Bahasa Sunda dan Teknologi
                 Oleh US TIARSA R.                   "Ku naon ieu teh bet 
harengheng kieu?"
                   "Ke heula, can kararonek!" 
                                  DUA kalimat di atas merupakan rekaman 
percakapan dua orang pemuda di ruang                 sebuah kantor. Kalimat 
pertama diucapkan seorang operator ketika mendapati semua komputer              
   di ruangan itu hang (baca: heng). Kalimat kedua diucapkan teknisi muda 
sebagai                 jawaban atas pertanyaan operator. Ia tengah memperbaiki 
jaringan komputer itu. Kabel                 penghubung antarkomputer tidak 
terpasang sebagaimana mestinya sehingga antarkomputer di                 tempat 
itu tidak berhubungan. Dalam dunia komputer hubungan antarkomputer itu disebut  
               koneks. Koneksitas itu bisa dilakukan denghan menggunakan alat 
yang disebut modem,                 internet, atau kabel antar-CPU (otak 
komputer).
                 Kedua kalimat bahasa Sunda itu, sepintas sungguh 
membingungkan. Dalam konteks                 keseharian, kalimat pertama biasa 
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi,                 "Mengapa 
keadaan terasa genting?" Kata harengheng berarti genting, gawat                 
atau suasana yang makin memanas. Dalam Kamus Umum Bahasa Sunda LBSS, kata 
harengheng                 atau haringhang ialah situasi yang menimbulkan rasa 
khawatir, kalau-kalau terjadi                 peristiwa yang dapat mengganggu 
ketenteraman atau keamanan.
                 Sedangkan kalimat kedua, sama sekali tidak pernah terdengar 
dalam percakapan                 sehari-hari antar-orang Sunda. Dalam semua 
kamus bahasa Sunda yang pernah terbit, tidak                 terdapat kata 
kararonek. Secara etimologis, kata kararonek berasal dari kata                 
konek, diberi imbuhan atau sisipan (rarangken tengah) dua "ar"                 
sekali gus untuk menandakan jamak, sering, atau terus-menerus.
                 Secara maknawi, dua kalimat tersebut memiliki pengertian yang 
berbeda, bahkan                 kedua-duanya tidak berhubungan. Kalimat pertama 
bermakna khawatir menghadapi suasana yang                 makin genting, 
sedangkan kalimat kedua, tidak bermakna sama sekali. Namun secara               
  kontekstual, kedua kalimat itu saling berhubungan. Percakapan itu terjadi 
dalam konteks                 teknologi komputer. 
                 Peristiwa kebahasaan
                 Peristiwa kebahasaan itu membenarkan pendapat ahli bahasa yang 
mengatakan, sebuah kata                 akan bermakna bila sudah berada dalam 
hubungan kalimat dan dalam konteks yang jelas. Kedua                 kalimat di 
atas tidak punya makna apa-apa apabila kita tidak mengetahui konteksnya.
                 Menurut aturan tata kalimat (semantik), sebuah kalimat 
dikatakan benar bila mengandung                 tiga unsur kebenaran, yakni 
benar tata bahasa, benar logika bahasa, dan benar rasa bahasa.                 
Kalau kita kupas kedua kalimat itu dengan menggunakan pisau analisis tiga benar 
tadi,                 kalimat itu benar. Secara gramatikal, kalimat itu 
terstruktur secara baik (benar, sebatas                 ragam lisan). Kalimat 
itu juga logis, dan memiliki rasa bahasa yang sesuai dengan rasa                
 bahasa Sunda. 
                 Apabila kalimat itu secara semantik benar, apakah kedua 
kalimat bahasa Sunda itu benar                 atau justru salah? Ternyata 
dalil "tiga benar" itu belum lengkap benar. Masih                 ada parameter 
lain, yakni diksi atau penggunaan kata. Jadi persoalannya bukan pada            
     kalimat, tetapi pada penggunaan kosakata. Kata harengheng mengalami 
pergeseran                 makna dari genting atau gawat menjadi "tidak jalan" 
atau "menggantung"                 (heng). Kedua, ada kosakata baru (kararonek) 
yang benar-benar di luar                 kelaziman, terutama kelaziman 
diksionaritas. Akibatnya, kedua kalimat "benar"                 tersebut 
terkesan aneh, sekaligus fenomenal. 
                 Gejala bahasa seperti yang terjadi pada "kasus harengheng dan 
kararonek"                 itu berkaitan erat dengan fenomena sosial dan 
budaya. Budaya masyarakat Sunda tengah                 mengalami perubahan luar 
biasa, dari masyarakat tradisi ke modern, bahkan ada kelompok                 
masyarakat Sunda yang justru sudah berada pada tahap postmodern. Terjadi 
tarik-menarik                 amat dahsyat antara tradisi dan kekinian. Dalam 
penggunaan bahasa Sunda, misalnya. Dalam                 masyarakat Sunda kini 
tengah tumbuh keengganan menggunakan bahasa ibunya dengan berbagai              
   alasan. Namun pada sisi lain, tumbuh pula semangat baru yang ingin 
memelihara dan                 mengembangkan bahasa Sunda. Amat lumrah, bila 
dalam masyarakat terjadi degradasi kuantitas                 dan kualitas 
penutur bahasa Sunda. Kekentalan budaya, khsusunya bahasa Sunda, semakin        
         cair, khususnya di kalangan remaja.
                 Namun ketika sebagian besar remaja Sunda merasa turun gengsi 
bila bercakap-cakap dalam                 bahasa Sunda, masih ada dua orang 
pemuda pekerja itu yang tanpa "beban"                 bercakap-cakap dalam 
bahasa Sunda. Mereka tanpa ragu-ragu menggunakan bahasa Sunda dalam             
    konteks teknologi canggih. Keduanya memiliki keberanian luar biasa, membuka 
katup                 kemapanan bahasa Sunda agar secara leluasa, menerima 
kekayaan kosakata baru.
                 Milenium III ini merupakan abad teknologi informasi. Berbagai 
sarana diciptakan orang                 dengan kemajuan teknologi luar biasa. 
Dampak kemajuan teknologi itu pasti ada imbasnya                 juga terhadap 
kebahasaan. Semua bahasa di dunia dipaksa menyusun kamus istilah baru yang      
           terus-menerus harus di-update dengan frekuensi dan volume entri yang 
luar biasa                 tingginya. Justru, ketika teknologi dengan segudang 
istilahnya masuk ke dalam kehidupan                 budaya kita, kita 
terperangah, serba tidak siap, gamang, bahkan terbengong-bengong. 
                 Ketika orang di negara jiran sudah "bercakep menggune talipun 
bimbit",                 kita masih mencari-cari, telefon genggam, telefon 
nirkabel, telefon keupeul atau hape?                 Para ahli bahasa Sunda, 
khususnya penyusun istilah, tidak melakukan apa-apa ketika                 
teknologi komputer dengan segudang istilah teknologi dan nonteknologinya datang 
bagai air                 bah. Dengan kecepatan luar biasa, teknologi itu masuk 
ke dalam kehidupan budaya Sunda,                 bahkan sudah menjadi gaya 
hidup masyarakat Sunda.
                 Karena tidak ada kamus istilah yang selalu aktual dari hari ke 
hari, orang Sunda                 menggunakan istilah teknologi yang 
disesuaikan dengan lidah orang Sunda. Mereka berani                 keluar dari 
kaidah bahasa baku, karena memang butuh. Seperti dua orang pemuda tersebut,     
            mereka menggunakan istilah teknologi dengan pola pembentukan kata 
dalam bahasa Sunda,                 terlepas dari tepat atau tidaknya istilah 
tersebut.
                 Mendekati kematian
                 Tidak ada yang berani menyangkal, bahasa merupakan karunia 
Allah SWT bagi kemaslahatan                 umat manusia. Akan tetapi dilihat 
dengan kacamata ilmu, bahasa merupakan bagian dari                 kebudayaan. 
Sedangkan kebudayaan merupakan rekayasa manusia yang terus-menerus mengalami    
             evolusi bahkan revolusi. Artinya terus berubah sesuai dengan 
perubahan zaman dan kebutuhan                 masyarakat pencipta sekaligus 
pengguna kebudayaan itu.
                 Karena bahasa merupakan bagian dari kebudayaan, bahasa juga 
terus- menerus mengalami                 perubahan. Bahasa Sunda dari waktu ke 
waktu mengalami perubahan. Justru bahasa yang                 senantiasa 
berubahlah yang akan hidup sepanjang masa karena dalam bahasa itu terjadi       
          penyesuaian yang terus-menerus. Sebaliknya, bahasa yang mapan, 
tertutup, tidak mau                 menyesuaikan diri dengan perubahan zaman, 
bahasa itu sudah mendekati kematiannya. Bahasa                 yang sudah arif 
seperti itu akan ditinggalkan para penuturnya. Mereka akan mencari bahasa       
          lain yang mampu mengikuti perubahan zaman, selalu aktual, demokratis, 
dan komunikatif.
                 Ada pemikiran klasik yang mengatakan, sebuah bahasa etnik akan 
cepat hancur dan mati                 bila tidak dipelihara dan dilestarikan 
pemiliknnya. Benar. Orang Sunda berkewajiban                 memelihara bahasa 
miliknya, apalagi bila kita sadar, bahasa itu karunia Allah SWT yang            
     harus dijaga. Akan tetapi mustahil bila bahasa Sunda dijaga dan 
dilestarikan kemurniannya.                 Sebuah bahasa atau kebudayaan, akan 
terus saling memengaruhi dengan kebudayaan lain.                 Apakah bahasa 
Sunda yang sekarang hidup termasuk bahasa murni? Apakah bahasa Inggris tidak    
             pernah terpengaruh bahasa lain?
                 Bahasa yang lestari ialah bahasa yang digunakan secara 
terbatas dalam lingkungan yang                 sangat terbatas pula. Bahasa 
kitab suci merupakan bahasa yang terjaga kemurniannya. Pada                 
kehidupan sehari-hari, orang tidak menggunakan bahasa seperti bahasa yang 
digunakan dalam                 kitab suci itu. Bahasa Sunda yang digunakan 
dalam naskah kuno, berbeda dengan bahasa Sunda                 masa sebelum dan 
sesudahnya. Sepanjang dunia berputar, kebudayaan akan terus berubah. 
                 Karena itu yang harus dipelihara ialah komitmen orang Sunda 
sejak lahir. Orang Sunda                 akan menggunakan bahasa Sunda dalam 
berkomunikasi antarorang Sunda, sampai kapan pun.                 Kewajiban 
para ahli bahasa, terus mengembangkannya. Kajian kebahasaan, termasuk           
      penyesuaian, tidak mengenal berhenti. Hanya dengan cara itu, bahasa Sunda 
mampu mewadahi                 perkembangan, siap digunakan dalam zaman apa 
pun. Bahasa dan orang Sunda tidak gamang                 teknologi.*** 
                 Penulis, pernah bekerja di beberapa media berbahasa Sunda. 

                
---------------------------------
Yahoo! Sports Fantasy Football ’06 - Go with the leader. Start your league 
today! 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Check out the new improvements in Yahoo! Groups email.
http://us.click.yahoo.com/N6DZeC/fOaOAA/E2hLAA/9VOolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/
http://barayasunda.servertalk.in/index.php?mforum=barayasunda


[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke