Sewaktu duduk di Sekolah Dasar, saya pernah membaca sebuah buku yang berisi 'dialog' antara seorang kiai dan seorang pendeta. Konon buku itu berasal dari peristiwa 'dialog' nyata, semacam true story, yang terjadi di kawasan Madura. Tak saya ingat persis apa judul buku tersebut. Hanya yang pasti adalah terdapat kata 'dialog' di dalamnya.
Kata 'dialog' dalam buku itu dimaksudkan perdebatan mengenai masalah-masalah teologi semacam status ketuhanan Yesus, doktrin Trinitas, orisinilitas Injil, strategi gerakan kristenisasi, dan lainnya. Dalam beberapa 'dialog' itu, Si Kiai yang mewakili Islam berhasil 'mengalahkan' pendeta yang mewakili umat Kristen. Walhasil Kiai berhasil menunjukkan 'kekeliruan' dan 'kepalsuan' beberapa pokok ajaran yang diyakini si Pendeta, dan pada saat yang bersamaan berhasil menunjukkan validitas ajaran yang diyakininya. Sebaliknya si Pendeta gagal dan menyerah. Konon, sesuai perjanjian, si Pendeta akhirnya masuk Islam. Demikianlah garis besar yang saya ingat dari isi buku itu. Apologia Buku yang saya baca sewaktu di Sekolah Dasar itu mungkin bisa dimasukkan sejenis buku apologia. Di dalam pemikiran apologia, keyakinan agama orang lain dinilai secara negatif, baik dari segi sosial-historis maupun teologisnya. Sikap negatif di dalam apologia ini beriringan dengan sikap untuk membenarkan ajaran milik sendiri. Semakin mampu menunjukkan kekeliruan paham orang lain, semakin kukuh ia membenarkan ajaran sendiri. Mungkin memang begitu cara bekerja sebuah apologia. Pertama-tama ia melancarkan dulu pertanyaan terhadap keyakinan orang lain. Dan jika keyakinan orang lain itu diyakini lemah, salah dan keliru, maka hal itu dengan sendirinya memantulkan kebenaran pada keyakinan yang dipegangi. Apologia seringkali menghindar dan mungkin tak pernah punya kehendak untuk langsung mengarahkan pertanyaan kepada diri sendiri, karena kebenaran di dalam apologia makin kuat setelah diketahui ada kekeliruan dan kesalahan pada keyakinan orang lain. Apologia juga meyakini suatu kebenaran tunggal, dan tidak ada kebenaran lain. Karena itu argumen awal apologia adalah pembelaan. Pembelaan dari keyakinan orang lain yang mengibarkan kebenaran. Bagi apologia, proklamasi kebenaran keyakinan orang lain itu berarti suatu ancaman, suatu pernyataan kekeliruan dan kesesatan bagi kebenaran yang diyakininya. Apologia, dengan demikian, sejenis upaya mempertahankan diri, untuk kemudian melancarkan serangan balik. Dan meraih kemenangan serta akhirnya rasa puas diri. Selintas, iman yang dihasilkan dari persentuhan dengan pemikiran apologia ini kukuh dan kuat, tapi sebenarnyalah ia rapuh. Karena yang dihasilkannya adalah prasangka, rasa paling benar, dan akhirnya kebencian. Apologia bukan hal baru. Ia telah ada sejak berabad-abad lampau. Apologia juga bukan khas Islam. Ia juga hadir di dalam rentang sejarah pemikiran keagamaan Kristen, Yahudi, Hindu, dan lainnya, serta terus direproduksi hingga kini. Buku yang saya ceritakan di atas jelas bukan satu-satunya. Sangat banyak buku sejenis, dalam beragam bahasa, termasuk Indonesia. Dalam bukunya, The Struggle Islam in Indonesia, B. J. Boland melakukan survei terhadap jenis buku apologia Islam yang beredar di Indonesia tahun 1960-an. Salah satu kesimpulannya, banyak dari buku itu mengutip "penerbitan Kristen" tanpa menyadari seberapa jauh buku-buku yang dikutip itu sendiri sungguh-sungguh mewakili pandangan Kristen. Dan ini mungkin menjadi ciri apologia pula: mengabaikan keberagaman pemikiran di dalam suatu agama dan terus mencari celah yang dianggap menjadi titik lemah dari suatu agama. Beredar dan meluasnya buku-buku apologis dan polemis tahun 1960-an itu, menurut Bolland, merupakan bagian dari menegangnya hubungan Islam-Kristen sejak pelarangan komunisme tahun 1966 dan menegarnya Orde Baru. Tapi Bolland mencoba memaklumi bahwa apologia Islam itu merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pemikiran apologia yang berkembang di dalam sejarah kekristenan. Artinya apologia akan melahirkan satu jenis apologia pula. Apologia versus apologia. Beberapa kalangan, menyebut pertukaran teologis seperti ini sebagai suatu 'dialog'. Sulit diterima pandangan ini. Kenyataannya, apologia lebih sering merupakan suatu penilaian sepihak daripada diskusi yang sehat. Karena itu ia lebih tepat disebut sebagai 'perdebatan', suatu konfrontasi. Dalam kosa kata Arab, mungkin ia lebih kena disebut sebagai mujadalah, suatu bantah membantah, yang dalam tradisi Islam justru dianjurkan untuk dihindari. Mengapa? Karena ia hanya bersemangat untuk saling menyalahkan. Media Baru Apologia Sampai sekarang semangat apologia terus diproduksi dan direproduksi, namun medianya telah banyak berubah. Bentuk buku atau pamflet memang masih dibuat, tapi yang favorit sekarang adalah dalam bentuk cakram padat (VCD). Pada Islamic Book Bazaar di Gedung Wanitatama, Yogyakarta, pertengahan Desember 2005 lalu, stand penjualan cakram padat yang berisi ceramah-ceramah 'para apolog' ini dikerubungi banyak pengunjung. Meski bazarnya bertajuk 'buku-buku Islam', tapi yang paling laku dan digemari justru adalah media audio-visual seperti ini. Isu yang diusung karya-karya apologia tetaplah sama: tentang kepalsuan Injil, ketidakrasionalan doktrin Trinitas, strategi persengkongkolan mengkristenkan umat Islam, dan beberapa tema lainnya. Yang baru, tentu saja dipakainya teknologi film cakram padat ini. Memang dalam teknologi pembuatan film sekarang, kita temukan banyak sekali kemudahan. Dengan peralatan yang cukup murah dan mudah, dengan handycam saja, orang bisa membuat film sederhana. Apalagi jika hanya untuk mengeksplorasi adegan dalam ruang semacam orang berbicara di atas podium dan dihadiri sejumlah audiens. Berbeda dengan bentuk buku, bentuk cakram padat ini jauh lebih murah, baik dari segi produksi maupun harga jualnya. Dengan demikian, dibanding produknya dalam bentuk buku, apologia via cakram padat ini akan beredar lebih massal dan populer. Dengan beberapa alasan di atas, saya berpendapat di masa mendatang akan meningkat produksi pemikiran yang apologis ini. Dan itu artinya juga akan meningkat sikap prasangka, rasa benar sendiri, dan juga kebencian. Banyak kalangan mengatakan bahwa karya apologis dan polemis seperti ini hanya ditujukan buat mereka yang setengah intelektual dan malas berpikir. Mereka yang butuh segera jawaban yang sederhana dan tak membutuhkan penalaran yang canggih. Namun menurut saya, apologia via media visual ini bisa jauh lebih buruk. Membaca buku apapun, termasuk buku apologistetaplah merupakan kerja soliter. Artinya suatu proses yang tetap mendesakkan orang untukseminim apapunmemikirkan, dan merenungkan apa yang dibacanya. Kebenaran atau keyakinan yang hendak ditangkap di dalamnya tetap melalui proses dialog dan refleksi. Bukan kebenaran yang sudah jadi untuk ditangkap dan didekap. Proses seperti ini, saya kira, makin memudar dan mungkin bahkan menghilang ketika dihadapkan pada media visual. Dalam media audio-visual, ruang untuk refleksi dan imajinasi makin menyempit. Kebenaran via audio-visual seperti hadir serentak, bulat, dan sudah siap untuk ditangkap. Kadang ia ditonton ramai-ramai bersama seperti sebuah perayaan, makin lengkaplah hilangnya proses perenungan pribadi ini. [] Hairus Salim HS, Pengelola Institut Kajian Agama dan Multikulturalisme (IKAM) Yogyakarta. http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/ [Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
