Refleksi di Tapal Batas Agama

Tahun-tahun belakangan ini semangat pluralisme agama di Tanah Air
banyak diuji. Yang terpenting untuk dikenang, kita mampu melewati
semua itu. Ke depan, keberlangsungan pluralisme agama tampaknya banyak
ditentukan kemampuan menggali apa yang oleh Hick disebut family
resemblances (kemiripan-kemiripan keluarga).

Kita hidup dalam ruang dan waktu yang membuat relasi dengan sesama,
alam, dan Tuhan menjadi relatif. Disadari atau tidak, keterbatasan ini
membuat manusia menjadi boundary maker (pembuat batas). Ketika
seseorang menyebut dirinya Muslim, Kristen, Katolik, Hindu, atau
Buddha, ia menunjukkan batas dirinya yang perlu dibedakan dari
pemeluk-pemeluk agama lain.

Bila batas ini direnungkan lebih jauh, terbuka dua kemungkinan untuk
memahami eksklusivitas dan inklusivitas agama. Mereka yang bisa
menerima perbedaan menganggap batas keagamaannya sebagai batas yang
fleksibel, bisa ditembus, dan terbuka untuk perluasan (permeable
boundary). Sebaliknya, mereka yang menolak perbedaan menganggap batas
keagamaannya sebagai batas yang kaku, tidak bisa ditembus, dan
tertutup rapat (impermeable boundary).

Eksoteris dan esoteris

Refleksi di atas semakin tajam bila diajukan pertanyaan: Apakah agama
secara intrinsik menyebabkan perbedaan itu? Jawabannya bersyarat:
"Ya", bila kita menerima bahwa nilai-nilai agama bisa mengalir dari
dua sumber, yaitu eksoteris/dogmatis dan esoteris/eksperiensial.

Pandangan eksoteris/dogmatis menekankan dimensi luar (exo-) yang
rasional dan obyektif sehingga berorientasi pada aturan-aturan
keagamaan, dogma, dan interpretasi atas dogma. Sebaliknya, pandangan
esoteris/eksperiensial menekankan dimensi dalam atau batin (eso-) yang
intuitif dan subyektif sehingga berorientasi pada pengalaman dan
praktik pribadi.

Pembicaraan yang bernuansa eksoteris-dogmatis sangat mungkin
menyebabkan kepala dan hati menjadi panas. Masing-masing pihak pulang
sambil menjaga "kestabilan suhu panas" di pikiran mereka. Ini wajar
karena adanya dinamika winner-looser (pemenang-pecundang).

Dalam dialog esoteris-eksperiensial, masing-masing pihak hanya
membagikan pengalaman mendekatkan diri dengan Yang Ilahi. Syarat
dialog ini amat sederhana. Pendengar cukup menjiwai perannya sebagai
pendengar yang baik. Masing-masing pengalaman diterima sebagai valid
dan benar.

Dialog antaragama semestinya sensitif dengan dua kecenderungan ini.
Jika tidak, dialog akan mudah bergeser menjadi diskusi yang sarat
dengan perdebatan intelektual. Sentralitas makna dialog terletak pada
komunikasi hati ke hati. Karena itu, dialog antaragama adalah bertukar
pengalaman di antara Homines religiosi (makhluk-makhluk religius).

Bila ini diterapkan, relasi antaragama berarti pemerkayaan spiritual
(spritual enrichment). William Johnston mengatakan, "We found that
dialogue based on theology and philosophy did not achieve much; but
when we talked from experience we suddenly discovered how closely
united we really were."

Fenomenologi pluralisme

Dialog antaragama selalu perlu didasarkan pada pengalaman religius.
Kita sering terlalu sibuk dengan konsep dan pemikiran pribadi kita
tentang penganut agama lain. Proses mental ini sering kali memburamkan
pandangan kita akan saripati pengalaman religius itu sendiri.

Menyadari keterbatasan manusiawi ini, ada baiknya mendengarkan seruan
pendiri fenomenologi, Edmund Husserl, "Zurück zu den Sachen selbst
(Kembali ke fakta-fakta itu sendiri)!" Artinya, prasangka dan
prapenilaian terhadap agama lain perlu dikurung terlebih dulu
(eingeklammert). Dengan begitu, kita bisa melihat lebih jernih
fakta-fakta yang ada dalam dunia pengalaman (lebenswelt) orang lain.

Bagaimana dengan nuansa subyektifnya? Itu bukan masalah, bahkan harus
dihargai. Manusia pada dasarnya subyektif dalam pengertian bahwa dunia
pengalamannya selalu menyertai persepsinya terhadap realitas. Semua
subyektivitas itu pada akhirnya bisa dicek kebenarannya secara
intersubyektif.

Mari melihat sekilas pengalaman ini. Masing-masing agama secara
berbeda merumuskan tahap-tahap kejiwaan dalam berelasi dengan Yang
Transenden atau Tuhan.

Huston Smith merangkumnya sebagai berikut: dalam Islam, pergerakan
bermula dari jism (jasmani) ke nafs (nafsu) ke ruh (roh) ke
qalb/fitrah (kalbu/fitrah); dalam Kristen, dari body (badan) ke psyche
(psike) ke soul (jiwa) ke spirit (roh); dalam Buddha dari lima skandha
ke gross mind (pikiran kasar) ke subtle mind (pikiran halus) ke Buddha
nature (Buddha dalam setiap orang); dalam Hindu dari gross body (badan
kasar) ke subtle body (badan halus) ke causal body (badan kausal) ke
atman (diri terdalam).

Tidak hanya itu, praktiknya pun tampil berbeda. Kita mengenal zikir
dalam Islam, kontemplasi dalam Kristen, meditasi Zen atau Ch'an dalam
Buddhisme, dan Yoga dalam Hinduisme.

Bagaimanapun, proses dan akhir perjalanan spiritual ini punya
kemiripan. Masing-masing butuh penarikan diri dari kesibukan pikiran
dan keterikatan dengan dunia untuk selanjutnya masuk dalam kekusyukan
lewat konsentrasi mendalam.

Puncak perjalanan spiritual ini adalah pengalaman mistis yang
dilaporkan banyak mistikus yang berbeda agama, seperti Jalaluddin
Rumi, Sakyamuni, Theresa dari Avila, atau Sankara. Pengalaman
menggetarkan dan mencengangkan (tremendum et fascinosum) ini, menurut
William James, bercirikan: waktu yang singkat, tak terekspresikan
dalam kata-kata, perasaan melayang-layang karena sentuhan ilahi,
penyatuan dengan segala sesuatu, pengetahuan akan diri sesungguhnya,
dan pemahaman akan kebenaran terdalam.

"Bhinneka Tunggal Ika"

Pengalaman mistis memang eksklusif pada segelintir orang karena
tuntutan kedisiplinan dan ketelatenan yang keras dalam kurun waktu
yang lama. Ini jelas agak bertentangan dengan masyarakat kita yang
semakin pragmatis dan serba instan. Perbedaan ini bisa diatasi dengan
mentransfer kebijaksanaan mistikus ke skema kognitif masyarakat yang
menjadi kelompok mayoritas. Dalam kaitan ini, para pemuka agama adalah
jembatan yang sangat baik.

Di kalangan awam, psikologi transpersonal sudah menangkap pentingnya
transfer itu bagi kesehatan dan kesejahteraan psikologis individu dan
masyarakat. Para psikolog transpersonal percaya, setiap orang bisa
belajar dan menarik manfaat dari kebijaksanaan yang dialirkan para
sufi, santo/santa, jivanmukta, atau bodhisattva.

Oleh karena itu, gerakan pluralisme agama di Indonesia perlu disikapi
sebagai niat baik untuk mengurung perdebatan dogmatis sembari berusaha
menghanyutkan diri ke muara yang menjadi esensi dari hubungan intim
antara manusia dan Yang Tak Berhingga.

Pertanyaan akhir, apakah dogma harus disingkirkan? Tentu saja tidak.
Dogma adalah petunjuk dan panduan yang tak terlepaskan dari dunia
pengalaman religius.

Perjalanan apa pun selalu membutuhkan petunjuk atau panduan. Secara
dogmatis kita berbeda, secara eksperiensial kita satu.

Inilah makna religius dari Bhinneka Tunggal Ika sekaligus pesan
universal yang ingin disampaikan para mistikus, seperti Ibn Arabi
ketika ia berpendapat, semua agama—baik yang tergolong samawi maupun
nonsamawi—tidak memiliki perbedaan.

Mengapa? Karena semua pemeluk agama menyembah Tuhan yang satu, yang
muncul dalam keberagaman mereka dan keberagaman sesembahan mereka.

Masih diperlukan sinergi, kerja lebih keras, dan semangat optimistis
untuk membawa pesan keberagaman ini dari otak ke hati dan dari hati ke
otak. Paling tidak, tahun yang baru ini bisa dijadikan babak baru
untuk melihat bahwa perbedaan itu indah untuk dijalani, seperti
indahnya keberagaman bunga di satu taman.

YF La kahija
Pengajar pada Fakultas Psikologi, Universitas Diponegoro





http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke