Matematika Dalam Kala Sunda
Oleh ROZA RAHMADJASA MINTAREDJA

KANG Sobirin dalam "PR" (8/1/2006) dengan penuh keyakinan atas hasil
pengamatannya menyatakan bahwa Kala Sunda dapat menjadi indikator
untuk mendeteksi gejala alam /lingkungan.

Padahal mungkin ribuan orang bahkan jutaan orang, tanpa ribut-ribut
menjadi pemakai penuh Kala Sunda. Tetapi setelah 5 abad baru satu
orang saja (Kang Sobirin, Anggota Pakar Lingkungan Hidup DPKLTS) yang
berani dengan tegas memproklamasikan fenomena Kala Sunda sebagai
milestones, tonggak pertanda zaman dengan segala perhitungan
futuristik mengenai peradaban dunia kelak. Mengapa?

Apakah banyak yang mengetahui dan menyadari bahwa, indung poe aboge (
Sunda Mataram taun alip rebo wage) telah berubah menjadi alapon (
Sunda Mataram taun alip salasa pon). Dalam Kala Sunda, alapon adalah
ketukal (taun kebo tumpek (Saptu) Kaliwon) .

Itulah sebabnya orang Sunda yang masih memakai indung poe aboge yang
oleh Abah Ali Sastramidjaya diberi istilah "Sunda Mataram" hanya
sebagai user atau pemakai belaka tanpa mengetahui asal usul dan dasar
perhitungannya menjadi "salah kaprah" tanpa ada "perubahan".

Di sini kita perlu mengetahui bahwasanya setiap 1 tunggul taun, (15
windu = 120 tahun) terjadi perubahan indung poe (Jw. khuruf). Tunggul
taun ke-3 dina (Sunda Mataram) indung poena adalah aboge (taun Alip
Rebo Wage) berlaku dari tahun 1866 s.d. 1982 masehi, hampir bersamaan
dengan tunggul taun ke-16 di Kala Sunda yang indung poena adalah
keradnis (taun Kebo Radite/Minggu Manis) berlaku dari tahun 1869 s.d.
1985 masehi.

Dengan demikian tunggul taun ke-17 dalam hitungan Kala Sunda indung
poena ketukal (taun Kebo Tumpek Sabtu/Kaliwon) berlaku dari tahun 1985
s.d. 2102 Masehi. Jadi pada taun 1942 caka (2006 Masehi), masuk dalam
tunggul taun ke-17 dengan indung poena adalah Tumpek (Saptu) Kaliwon.
Nama taun pada "Sunda Mataram" berbeda dengan nama taun pada Kala Sunda.

Pada "Sunda Mataram" taun ke-1. Alip 2. He 3. Jimawal Dst. Pada Kala
Sunda taun ke-1. Kebo 2. Monyet 3. Hurang dst, yang menggunakan
istilah nama-nama alam. Begitu juga dalam hal penentuan poe pasar
(panca wara). Kalau misalnya di Sunda Mataram jatuh pada Jumat Kaliwon
di Kala Sunda jatuhnya di Jumat Pahing dst. Penulis tidak menvonis
atau menyalahkan "orang Sunda" yang masih memakai indung poe aboge
tersebut, karena "ketidak tahuan" terhadap pergeseran tersebut. Kala
Sunda telah menghilang kurang lebih 500 tahun yang lalu. Artinya
ketidaktahuan itu amatlah wajar.

Penting sekali diketahui jika para pengguna perhitungan yang masih
memakai hitungan berdasarkan indung poe aboge harus mengubah patokan
indung poena, kalau tidak mau mengalami kegagalan/meleset dalam
perhitungannya.

Perhitungan astronomis/matematik Kala Sunda,tidak pernah ada yang
meng-"openi-nya kecuali Abah Ali Sastramidjaya. Bidang yang digeluti
Abah Ali adalah matematika, bukan sejarah, bukan seni, bukan sastra,
bukan pula antropologi. Bahkan bukan geologi, apalagi agama. Beliau
baru dapat berkomunikasi dengan para astronom yang mengeluti masalah
pertanggalan atau perkalenderan. Baru itu gayung bersambut! Sekali
lagi ditegaskan, harus yang berbasis ilmu matematika dan astronomis.

Terjadinya gerhana matahari, gerhana bulan dan lain-lainnya, yang akan
datang ataupun yang lalu bukan berbasis wangsit atau ramalan para
dukun. Itu semua berbasis matematika-astronomis. Itu semua dengan cara
perhitungan.

Teori Big Bang (ledakan akbar) kini diterima oleh para ilmuwan setelah
mengalami perdebatan sengit selama berpuluh-puluh tahun. Einstein dan
para pakar astronomi lainnya dengan tegas menyatakan, bila proses
perhitungan meleset 0,0001 cm saja, akan mengakibatkan runtuhnya alam
semesta/jagat raya ini.

Ternyata proses mengembangnya alam semesta itu merupakan keteraturan
yang pasti, bukan hanya cerita alam mengembang. Itu semua dapat
dihitung. Hanya zat yang mahadahsyat yang mampu mengatur jagat raya
ini. Kalau boleh saya sebut sang "manajer jagat raya" itu Sang
Mahatunggal, tidak mungkin dua apalagi tiga. Dalam istilah agama,
"Tuhan itu adalah Maha Esa", tidak dapat disamakan dengan apa saja
yang ada di alam semesta ini, apalagi rasionalismenya otak manusia
yang terbatas. Tuhan Yang Maha Esa itu adalah Tuhan kita semua, apa
pun nama dan sebutannya. Bahwa zat itu, adalah itu-itu juga,
Mahamutlak. Di sainer, pembuat, pengatur alam jagat raya ini. "What is
a name?"

Kembali kepada akar pembicaraan, penulis mengajak para pakar
matematik, astronomi/kalender sedunia, dapatkah engkau memahami hasil
perhitungan/guaran Abah Ali Sastramidjaya ini? Mari kita adakan
pertemuan dibidang ini! Saya " talek"bah Ali, sanggupkah? Dengan
santai beliau menjawab "Why not?" Saya tidak perlu menanyakan darimana
sumbernya, yang penting rumus itu ada! Dapat dipertanggungjawabkan
oleh Abah Ali sendiri, karena ini adalah rumus matematik!

Het bestaan van een kalender bij een volk bewjst een zekeregraad van
beschaving en de nauwkeurigheid van die kalender is een maatstaf voor
intellectuele ontwikeling. (Winkler Prins) encyclopedia. Terjemahan
bebas: Keberadaan Kalender pada suatu masyarakat,menjadi satu bukti
untuk mengukur derajat peradabannya, sedangkan tingkat ketelitian
kalendernya menunjukkan ukuran kecerdasan/intelektualnya.

Kita amati bagaimana Bah Ali Sastramihardja mengkur tingkat ketelitian
kalender yang ada di dunia. Diambil sampel "kalender matahari (surya)
2 buah yaitu Gregorian dan Sunda (Saka) dan "kalender bulan" (Candra)
3 buah yaitu Hijriah Jawa dan Sunda (Caka).

Pengukuran tingkat ketelitian Kala Sunda dengan membandingkan rumus
Kala Sunda dan rumus Astronomi.

Ringkasnya tingkat ketelitian 5 kalender tersebut sebagai berikut:

A. Kalender Matahari

1. Gregorian = 3.334 tahun. 2. (saka) Sunda = 80.000 tahun yang
terkoreksi oleh para astronom tahun 2000 menjadi 460.830 tahun!
Artinya tingkat ketelitian (akurasi) Saka Kala Sunda adalah 138 kali
lebih teliti (akurat) dari Gregorian (kalender Masehi yang dipakai
sekarang, dan disahkan oleh PBB menjadi kalender internasional pada
tahun 1956).

Bukan main! Tetapi wahai orang Sunda kiwari. Janganlah engkau
berbangga hati dulu. Matematika Sunda ini tidak pernah dibahas dalam
forum resmi dengan para ahli pananggalan (kalender) baik lokal,
nasional, bahkan internasional. Mengapa?

B. Kalender Bulan.

1. Hijriah = (2.420 tahun?), jika memakai rumus prahijrah . 2. Jawa =
2.420 tahun dalam arti hitungan Sunda Mataram. 3.Sunda = Dengan
memakai Dewa Indung Poe (setiap 20 tunggul taun akhir dikabisatkan)
akibatnya abadi, tidak berubah sepanjang masa. Artinya tingkat
ketelitian (akurasi) Caka sangat tinggi, sesuai dengan peredaran bulan
dari dahulu hingga akhir masa.

Sering Abah Ali Sastramidjaya berucap "Jika mengukur sesuatu, mau
pakai penggaris yang lurus atau penggaris yang bengkok?"

Penulis dramatisasi kembali pertanyaan kepada Abah Ali, dapatkah Abah
Ali disidangkan? Bangsa Batak, Kalimantan, Sulawesi, Bali, India,
Jawa, bangsa Eropa, Arab, punya kalendernya sendiri .

Orang Sunda berhak untuk mempunyai kalendernya sendiri, Kala Sunda!

Kami, tim Kala Sunda, sedang mempersiapkan Kala Sunda taun 1942 Caka
Sunda (2006) atas arahan dan bimbingan langsung dari Abah Ali
Sastramidjaya sendiri, atas dasar "sakadada sakaduga" tim kami dengan
bantuan masyarakat dan pemerintah provinsi Jawa Barat tentunya. Cag! 

Penulis, arsitek/konsultan perencanaan.





http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke