besar yang harus bisa dijawab dan dicarikan jalan keluarnya. ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today! http://us.click.yahoo.com/t7dfYD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/ [Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
