Persoalan gizi pada anak- anak di bawah lima tahun masih merupakan
masalah serius pada sebagian besar kabupaten/kota di Indonesia. Data
yang dicatat oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pada tahun 2004
ada 5.119.935 anak balita yang menderita gizi kurang dan gizi buruk.
Kondisi gizi buruk, termasuk busung lapar yang belakangan terungkap,
sebenarnya dapat dicegah. Gizi buruk sebenarnya masalah yang bukan
hanya disebabkan oleh kemiskinan. Juga karena aspek sosial-budaya yang
ada di masyarakat kita, sehingga menyebabkan tindakan yang tidak
menunjang tercapainya gizi yang memadai untuk balita (masalah
individual dan keluarga).
Menurut antropolog FISIP-UI Achmad F Saifuddin, pekan lalu, gizi dan
masalah gizi bukan semata masalah kesehatan. Dalam masyarakat
berkembang masih ada pemikiran bahwa laki-laki dianggap lebih
baik/tinggi dibandingkan perempuan, sehingga kepentingan laki-laki
lebih diutamakan. Ini masalah budaya, cara berpikir masyarakat.
Contoh cara berpikir dalam masyarakat yang tidak menunjang gizi anak
terwujud dengan konsumsi rokok yang dilakukan oleh orangtua laki-laki
(bapak/ ayah). Ada banyak keluarga di Indonesia yang anaknya mengalami
gizi buruk, namun bapaknya terus saja merokok. Padahal kebiasaan
merokok itu berarti mengeluarkan uang. Banyak uang "dibakar" sia-sia
padahal sebenarnya dapat digunakan untuk membeli kebutuhan protein
atau menambah gizi anak.
Keluarga Atika adalah contohnya. Anaknya yang pertama, kini berusia
6,5 tahun, dulu sempat menderita marasmus (gangguan gizi karena
kekurangan karbohidrat), tapi sekarang sudah sehat. Namun anak
keduanyaberusia 1,7 tahunsaat ini menderita gizi kurang. Berat
badannya hanya tujuh kilogram.
Suami Atika bekerja sebagai buruh tani yang mendapat penghasilan Rp
10.000 per hari. Suaminya merokok dua kali sehari dan menghabiskan Rp
3.300 untuk membeli rokok. Atika sendiri tak tega bila suaminya yang
sudah capai bekerja di sawah tidak merokok setelah bekerja.
Memprihatinkan
Kondisi seperti ini jelas memprihatinkan. Faktor budaya seperti lebih
mementingkan rokok daripada gizi anak ini tentu sebaiknya tak
dipertahankan agar kita memiliki generasi mendatang yang sehat,
cerdas, dan produktif. Bukan generasi yang suatu saat justru menjadi
beban.
Tatang S Falah, Kepala Subdit Bina Kewaspadaan Gizi Direktorat Gizi
Masyarakat Departemen Kesehatan, menyatakan, ada empat masalah utama
gizi yang terjadi di Indonesia, yaitu kekurangan protein, vitamin A,
gizi besi dan yodium.
"Lima dari 10 ibu hamil menderita anemia gizi dan bisa meningkatkan
risiko ibu melahirkan serta berat badan bayi rendah. Status gizi anak
balita ini menjadi siklus. Empat dari 10 anak sekolah menderita
anemia, tiga dari 10 anak sekolah kekurangan yodium," kata Tatang.
Di tengah persoalan ini kita sadar bahwa solusi yang hanya bersifat
kuratif tidaklah cukup. Kita tidak bisa berharap masalah gizi buruk
bisa ditangani sepenuhnya tanpa menyelesaikan akar masalahnya. Karena
itu, harus ada pendekatan promotif dan preventif yang bisa membuka
kesempatan bagi pemberdayaan masyarakat, terutama kelompok masyarakat
yang terpinggirkan.... (LOK)
http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/
[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]
SPONSORED LINKS
| Spanish language and culture | Indonesian languages | Indonesian language learn |
| Indonesian language course |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Baraya_Sunda" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
