Produksi Kian Melemah
Fokus Investor Hanya di Sektor Sumber Daya Alam

Jakarta, Kompas - Kemampuan produksi di dalam negeri yang kian melemah
menunjukkan pembangunan ekonomi Indonesia makin terabaikan. Struktur
ekonomi kini justru bersandar pada kinerja ekspor bahan baku primer.
Hal ini dikhawatirkan dapat membawa Indonesia kembali pada struktur
ekonomi pada masa kolonial.

Kekhawatiran itu diungkapkan Guru Besar Ilmu Ekonomi Universitas
Indonesia BS Mulyana di Jakarta, Jumat (24/3). Mulyana mengingatkan,
tanpa kemampuan industrialisasi, globalisasi berpotensi menghadirkan
penjajah dalam pengertian ekonomi.

Ironisnya, jika ancaman itu menjadi kenyataan, masyarakat akan lebih
terpuruk karena sumber daya alam sudah makin merosot, sementara jumlah
penduduk dan volume kebutuhannya terus berlipat ganda.

Investasi berbasis sumber daya alam saat ini nyaris menjadi
satu-satunya sektor yang masih diminati penanam modal asing. Adapun
ekspor didominasi produk bahan baku dan impor barang-barang konsumsi
membanjiri pasar dalam negeri.

Posisi sebagai penyedia bahan baku amat melemahkan karena nilai produk
tidak pernah dapat ditentukan sendiri.

"Jika kita masih berharap untuk bertahan, industrialisasi tak bisa
diabaikan karena kekuatan ekonomi akan lebih ditentukan oleh kemampuan
pengembangan teknologi, bukan lagi pada kebisaan menyediakan bahan
baku," kata Mulyana.

Tak bisa bersaing

Globalisasi tak terhindarkan mendorong negara-negara memasuki era
perdagangan bebas dan aliran investasi bebas. Daya saing menjadi kata
kunci dalam arus globalisasi tersebut. Produk hanya bisa dijual jika
dapat bersaing dengan produk negara-negara lain. Persaingan ini bukan
hanya terjadi di pasar luar negeri, tetapi juga di dalam negeri.

"Sekarang tanda-tanda produk kita kalah bersaing di dalam negeri sudah
mulai terbaca. Dengan kondisi seperti itu, bagaimana bisa Indonesia
selalu menyatakan kesiapan memenuhi tuntutan pasar global pada forum
perundingan internasional. Tahu dirilah," kata Mulyana.

Pembangunan ekonomi, menurut Mulyana, tak berjalan karena
kebijakan-kebijakan ekonomi tidak terarah dalam kerangka peningkatan
produksi dalam negeri.

"Tidak ada grand design, masing-masing sektor seperti jalan
sendiri-sendiri. Masalah pertanian, misalnya, harga dasar jadi
perdebatan, tetapi tidak jelas bagaimana kemampuan produksi pertanian
dapat ditingkatkan dan mendukung pengembangan sektor-sektor lainnya,"
kata mantan Menteri Muda Perencanaan Pembangunan Nasional ini.

Diplomasi Ekonomi

Dalam sebuah diskusi di Jakarta, mantan Duta Besar RI di Geneva,
Tokyo, dan Washington Sumadi Brotodiningrat mengatakan, ketiadaan
strategi besar pembangunan ekonomi juga berdampak pada lemahnya
diplomasi ekonomi Indonesia. "Keberhasilan pembangunan ekonomi adalah
aset diplomasi yang kuat," katanya.

Arah pengembangan ekonomi yang jelas, pendekatan diplomasi yang pasti,
serta adanya kelembagaan yang mendukung juga disebutkan Sumadi sebagai
modal kesuksesan diplomasi pada perundingan kerja sama ekonomi
bilateral, regional, maupun internasional.

Dewasa ini, kelemahan diplomasi ekonomi Indonesia kerap dituding
sebagai penyebab lemahnya posisi Indonesia pada berbagai forum
perundingan ekonomi. Misalnya, pada forum perundingan Organisasi
Perdagangan Dunia. Mantan Menteri Luar Negeri Ali Alatas mengatakan,
kurangnya koordinasi antardepartemen menjadi salah satu sebab utama
lemahnya diplomasi ekonomi. (DAY)





http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke