Ekonomi Politik Beras

Khudori

Dalam bingkai keamanan nonkonvensional, soal pangan itu amat penting.
Dalam konteks Indonesia, pangan bernama beras memiliki fungsi
strategis tak ubahnya bedil dan mesiu, menjadi senjata penting yang
menentukan sukses-tidaknya suatu operasi militer. Namun, berbeda dari
bedil dan mesiu, beras hanya dilibatkan pada operasi yang rendah
kekerasan (low-intensity conflict).

Inilah landasan pemikiran mengapa food security bagi sebuah negara itu
penting. Ia tidak kalah penting dari bahaya teroris, yang dianggap
ancaman serius bagi keamanan, yang sekarang jadi diskursus nasional
dan global. Itu sebabnya, hampir semua negara, lebih-lebih negara
maju, melakukan segala cara guna membangun ketahanan pangan yang tangguh.

Amerika Serikat (AS), misalnya, meskipun jumlah petaninya tinggal 2
persen dari jumlah penduduknya, tidak pernah surut sejengkal pun untuk
mengurus sektor pertanian, terutama pangannya. Sektor ini menempati 13
persen dari produk domestik bruto (GDP) dengan ekspor senilai 140
miliar dollar AS per tahun. Jika sektor ini dihancurkan teroris, tidak
hanya peluang ekonomi yang hilang, tetapi seluruh sendi kehidupan AS
bisa lumpuh akibat pasokan pangan seret.

Demo-nasi

Untuk menciptakan social unrest di Indonesia tak usah menggunakan isu
etnis atau agama. Cukup menyebarkan isu bahwa beras yang kita makan
dipupuk dengan pupuk berbahan tidak halal, geger akan menjalar ke
seluruh negeri. Dengan demikian, ancaman bagi Republik sebenarnya
bukanlah ancaman dari negeri China atau Australia, melainkan dari
dalam negeri dengan beras sebagai isu sentral. Kita bisa menggelar
kerusuhan tidak perlu lewat demonstrasi, tetapi lewat "demonasi"
(demo-nasi): nasi untuk demo. Singkat kata, para demonstran tidak
perlu dibayar pakai uang, tetapi pakai beras.

Dalam konteks inilah kebijakan meredam harga pangan yang digulirkan
Wakil Presiden Jusuf Kalla tempo hari lalu dengan mudah dipahami.
Argumennya pangan, terutama beras, pendorong utama inflasi. Inflasi
akan menyebabkan naiknya suku bunga, naiknya suku bunga akan
menghancurkan sektor riil. Ini argumen standar Bank Dunia dan IMF. Di
Indonesia memang ada kecenderungan kuat sektor pertanian selalu
dituntut menyediakan beras dengan harga murah untuk mengamankan
variabel- variabel makro (inflasi, pertumbuhan ekonomi dan
keseimbangan dagang). Sektor pertanian juga dituntut mendukung sektor
industri dengan menyediakan beras murah bagi para pekerja di kota.

Perlakuan ini tak lepas dari posisi strategis beras. Saat ini 96
persen perut penduduk negeri ini, dari Sabang sampai Papua, bergantung
pada beras. Dari sisi gizi dan nutrisi, beras relatif unggul dari
pangan lain. Seluruh bagian beras bisa dimakan, kandungan energinya
360 kalori per 100 gr, dan protein 6,8 gr per 100 gr. Pangsa beras
pada konsumsi energi per kapita mencapai 54,3 persen. Artinya, lebih
dari setengah intake energi kita bersumber dari beras. Sekitar 40
persen sumber protein dipenuhi dari beras. Dari sisi produsen, usaha
tani padi di Indonesia melibatkan 25,4 juta rumah tangga atau lebih
dari separuh penduduk negeri ini. Pendek kata, beras bagi Indonesia
merupakan komoditas yang strategis karena jadi penopang tripel
ketahanan: pangan, ekonomi, dan nasional.

Akan tetapi, ini bukan cuma di Indonesia. Saat ini 70 persen kalori
dan protein sebagian besar penduduk Asia, terutama yang miskin,
dipenuhi dari beras. Maka, hampir sebagian besar negara di Asia amat
berkepentingan dengan komoditas beras, tidak saja sebagai komoditas
upah (wage goods), tetapi juga komoditas politik (political goods).
Secara ekonomi, letak beras sebagai komoditas strategis di Asia,
setidaknya, karena usaha tani padi masih diusahakan jutaan petani, dan
bagi sebagian besar negara, seperti Vietnam, Myanmar, Thailand, India
dan China, beras merupakan penyumbang devisa negara.

Tidak heran apabila negara- negara ini mengalokasikan dana yang cukup
besar untuk petani, baik dalam berbagai skema subsidi maupun untuk
membangun bendungan dan jaringan irigasi. China, selama kurun
1996-1998, mengalokasikan 18,2 miliar dollar AS per tahun untuk green
box policies ke sektor pertanian. India, selain memberikan subsidi
pupuk, juga bahan bakar, peralatan pertanian, dan berbagai bentuk
kebijakan harga output. Thailand, selain memberikan subsidi kredit
ekspor dan pinjaman bank tanpa agunan, juga ada skema paddy mortgage
oleh Bank of Agriculture and Cooperative. Semua dilakukan untuk satu
tujuan utama, memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri.

Selain berbagai kemudahan dan subsidi air, kredit, dan promosi ekspor,
ada tiga bentuk bantuan Pemerintah AS untuk mendorong ekspor beras.
Pertama, menjual beras dengan kredit konsesi dan menyumbangkan beras
kepada negara yang memerlukan, baik secara bilateral maupun lewat WFP PBB.

Kedua, menyediakan jaminan kredit ekspor komersial. Ketiga,
menyediakan dana guna mempertahankan, menciptakan, dan memperluas
pasar ekspor di berbagai negara. Sikap negara-negara maju juga
tercermin bahwa hampir 80 persen pendapatan petani padi di Organisasi
Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) berasal dari bantuan pemerintah.

Tanpa bantuan dan subsidi semacam itu, mustahil petani AS mampu
bersaing dengan negara-negara produsen beras di Asia. Ongkos produksi
padi per acre di AS paling mahal, empat kali lipat dibandingkan dengan
China dan India yang besarnya hanya 130 dollar AS dan 121 dollar AS
per acre, atau hampir 2,5 kali lipat dari Thailand. Meski lahannya
sempit, biaya produksi padi petani di Indonesia tergolong rendah (81
dollar AS/ton), lebih rendah daripada India (82 dollar AS/ton) dan
Thailand (129 dollar AS/ton). Ongkos produksi padi petani Indonesia
hanya kalah dari petani China (71 dollar AS/ton) dan Vietnam (64
dollar AS/ton).

Memanen di pasar

Saat ini, bagi Thailand, India, China, Malaysia, Vietnam, dan
Pakistan, untuk sementara, ramalan Malthus keliru. Bersama negara yang
baru seumur jagung (Vietnam), Thailand jadi eksportir beras nomor
wahid dengan pangsa 40-45 persen dari total beras di pasar dunia,
diikuti AS, India, Pakistan, dan China. Sementara Indonesia yang
pernah swasembada dan meminjamkan beras ke Filipina, bersama
Bangladesh, masih bergulat dengan self sufficiency. Pertanyaannya,
mengapa yang dikejar harus self suf-ficiency?

Mesti dipahami bahwa beras di pasar dunia amat tipis, hanya 4-7 persen
dari total produksi. Jauh lebih kecil ketimbang gandum (20 persen),
jagung (15 persen), dan kedelai (30 persen). Pasarnya jauh dari
sempurna karena sekitar 80 persen ekspor beras dikuasai oleh enam
negara (Thailand, Vietnam, AS, India, Pakistan, dan China). Beras yang
dijual di pasar dunia merupakan sisa konsumsi domestik (residual
goods). Pasar yang tipis dan oligopolistik ini yang membuat harga
beras lebih tidak stabil ketimbang gandum, jagung, dan kedelai. Antara
tahun 1954 dan 1994, harga beras bergerak 200-1.700 dollar AS per ton.
Bagi negara besar seperti Indonesia, bergantung pada pasar impor jelas
berisiko.

Anehnya, politik perberasan di Indonesia justru cenderung "memanen di
pasar" ketimbang "memanen di lahan". Impor beras 70.000 ton—dari
komitmen 250.000 ton—dari Vietnam bisa dibaca dari perspektif ini.
Sejak 1998 politik perberasan Indonesia memang mengarah ke mekanisme
pasar. Bertolak belakang dengan negara lain yang melakukan berbagai
hal untuk menangkal masuknya beras impor agar tidak merusak harga dan
mengaduk-aduk ekonomi domestik. Thailand mematok bea masuk 60 persen
dan Jepang 400 persen, sementara Indonesia 30 persen. Adalah terlalu
riskan menumpukan beras dari impor. Karena itu, ekonomi politik
perberasan kita mendesak dirancang ulang.

Khudori Alumnus Fakultas Pertanian Universitas Jember, Peminat Masalah
Sosial-Ekonomi Pertanian; Penulis Buku Neoliberalisme Menumpas Petani
dan Lapar: Negeri Salah Urus!





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Clean water saves lives.  Help make water safe for our children.
http://us.click.yahoo.com/CHhStB/VREMAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke