Baraya, Cik naon basa Sunda na "kekerasan"... poho euy
Rh Membangun Ruang Kasih Aloys Budi Purnomo Menurut agenda Promotor Keadilan dan Perdamaian (Promoter of Justice and Peace), tanggal 30 Januari lalu ditetapkan sebagai "Hari Tanpa Kekerasan". Apa yang bisa dipetik dari peristiwa ini? "Tajuk Rencana" (Kompas, 25/1/2006) memberi rambu- rambu peringatan yang patut disadari bersama. Kita pantas menyimak catatan itu. Kejahatan dengan kekerasan menghangat lagi. Belum selesai kita tertegun, boro-boro menangani, kasus-kasus kekerasan menghangat lagi. Varian kekerasan Kekerasan mewajah dalam berbagai varian (bentuk yang majemuk). Sebagaimana dicatat Weinata Sairin (Suara Pembaruan, 26/1/2006), Yayasan LBH Indonesia dalam laporan awal tahun 1999 merumuskan kekerasan dalam lima tipe. Kelima bentuk/tipe kekerasan itu adalah kekerasan negara, kekerasan antarkomunitas, kekerasan adu domba, kekerasan personal, dan resistensi masyarakat. Dari kelima bentuk kekerasan itu, relevan dan signifikan bila dicermati kekerasan negara. Berbicara tentang kekerasan negara, pikiran kita spontan melayang ke sebuah rezim yang lekat dengan stigma kekerasan, Orde Baru. Masih merujuk catatan Weinata Sairin (idem), kekerasan negara yang terjadi di zaman Orde Baru memberi gambaran amat jelas dan kuat betapa Orde Baru pada zamannya melakukan hal- hal yang menyengsarakan rakyat. Kekerasan seperti itu telah menjadi stigma bagi Orde Baru yang secara traumatik membekas hingga saat-saat ini. Dalam arti tertentu, kebijakan pemerintah di era reformasi di bawah kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla mengenai impor beras yang baru-baru ini didukung kalangan legislatif merupakan bentuk kekerasan terhadap rakyat, khususnya petani! Kebijakan untuk mengimpor beras amat ironis dengan fakta naiknya harga beras belakangan ini. Harga beras standar Rp 75.000 per karung (25 kg) naik menjadi Rp 120.000 atau naik Rp 1.800 per kg. Beras kategori baik yang sebelumnya Rp 90.000 per karung (25 kg) naik menjadi Rp 130.000, atau naik Rp 1.600 per kg. Beras murah dari Rp 1.500 menjadi Rp 3.900 per liter. Dalam kondisi ini, para petani kita tetap gigit jari! Ujung-ujungnya, rakyat miskinlah yang menanggung akibatnya, sebab untuk memenuhi kebutuhan pokok, yakni pangan, mereka akan tetap terjerat penderitaan! Ruang kasih Dalam arus kekerasan yang kian meluas, pantaslah kita merindukan ruang kasih. Ruang kasih adalah ruang yang mengatasi segala macam ketakutan akibat kekerasan. Meminjam bahasa Natan Sharansky (dalam The Case for Democracy, the Power of Freedom to Overcome Tyranny & Terror, PublicAffairs, New York, 2004: 40) ruang kasih yang bebas dari kekerasan akan terwujud manakala terjadi pergeseran dari a fear society menuju a free society. Natan bertutur, "A society is free if people have a right to express their views without fear of arrest, imprisonment, or physical harm!" Ruang kasih secara kuat diwariskan oleh tokoh-tokoh dunia. Ruang kasih secara kuat diwariskan oleh tokoh-tokoh dunia. Yesus dari Nazareth menegaskan, "Kasihilah musuh-musuhmu, dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu!" Mahatma Gandhi, pada tahun 1922, menyatakan, "Antikekerasan adalah pasal pertama iman kepercayaan saya dan pasal terakhir syahadat saya!" Ustadz Mahmoud Taha adalah tokoh Muslim yang amat gencar menentang kekerasan dalam masalah-masalah sosial dan selalu berkomitmen menyusun strategi antikekerasan dalam hidupnya. Kini pun, tiap hari, kita diundang untuk menyumbangkan sikap menghilangkan kebencian dan menumbangkan segala pandangan yang menanamkan kebencian. Hanya dengan cara itu kita dapat membangun ruang kasih bagi masyarakat! Sayang, para wakil rakyat di DPR tak mempunyai nurani yang cukup bebas menyuarakan aspirasinya membela rakyat dari kekerasan negara! Lagi-lagi, kita masih ditindas oleh tirani yang memenjara rakyat dalam belenggu a fear society! Aloys Budi Purnomo Rohaniwan, Pemimpin Redaksi Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan, Tinggal di Semarang http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/ [Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
