Humaniora, Meretaskan Batas Keilmuan Penting Mempelajari Budaya Orang Lain dengan Rasa Empati
Jakarta, Kompas - Dalam menjawab permasalahan yang kompleks dalam tatanan dunia baru yang berorientasi pasar dan diwarnai kekerasan, sangat mendesak untuk menguak batas-batas keilmuan yang memagari suatu perspektif agar dapat mengembangkan lintas disiplin yang terus-menerus saling memperkaya. "Ke arah itulah seharusnya ilmu-ilmu humaniora dikembangkan agar punya peluang untuk meninggikan nilai hidup manusia," kata Prof Melani Budianta PhD (51) dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar tetap Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI) di Jakarta, Sabtu (28/1. Dalam pidato ilmiah sebelumnya, Prof Dr Rahayu Surtiati Hidayat (59) yang juga dikukuhkan sebagai guru besar tetap FIB-UI, juga menyinggung mendesaknya pendekatan lintas batas ilmu-ilmu humaniora. "Linguistik terapan merupakan bidang antardisiplin," tegas Rahayu. Dalam pidatonya "Humaniora dalam Pengembangan Pendidikan Tinggi", Rahayu menegaskan pembelajaran dan pengajaran bahasa tak dapat dilepaskan dari konteks sosial budaya, dan di situlah seharusnya para ahli linguistik terapan bergiat. Meretas batas "Banyak persoalan tak bisa dipecahkan oleh pendekatan monodisiplin," tegas Melani. Dalam soal trauma, misalnya, penelitian pakar kedokteran menunjukkan bahwa istilah-istilah metaforis yang digunakan penderita trauma kekerasan untuk mendeskripsikan gejala tubuhnya terkait dengan konsep tentang makrokosmos yang sangat kultural sifatnya. Pendekatan lintas disiplin juga harus digunakan dalam soal budaya urban. Dalam pidato ilmiah berjudul "Meretas Batas; Humaniora dalam Perubahan", Melani mengeksplorasi perubahan dan pergeseran pemaknaan tentang identitas, jati diri bangsa dan tradisi, seiring percepatan globalisasi dan transformasi kehidupan yang mengguncangkan. Perubahan politik telah melahirkan dikotomi-dikotomi yang tajam. "Reformasi membuka ruang publik dan keragaman politik, tetapi konflik horizontal, bom bunuh diri, dan berbagai kekerasan menguji solidaritas kita sebagai bangsa. Bencana beruntun menggoyahkan rasa aman," ujarnya. Demokrasi memunculkan perbedaan pendapat, tetapi internalisasi cap-cap dikotomis yang meruncingkan perbedaan dan menyempitkan ruang dialog juga tidak terhindarkan. Otonomi daerah membangkitkan semangat untuk memajukan kebudayaan daerah, tetapi juga memunculkan kecenderungan eksklusivisme. Kebudayaan yang dianggap sebagai penanda yang menentukan, tetapi konsep kebudayaan yang diacu para politisi dan penentu kebijakan adalah konsep kebudayaan yang bersifat reduktif, esensialis, dan stereotip. "Gerakan konservatif juga menggunakan sarana-sarana demokrasi, seperti kebebasan berbicara, pers bebas dan kecanggihan komunikasi berikut jargon-jargon pemberdayaan untuk mensosialisasikan visinya," lanjut Melani. Melani mengutip salah satu konsep alternatif yang ditawarkan sejumlah pengamat budaya terhadap kebuntuan persoalan identitas dan konflik, yakni afiliasi budaya. Afiliasi bukan "hibriditas", melainkan kemampuan dan kemauan untuk mengaitkan diri dengan budaya lain, dengan ringan, tanpa beban. Ia juga mengingatkan pentingnya warga dari suatu komunitas yang heterogen untuk memiliki imajinasi kreatif, yakni kemampuan membayangkan bagaimana rasanya berada di posisi orang lain yang lain darinya. Tindak afiliasi budaya ini juga dapat dilakukan oleh ilmuwan humaniora yang mempelajari budaya lain dengan empati dan pemahaman mendalam, tanpa penghakiman. Perhatian terhadap masalah kemanusiaan menempatkan ilmuwan ilmu-ilmu humaniora bukan hanya sebagai pengamat yang dapat mengambil jarak dan mengkaji secara obyektif, tetapi juga sebagai seseorang yang mempunyai empati terhadap subyeknya. Penelitian dan kajian humaniora secara tidak langsung merupakan tindak intervensi yang berpihak tanpa kehilangan keabsahan ilmiahnya. Melani Budianta adalah guru besar keempat di FIB-UI yang dikukuhkan tahun ini, sementara Rahayu Surtiati Hidayat adalah guru besar ketiga FIB-UI. (NMP/MH) http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/ [Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
