Ironi Bandung Bermartabat

Agama mengajarkan, kebersihan merupakan bagian dari iman. Berangkat
dari ajaran ini, ketika masih sebagai kota- madya, Bandung mengangkat
slogan Berhiber (bersih, hijau dan berbunga). Ketika menjadi Kota
Bandung, slogan tersebut dipercantik menjadi Bandung Bermartabat, yang
berarti Bandung yang bersih, makmur, taat dan bersahabat.

Slogan tersebut tampaknya menjadi slogan semata. Pasalnya, sejak tiga
minggu terakhir yang tampak di setiap titik Kota Bandung adalah
tumpukan sampah. Pemandangan ini tidak saja menjijikkan, juga
berbahaya secara medis, karena dapat mengundang berbagai penyakit. Ironis!

Sejak Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Jelekong ditutup 31
Desember lalu, praktis tidak ada lagi tempat pembuangan sampah bagi
Kota Bandung. Akhirnya, sampah dibiarkan menggunung di setiap tempat
pembuangan sementara (TPS).

Produksi sampah di Kota Bandung mencapai 7.500,58 meter kubik per
hari. Sumber sampah terbesar adalah sampah domestik atau permukiman
yang mencapai 4.951,98 meter kubik per hari. Disusul sampah dari pasar
618,50 meter kubik, komersial 302,80 meter kubik, industri 798 meter
kubik, non-komersial 363 meter kubik, dan sampah dari saluran 12,90
meter kubik per hari.

Sampah-sampah ini menumpuk di 184 TPS di segenap penjuru Kota Bandung
dan 56 bak truk yang ditempatkan di sudut-sudut jalan. Dengan produksi
sampah sekian, diperkirakan telah terjadi penumpukan sampah sekitar
90.000 meter kubik.

Meskipun Pemerintah Kota Bandung telah membuka kembali TPA Cicabe,
tetapi belum mampu mengangkut penumpukan sampah tersebut secara
tuntas. Pada pengangkutan pertama, Senin (9/1) lalu, hanya mampu
mengurangi sampah sebanyak 440 meter kubik sampah.

Menurut Hendrik, petugas pencatat sampah di TPA Cicabe, mulai hari
kedua hingga seterusnya, diperkirakan hanya mampu mengangkut sampah
sebanyak 70 truk atau 700 meter kubik per hari. Artinya, baru sekitar
2.500 meter kubik sampah yang terangkut hingga Kamis (12/1).

Sisa sampah masih belum tertangani dan menggunung di TPS- TPS. PD
Kebersihan dan Pemerintah Kota Bandung memang tidak tinggal diam untuk
mengantisipasi dampak penumpukan sampah ini. Program penyemprotan dan
penutupan dilakukan untuk mengurangi bau dan lalat, ujar Wali Kota
Dada Rosada dalam sebuah kesempatan.

Program ini merupakan kerja sama antara Dinas Kesehatan Kota Bandung
dan PD Kebersihan Kota Bandung. Sayangnya, kata Sarko (46), pengangkut
sampah, penyemprotan itu tidak dilakukan setiap hari.

Namun, menurut Kepala Subdinas Pengendalian Penyakit Menular dan
Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kota Bandung, Rita Verita,
penyemprotan hanya merupakan tindakan darurat, tetapi bukan solusi
terbaik. Penyemprotan hanya bisa menjangkau bagian permukaan sampah.
Belatung dan telur lalat yang berada di antara tumpukan sampah tetap aman.

Bila dalam kondisi tidak hujan, efek pengasapan hanya bisa tahan
sekitar tiga hari saja. Pasalnya, telur lalat bisa menetas dalam tiga
hari. Selain itu, bisa juga datang lalat-lalat dari daerah lain.

Sementara itu, Dada mengatakan, kalau ada warga yang terserang
penyakit, Pemerintah Kota Bandung siap menanggung biaya pengobatannya.

Dampak penumpukan sampah ini tetap saja muncul dan mulai meresahkan
masyarakat. Di TPS Jalan Ambon, misalnya, belatung berserakan hingga
ke jalan raya dan warung-warung yang ada di sekelilingnya. Bahkan,
tumpukan sampah ini telah menutup dua pertiga ruas jalan.

Sementara di TPS Jalan Tamansari, bau dan ribuan lalat mengganggu
kenyamanan pengguna jalan. Keadaan serupa juga terjadi di Jalan
Sudirman, Rajawali Timur, Taman Cibeunying Utara, dan Arjuna.

Kalau pagi, baunya amat menyengat. Tikus ama lalat juga banyak, ujar
Awan Karmawan (40), penjual gorengan di Jalan Ambon, Kamis kemarin.
Tikus dan belatung juga banyak. Sampai-sampai para pembeli banyak yang
enggak jadi beli, timpal Ahmad (42), penjual mi goreng.

Kami terpaksa menutup jendela dan menyalakan kipas angin tiap saat
karena enggak tahan bau dan lalat. Takut kena penyakit, tutur Dani
Susanto (27), Kasir Leuwigajah Paket yang berkantor tepat di depan TPS
Jalan Ambon.

Sumber penyakit

Rita menambahkan, tumpukan sampah berpotensi menimbulkan
penyakit-penyakit yang berhubungan dengan lingkungan. Misalnya saja
diare, tifus, dan infeksi saluran pernapasan, ujar Rita.

Diare dan tifus terutama disebabkan oleh lalat yang semula hinggap di
atas sampah. Namun, tidak berhenti di sampah, lalat itu terbang dan
hinggap di makanan yang dikonsumsi manusia. Hal itu sangat mungkin
mengingat lalat mempunyai jarak terbang tertentu.

Sementara itu, pakar sampah dari Institut Teknologi Bandung, Enri
Damanhuri, mengatakan, sampah juga menyebabkan penyakit kronis, atau
baru muncul setelah jangka waktu tertentu. Penyakit ini, kata Enri,
disebabkan oleh logam-logam berat yang biasanya terkandung dalam air
lindi. Enri juga tercatat sebagai Koordinator Kelompok Keahlian
Pengelola Sampah Bahan Beracun Berbahaya.

Terlebih Indonesia termasuk daerah yang curah hujannya tinggi. Air
hujan membilas semua yang ada di sampah, termasuk kalau ada kandungan
logam berat, ujar Enri. Ini terjadi karena pembuangan sampah yang
belum dipisah-pisahkan berdasarkan jenisnya.

Semestinya sampah di TPS tidak ditumpuk berhari-hari. Dengan kondisi
seperti sekarang ini, dikhawatirkan air bilasan sampah meresap ke
sumur-sumur penduduk. Masalahnya kita baru mengeluh kalau air menjadi
berwarna dan berbau. Padahal, adanya logam berat mungkin tidak
mengubah kenampakan fisik air. Hanya saja, kalau diperiksa di
laboratorium, airnya sudah tidak sehat lagi, kata Enri.

Bandung sebagai kota jasa tampaknya harus segera berbenah diri,
terutama soal sampah. Kalau tidak, citra Kota Bandung akan terpuruk,
karena para wisatawan enggan berkunjung akibat banyaknya sampah.
Dengan demikian, penghasilan asli daerah dari pajak wisatawan juga
menurun. Belum lagi masalah kesehatan akibat penumpukan sampah ini.

Mengherankan adalah bagaimana kebijakan Pemerintah Kota Bandung
mendalami masalah ini setelah bertahun-tahun Kota Kembang ini berdiri.

Sebagai pembanding yang nyata, di mana Ibu Kota DKI Jakarta mengelola
persampahan hendaknya dapat dijadikan pegangan. Walau masih bermasalah
juga, ada baiknya Bandung berkaca ke Jakarta. (d07/d06)





http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke