Tukang sair teh sok make ayakan atawa lambit lin?  ;)) Cik naon basa
Sunda na "penyair" atawa "tukang sa'ir" teh nya?

Rh


Nabi, Dukun, dan Penyair
Oleh Ulil Abshar-Abdalla
23/01/2006

Yang menarik buat saya, persis setelah pembahasan tentang nubuwwah
atau kenabian itu, ada bab lain tentang sihir, penyihir, dan dukun.
Al-Razi membahas rinci, mendalam, dan detil tentang fenomena
perdukunan dan sihir. Sebetulnya, pembahasan ini sebagian besar
merupakan pengulangan dari pembahasan serupa yang pernah dilakukan Ibn
Sina. Pertanyaan saya dalam hati: kenapa bahasan tentang perdukunan
dan sihir diletakkan setelah bahasan tentang kenabian? 

Gejala kenabian selalu menantang untuk dibahas, bukan saja buat para
ilmuwan modern, tapi juga filosof klasik Islam. Saya bisa mengatakan,
"prophecy is among the most puzzling phenomenon" atau gejala kenabian,
adalah fenomena yang paling mengundang teka-teki. Yang lebih menantang
juga adalah menerangkan gejala pewahyuan; bagaimana mungkin Tuhan yang
"speaking wordlessly" berkomunikasi dengan "lower world" dengan cara
yang "wordly".

Pertanyaan sederhana dan mengganggu: apakah benar bahasa Tuhan adalah
bahasa Arab? Apakah Tuhan punya bahasa? Apakah mamang ada "sacred
language" (in the true sense of the word)? Isn't it that any language
belong in the last analysis to human being?

Masalah ini rumit sekali, dan saya tak berpretensi menguasai
seluk-beluk soal ini secara baik, apalagi memberi jawaban. Saya
menikmati saja teori-teori yang dikemukakan para filosof dan teolog
Islam klasik mengenai masalah ini. Saya baru membaca karya klasik
Fakhr al-Din al-Razi, Al-Mathalib al-'Aliyah. Karya ini, buat saya,
luar biasa dahsyat dan mendalam, meskipun secara keseluruhan nadanya
apologetik.

Dalam buku itu ada bab khusus tentang argumen untuk membuktikan
kebenaran kenabian Muhammad. Masalah pewahyuan tentu disinggung.
Al-Razi meminjam analisis kaum filosof emanasionis seperti Ibn Sina
dan Al-Farabi untuk menjelaskan martabat dan hierarki akal manusia
yang berpuncak pada "akal kenabian" (al-`aql al qudsi, al-nafs
al-qudsiyyah). Inti argumen ini secara implisit adalah: wahyu tak bisa
turun secara random pada semua orang. Penerima wahyu haruslah memenuhi
kualifikasi tertentu. Orang yang secara kognitif tidak kompeten, tidak
akan pernah menerima wahyu.

Dengan kata lain, wahyu adalah proses dua belah pihak: Tuhan dan
manusia sekaligus. Walaupun Tuhan Maha Kuasa, tetapi Dia tak akan
memperlakukan wahyu seperti permainan rolet: diputar serrrrrrr, lalu
siapa saja, secara acak, bisa dapat rejeki nomplok yang namanya wahyu.
Argumennya sangat ndakik, dan rasanya saya tak ada waktu untuk
menuliskannya di sini.

Yang menarik buat saya, persis setelah pembahasan tentang nubuwwah
atau kenabian itu, ada bab lain tentang sihir, penyihir, dan dukun.
Al-Razi membahas rinci, mendalam, dan detil tentang fenomena
perdukunan dan sihir. Sebetulnya, pembahasan ini sebagian besar
merupakan pengulangan dari pembahasan serupa yang pernah dilakukan Ibn
Sina. Pertanyaan saya dalam hati: kenapa bahasan tentang perdukunan
dan sihir diletakkan setelah bahasan tentang kenabian?

Saya kira alasannya jelas: perdukunan adalah gejala yang hampir
menyerupai kenabian. Dengan kata lain, perdukunan dan kenabian adalah
"gejala mental" yang masih satu keluarga. Itulah sebabnya, dulu Nabi
pernah dituduh sebagai dukun (kahin) atau penyihir oleh masyarakat
Mekah. Tuduhan ini tak mungkin terjadi kalau tak ada kedekatan antara
kedua gejala itu. Tetapi, tentu perdukunan mempunyai sifat-sifat yang
secara kategoris berbeda dengan kenabian. Kenabian bersumber dari
Tuhan, perdukunan dari Setan; meskipun pembuktian sesuatu berasal dari
Tuhan dan yang lain berasal dari setan bukan perkara mudah.

Dalam seluruh sejarah kenabian, selalu ada masalah para "impostor",
yakni nabi-nabi gadungan yang hanya mengaku-ngaku nabi tanpa bukti
yang meyakinkan (ingat kisah Joan of Arc dalam tradisi Katolik).
Tetapi, anyway, baik dukun ataupun nabi, keduanya punyai klaim telah
menerima "inspirasi" dari sumber yang gaib. Soal sumber yang satu
bersifat baik, yang lain jahat, itu perkara lain.

Yang menarik lagi, coba perhatikan sejumlah hadis yang mengecam keras
orang-orang yang datang ke dukun. Sebuah hadis menyebutkan, seseorang
yang mendatangi dukun, pahala ibadahnya akan hangus semua dalam kurun
waktu 40 hari (tidak masuk dalam leger amal yang dipegang malaikat).
Di sini, tampak adanya kontestasi antara kenabian dan perdukunan.
Perdukunan adalah semacam "dunia gelap" yang bisa merongrong wibawa
kenabian. Kenabian selalu keep an eye atas dunia perdukunan, sebab
kalau tidak, otoritasnya dapat disubversi.

Para teolog Islam pun berusaha menghancurkan wibawa perdukunan, sebab
ia memang mengancam kenabian. Tak heran kalau bahasan tentang
perdukunan langsung menyusul bahasan tentang kenabian.

Pesaing kenabian yang lain adalah penyair. Sebagaimana Nabi, seorang
penyair juga mengklaim mendapat inspirasi. Karena itu, dulu Nabi juga
dituduh sebagai penyair. Wahyu menyangkal keras tuduhan ini. Para
teolog Islam pun menyangkal kalau Alqur'an adalah puisi, sebab, jika
dikatakan demikian, ada kekhawatiran Alqur'an adalah sama dengan puisi
para penyair yang merupakan pesaing Nabi itu. Padahal, secara literer,
beberapa ayat Alqur'an jelas menyerupai puisi, terutama puisi bebas
(bukan puisi taf'ilah dalam istilah Ilmu 'Arudl atau ilmu tentang
puisi klasik Arab –yakni puisi yang memakai meter atau ukuran/wazan).

Dengan demikian, kita telah melihat persaingan yang sengit antara
Nabi, Dukun, dan Penyair.

Kalau kita lihat ketiga jenis manusia itu, akan tampak bahwa ketiganya
bergerak pada level kognitif dan mental yang hampir serupa; ketiganya
bergerak pada level inspirasi-intuisi. Dalam menegakkan klaimnya,
ketiganya tidak menyandarkan diri pada bukti rasional, tetapi sejenis
"keajaiban" yang datang dari dunia eksternal. Dalam kasus Nabi,
keajaiban itu disebut "mukjizat"; pada dukun "istidraj"; dan pada
penyair, "keajaiban kata-kata" atau mantra/thalâsim.

Ketiganya tidak pernah memakai argumen rasional untuk mendukung
klaimnya masing-masing, meskipun Alqur'an, sebagai bukti kenabian
Muhammad, telah diklaim mengajukan bukti-bukti rasional juga oleh para
teolog Islam (menurut saya, klaim ini kurang begitu meyakinkan).

Dengan kata lain, baik Nabi, Dukun, dan Penyair mewakili suatu jenis
artikulasi mental tertentu dalam sejarah peradaban manusia. Yaitu,
artikulasi peradaban yang bersifat ekspresif-performatif. Inilah
peradaban yang diwariskan oleh nabi-nabi Israel (Islam masuk juga
dalam kategori ini).

Di seberang peradaban ini, ada jenis peradaban lain yang sumbernya
bukan wahyu atau inspirasi, tapi penalaran rasional yang dingin,
analitis, dan cenderung individualistik. Itulah peradaban yang lahir
di Yunani, dengan "nabi-nabi"-nya yang tak kalah mengagumkan, seperti
Socrates, Plato, dan Aristoteles. Mereka berangkat dari pengandaian
yang berbeda, yaitu "skeptisisme".

Kaidah dasar dalam peradaban analitis-rasional adalah "ragu dulu,
berpikir, baru percaya", yang berseberangan dengan etos peradaban
ekspresif yang bersumber dari Ibrahim, "percaya dulu, baru berpikir".
Dasar agama memang "percaya", sementara dasar filsafat adalah "ragu".
Etos yang berkembang dalam kedua bidang itu sangat berjauhan.

Saya tahu, ini hanya simplifikasi dari fenomena yang sangat ruwet dan
kompleks. Tetapi, tipologi peradaban ekspresif dan analitik bukan
tidak mengandung kebenaran. Dengan kata lain, kita menyaksikan
persaingan antara Peradaban Yerusalem vs Peradaban Yunani; antara Nabi
di satu pihak dan filosof di pihak lain. Di dalam peradaban Yerusalem
sendiri ada persaingan antara Nabi, Dukun, dan Penyair. []





http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke