Karunya... ngan bisa rumahuh jeung 'ngurut' dada...

Mengapa Petani di Indonesia Jadi Anak Tiri?
Oleh H. Usep Romli H.M.

DI negara yang mengaku agraris semacam Indonesia, petani benar-benar
menjadi anak tiri. Mengapa? Jawabannya harus ditelusuri oleh para ahli
melalui penelitian komprehensif integral, aktual dan faktual. Di
negara-negara industri seperti Inggris, Prancis, Belanda, Jerman,
Jepang, Korea Selatan dan Amerika Serikat, berbagai hasil pertanian
menjadi andalan devisa.
PETANI menikmati makan saat istirahat menanam padi di Jln. Pesantren
Cimahi, beberapa waktu lalu. Walau Indonesia adalah negara agraris,
namun petani masih menjadi anak tiri.*HARRY SURJANA/"PR"

Anggur dari Prancis, bunga tulip dari Belanda, kacang kedelai dan
jagung dari AS, gula bit dari Jerman, kentang dari Inggris, dan
lain-lain, jelas merupakan hasil pertanian. Di negara-negara itu,
petani mendapat perlindungan sosial, politik dan tentu saja ekonomi.
Bukan hanya untuk kepentingan ekspor, melainkan untuk kebutuhan
domestik, sehingga dapat menghemat anggaran.

Tapi di Indonesia, yang sebagian besar penduduknya hidup dari bercocok
tanam, sebagai petani (baik petani buruh atau kuli penggarap, maupun
"petani berdasi"), hak-hak petani malah diabaikan. Petani tak punya
posisi tawar yang kuat. Kebijakan impor beras, menurut pendapat ahli
ekonomi Faisal Basri, sangat gamblang ditujukan untuk memetik rente
dan koneksitas berbau KKN.

Belum lagi soal penyediaan sarana produksi pertanian (saprotan).
Setiap menjelang musim tanam, para petani dihadapkan pada problema
rutin, tak ada pupuk, tak ada obat-obatan. Jika pun ada, daya beli
petani sangat rendah, sehingga untuk kebutuhan saprotan, petani
terpaksa menggunakan jasa pengijon.

**

DAMPAK "Revolusi Hijau" yang didukung kaum aristokrat, birokrat,
pemodal kapitalis dan borjuis internasional, dan hanya diterapkan di
negara-negara berkembang, adalah kematian kreativitas para petani,
selain kerusakan lingkungan dan tradisi. Petani dipacu mengejar
intensifikasi tanaman. Kesuburan tanah dikarbit aneka macam obat dan
pupuk kimiawi. Penyebaran hama dihadang berbagai jenis insektisida dan
pestisida.

Kebiasaan bertani santai dan lama, yang bertopang tradisi keramahan
ekologis, berubah drastis. Para petani diarahkan mendapat hasil lebih
banyak dalam waktu singkat. Dengan benih hasil rekayasa genetik, musim
tanam padi 180 hari (6 bulan), menjadi 90 hari (3 bulan), atau 60 hari
(2 bulan) saja. Musim tanam jagung 100 hari (3 bulan 10 hari), hanya
40 hari.

Tapi para petani tidak dapat lagi memproduksi benih sendiri, membuat
obat anti- hama sendiri. Benih dan obat-obatan lokal, tak mampu lagi
menunjang intensifikasi. Semua harus membeli dari toko. Akibatnya
petani menjadi "budak" produk-produk rekayasa genetik karya
negara-negara maju.

**

IBNU Khaldun (1346-1406), pakar ilmu sosial-ekonomi dan filsafat
sejarah Islam klasik menyatakan, petani adalah poros kekuatan bangsa
dan negara. Dalam bukunya yang termasyhur Mukaddimah, Ibnu Khaldun
menyajikan contoh-contoh tentang kehidupan kaum Berber di Afrika
Utara, yang hidup dari mengolah tanah. Mereka berhasil menggalang
solidaritas, kekuatan bertahan dan kekuatan mengantisipasi serangan
dari luar.

Solidaritas dan kekuatan itu semakin memudar, tatkala mereka
meninggalkan kehidupan bertani, yang membawa perubahan sikap hidup.
Kemewahan menjadi orientasi utama. Lahan-lahan pertanian, berubah
menjadi pusat-pusat rekreasi, perdagangan, taman-taman, dan sebagainya.

Adapun untuk memenuhi kebutuhan pangan, dilakukanlah impor yang
dananya diperoleh dari bantuan-bantuan asing. Akibat lebih lanjut,
pemerintah lebih memercayai segala sesuatu yang datang dari orang
asing, daripada bangsa sendiri.

Perubahan watak dari masyarakat petani agraris ini akan mendatangkan
gejala-gejala kehancuran bangsa dan negara," papar Ibnu Khaldun
(Muqaddimah pasal 3 Bab 3 tentang "Kehancuran Bangsa dan Negara").

Tesis Ibnu Khaldun yang begitu mengidolakan posisi dan peran petani,
boleh saja dianggap usang, ketinggalan zaman. Namun secara fakta,
masih dapat dipetanggungjawabkan. Buktinya, negara-negara industri
maju, tetap melindungi petani, menempatkan mereka dalam posisi sentral
untuk ikut menunjang kemajuan bangsa dan negara.

Perlu dicatat, kitab Muqaddimah Ibnu Khaldun lebih dipahami dan
diamalkan masyarakat negara maju, ketimbang dunia ketiga. Prediksi
Ibnu Khaldun di bidang sosial, ekonomi, dan politik, dipopulerkan di
negara Barat oleh para pakar sejarah dan filsafat, seperti Arnold
Toynbee. Di Indonesia ada kesan petani dipersulit (antara lain dengan
ancaman beras impor dan ketiadaan saprotan).***








------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Clean water saves lives.  Help make water safe for our children.
http://us.click.yahoo.com/CHhStB/VREMAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke