SDM Jabar Belum Memadai

Berbagai kendala dalam memperbaiki mutu kehidupan warga pada masa
perekonomian terasa sulit ini tampaknya akan membuat Provinsi Jawa
Barat gagal mencapai target indeks pembangunan manusia 2005. Jika itu
menjadi kenyataan, kualitas sumber daya manusia di Jawa Barat menjadi
rendah.

Kondisi yang demikian akan menjadi ironi manakala kontribusi Jabar
terhadap aktivitas perekonomian nasional sudah mencapai 14 persen.
Jangan lupa, jika ini kondisinya, posisi strategis provinsi ini tak
akan dapat dimanfaatkan dengan optimal.

Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2001 tentang Rencana Strategis Provinsi
Jawa Barat 2001-2005 menargetkan angka 80 untuk indeks pembangunan
manusia (IPM) tahun 2010, angka yang akan dapat menempatkan Jabar
dalam kategori daerah yang sejahtera. Tetapi, pencapaian target ini
dihadang tanda tanya. Untuk 2004 saja, IPM Jabar sebesar 68,36 hanya
naik 0,49 poin dibandingkan dengan tahun 2003. IPM yang 68,36 itu
lebih rendah 5,17 poin dari target, 73,53. Kesulitan menaikkan IPM
2004 ini mengisyaratkan akan adanya kesulitan untuk tahun-tahun
berikutnya.

Pencapaian IPM tersebut juga mencerminkan rendahnya kualitas sumber
daya manusia (SDM) di Jabar. Bandingkan saja dengan data IPM 2002 yang
dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS), Jakarta peringkat pertama
dengan IPM sebesar 75,6, disusul Sulawesi Utara dan Daerah Istimewa
Yogyakarta (DIY) masing-masing 71,3 dan 70,8. Saat itu, Jabar berada
di peringkat ke-17 dengan IPM 65,8.

Yang ditunjukkan angka-angka ini adalah tingkat kualitas SDM penduduk
Jabar yang berada di bawah tingkat kualitas SDM warga DKI Jakarta,
Sulawesi Utara, DIY, dan 13 provinsi lain yang IPM-nya di atas Jabar.

Kini, 10 dari 25 kabupaten/ kota di Jabar mencatat IPM yang lebih
rendah daripada IPM provinsi. Kesepuluh kabupaten itu adalah Kabupaten
Bandung, Karawang, Indramayu, Garut, Sukabumi, Cianjur, Tasikmalaya,
Subang, Kuningan, dan Cirebon. Dalam kelompok ini, Kabupaten Indramayu
mencatat IPM paling rendah. Kota Bandung mencatat IPM yang tertinggi.

Angkatan kerja

Dalam hal tingkat pendidikan, mayoritas (55 persen) angkatan kerja
Jabar hanya berpendidikan SD dan SMP. Yang berpendidikan menengah atas
dan perguruan tinggi masing-masing hanya 15,4 persen dan 3 persen.

Selain tingkat pendidikan, tingkat partisipasi angkatan kerja itu pun
tidak menggembirakan, hanya 52,8 persen. Partisipasi angkatan kerja
laki-laki 74,33 persen dan perempuan hanya 30,88 persen. Ini
menunjukkan peran perempuan dalam angkatan kerja masih rendah
dibandingkan dengan laki-laki.

Dari 15,01 juta penduduk Jabar yang bekerja, 29 persen bekerja di
sektor pertanian, 22,39 persen di perdagangan, dan 28 persen di
industri. Sisanya bekerja di sektor jasa, keuangan, angkutan, dan
konstruksi. Dari jumlah itu, 45 persen bekerja sebagai buruh/karyawan.

Rendahnya partisipasi, minimnya pendidikan, disertai oleh kurangnya
keterampilan akan membuat angkatan kerja sulit bersaing di sektor
formal, bahkan di sektor informal.

Sebelum kenaikan harga BBM awal Oktober lalu, menurut BPS, jumlah
warga miskin Jabar sebanyak 4,66 juta jiwa (12,1 persen penduduk).
Tetapi, Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jabar
mencatat keadaan yang lebih buruk. Menurut BKKBN, jumlah keluarga
miskin di Jabar tahun 2004 sekitar 2,67 juta keluarga (meliputi 10,15
juta jiwa). Artinya, 27,5 persen dari jumlah keluarga di Jabar masuk
kategori miskin.

Penurunan daya beli merupakan salah satu faktor yang akan mempersulit
pencapaian IPM Jabar. Kendati indeks daya beli tahun 2004 (58,83)
lebih baik daripada 2003, kenaikan yang terjadi hanya 0,20 poin.
Pertanyaannya adalah, apakah kenaikan seperti itu juga akan terjadi
setelah biaya hidup kian tinggi.

Selain kemerosotan daya beli, kendala yang menghadang pencapaian
target IPM pada tahun 2006 adalah persoalan pengangguran dan ancaman PHK.

Mencemaskan hari esok

Tahun 2005, data dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jabar
menyebutkan, terdapat 26.086 perusahaan di Jabar yang mempekerjakan
2,33 juta karyawan, 6.982 di antaranya tenaga kerja asing.

Hingga Desember ini, menurut catatan Kompas, setidak-tidaknya 45.000
buruh dari 60 perusahaan di Jabar terancam PHK. Survei sosial ekonomi
daerah Jabar tahun 2005 menunjukkan tingkat pengangguran di provinsi
ini 11,9 persen dari angkatan kerja. Jumlah penganggur perempuan
hampir dua kali lipat penganggur laki-laki. Di wilayah kota, tingkat
pengangguran itu cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan desa.

Situasi Jabar di penghujung tahun ini diramaikan oleh unjuk rasa buruh
yang menuntut kenaikan upah minimum kabupaten/kota (UMK). Protes itu
tentunya dicetuskan oleh kecemasan menghadapi hari esok setelah
penurunan daya beli akibat kenaikan harga-harga.

Dapatkah peran strategis Jabar dalam konstelasi nasional dimanfaatkan?
Dan, dapatkah persoalan kemiskinan dan pengangguran tidak merembet ke
persoalan lain yang berimbas kepada keamanan dan stabilitas regional.
(Dwi Erianto/ Litbang Kompas)





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Fair play? Video games influencing politics. Click and talk back!
http://us.click.yahoo.com/u8TY5A/tzNLAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke