--- Rahman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Nuhun KAng. He he he...Lain rek mela maneh. Heueuh ketah saha nu rek
> bebela ari lain diri sorangan mah nya? Kieu. Ti mimiti mula, kuring
> umajak ka sarerea sina make basa panengah. Ari keur kuring mah UUB rek
> dianggap euweuh we. Lain kunanaon, ieu sistem teh TEU strategis.
> Contona ge sarua pisan jeung kaayaan basa Jawa.
>
> Tah lebah dinya. Kuring ge make kecap ieu teh netral2 bae. Najan
> kuring teu resep ka Jang Osama, lain hartina kuring ngahina. Kecap anu
> dipake ku kuring ngaharip2 kana slang. Coba teangan dina kamus... da
> euweuh! ;))
>
Kang RH,
Aya nu rada nyambung yeuh perkara DIKSI. Teu nyambung mah
sambung-sambungkeun we nya. Hehehe.
salam,
mh
======
Betina, Wanita, Perempuan:
Telaah Semantik Leksikal,
Semantik Historis, Pragmatik
Sudarwati
D. Jupriono
Marilah Kita Dudukkan Masalahnya
Perbedaan makna kata betina dengan wanita atau betina dengan perempuan itu
sudah jelas bagi kita. Akan tetapi, apa beda antara wanita dan perempuan
ini yang belum jelas!
Telaah ini memang mencoba mendudukkan posisi tiap kata, kapan orang harus
menggunakannya sesuai dengan kandungan semantisnya dan maksud yang
diinginkan. Dengan demikian, diharapkan segera bisa dijawab saat harus
memilih manakah yang tepat: "Darma Wanita" ataukah "Darma Perempuan",
"Pemberdayaan Perempuan" ataukah "Pemberdayaan Wanita", misalnya.
Telaah dilakukan berdasarkan arti kata leksikal dasarnya, menurut kamus
(semantik leksikal) (cf. Hurford dan Heasley, 1984). Lalu, penjelajahan
arti akan dilengkapi dengan memanfaatkan beberapa hasil penelitian yang
ada, terutama tentang sejarah perubahan makna kata (semantik historis)
(Palmer, 1986: 8-11). Kajian ini juga akan melihat bagaimana arti kata
dalam pemakaian (pragmatik). Data dijaring dengan teknik dokumentasi acak
dari kamus dan teknik studi pustaka terhadap tulisan yang relatif lama
serta teknik rekaman tuturan keseharian. Dengan metode deskriptif, data
akan dianalisis dengan teknik eksplanatori-komparatif, yang akan
menjelasan perbandingan arti kata antarwaktu.
Apa Arti Betina?
Kata betina diduga kuat berhubungan dengan kata batina dalam bahasa Kawi
(Jawa Kuno) ("Kamus Jawa Kuno Indonesia", Mardiwarsito, 1986). Bahasa Kawi
sendiri kemungkinan besar menyerapnya dari bahasa Sanskrit (Sanskerta).
Relasi fonis batina dengan betina beranalogi dengan relasi fonis
mahardika-mardika-merdeka 'bebas'. Mungkin ini juga analog dengan
saksama-seksama (?).
Menurut "Kamus Dewan" (KD) (Iskandar, 1970: 114), kata betina merupakan
antonim jantan. Dalam pemakaiannya, betina cocok dilekatkan sebagai
pemarkah jenis (gender) binatang atau benda yang tidak hidup. Misalnya
dalam bahasa Indonesia (Melayu) kita temui ayam betina, singa betina,
bunga betina, dan embun betina.
Tidak jauh berbeda dengan KD, "Kamus Besar Bahasa Indonesia" (KBBI) (Tim,
1988: 111) menambahi satu makna lagi untuk betina, yakni 'sanak keponakan
dari istri'. Ada dua hal yang dapat dicatat dari tambahan acuan di sini.
Pertama, istilah "sanak keponakan" menunjukkan posisi generasi lebih muda.
Sebagai yang lebih muda, tentu dia tetap berada di bawah generasi lebih
tua. Kedua, pernyataan "dari istri" berarti bahwa yang dipandang bawah,
yunior, itu karena istri, dan istri selalu perempuan! Oleh karena itu, ini
juga menyiratkan muatan semantis bahwa apa yang datang dari istri (bukan
suami) akan ditempatkan di bawah suami.
Sebagai nama jenis kelamin binatang, betina tidak mengundang persoalan;
netral saja. Tidak ada muatan nuansa apa pun. Bagaimana seandainya kata
ini dipakai untuk manusia? Ini baru masalah! Jika dikaitkan dengan
aktivitas, keberadaan, dan sifat manusia, artinya menjadi tidak netral
lagi. Peribahasa Melayu "Baik jadi ayam betina sepaya selamat" (Iskandar,
1970: 114), misalnya, berarti 'kita tak usah menonjolkan keberanian sebab
hanya mendatangkan kesusahan belaka'; dengan kata lain, 'sebaiknya kita
diam, tak usah macam-macam, hindarilah tantangan'. Dengan demikian
"bersikap betina" justru dinilai positif dalam pandangan lama.
Bisa dimengerti, sebagai peribahasa Melayu Kuno, kandungan nilai
peribahasa ini juga tradisional, konvensioanl, dan feodal. Dalam pandangan
tradisional, sikap individualistik mesti dihindari (cf. Dananjaya, 1984).
Ini jelas bertolak belakang dengan pandangan modern, yang menempatkan
eksistensi individu pada tempat yang diakui. Oleh karena itu, penonjolan
individu tidak selalu jelek, bergantung pada konteks kepentingannya.
Dalam pemakaiannya sekarang, kata betina yang dikenakan pada manusia akan
menemukan makna buruk. Misalnya pada wacana berikut:
(1) Kamu ini kok cerewet banget sih. Urus saja diri sendiri. Ngapain tanya
urusan orang segala. Dasar betina!
(2) Winda benar-benar betina, yang nafsunya terlampau besar, hingga tak
pernah puas hanya dengan satu lelaki suaminya itu.
Dalam wacana (1), kalimat "Dasar betina" bermakna negatif: 'cerewet, usil,
mau tahu urusan orang saja'. Dalam kalimat (2), pernyataan "benar-benar
betina", berdasarnya konteks kalimatnya, berarti "minor" juga:
'nympomania'. Di sini Winda digambarkan sebagai perempuan yang bernafsu
menggebu-gebu, selingkuh dengan lelaki lain. Pada konteks inilah betina
menemukan makna buruknya. Harus diakui bahwa semua pandangan ini tidak
pernah bebas dari stereotipe gender perempuan dari masyarakat kita
(Kweldju, 1993). Maka, dalam kondisi apa pun tak pernah ada yang senang
disebut betina. Dengan demikian, yang muncul adalah Darma Wanita
(organisasi ibu-ibu pegawai) dan Bukan Perempuan Biasa dan tentulah tentu
bukan "*Darma Betina" atau pun "*Bukan Betina Biasa".
Singkat kata, kata betina memuat makna (1) 'jenis kelamin binatang', (2)
'cerewet, usil, dan (3) 'haus seks', serta (4) 'generasi yunior dari garis
istri'.
Apa Arti Wanita?
Sejarah kontemporer bahasa Indonesia, ya sekarang ini, mencatat bahwa kata
wanita menduduki posisi dan konotasi terhormat. Kata ini mengalami proses
ameliorasi, suatu perubahan makna yang semakin positif, arti sekarang
lebih tinggi daripada arti dahulu ("Kamus Linguistik", Kridalaksana, 1993:
12).
Menurut KD (1970: 1342), kata wanita merupakan bentuk eufemistis dari
perempuan. Pada halaman yang sama, dicontohkan frase wanita-wanita genit.
Contoh ini paradoksal. Sebab, jika wanita berupakan bentuk halus, mengapa
ada kata genit-nya, sesuatu yang jelas tidak halus. Tetapi, ini juga
menyiratkan pandangan bahwa kata itu memang khas untuk manusia
(perempuan), bukan lelaki, binatang, demit, ataukah benda lain.
Kata kewanitaan, yang diturunkan dari wanita, berarti 'keputrian' atau
'sifat-sifat khas wanita'. Sebagai putri (wanita di lingkungan keraton),
setiap wanita diharapkan masyarakatnya untuk meniru sikap laku, gaya
tutur, para putri keraton, yang senantiasa lemah gemulai, sabar, halus,
tunduk, patuh, mendukung, mendampingi, mengabdi, dan menyenangkan pria.
Dengan kata wanita, benar-benar dihindari nuansa 'memprotes', 'memimpin',
'menuntut', 'menyaingi', 'memberontak', 'menentang', 'melawan'. Maka, bisa
dimengeri bahwa yang muncul dipilih sebagai nama organisasi wanita
bergengsi nasional adalah "Darma Wanita", sebab di sinilah kaum wanita
berdarma, berbakti, mengabdikan dirinya pada lembaga tempat suaminya
bekerja. Maka, program kerjanya pun harus selalu mendukung tugas-tugas dan
jabatan suami,1) jangan bermimpi bisa independen memang bukan itu misinya.
Dalam KBBI (1988: 1007), wanita berarti 'perempuan dewasa'. Sama seperti
halnya KD, meski dengan redaksi lain, KBBI pun mendefinisikan kewanitaan
(bentuk derivasinya) sebagai "yang berhubungan dengan wanita, sifat-sifat
wanita, keputrian". Muatan makna aktif, menuntut hak, radikal, tak ada
dalam arti kata ini.
Berdasarkan "Old Javanese English Dictionary" (Zoetmulder, 1982), kata
wanita berarti 'yang diinginkan'. Arti 'yang dinginkan' dari wanita ini
sangat relevan dibentangkan di sini. Maksudnya, jelas bahwa wanita adalah
'sesuatu yang diinginkan pria'. Wanita baru diperhitungkan karena (dan
bila) bisa dimanfaatkan pria. Sudut pandangnya selalu sudut pandang "lawan
mainnya", ya pria itu. Jadi, eksistensinya sebagai makhluk Tuhan menjadi
nihil. Dengan demikian, kata ini berarti hanya menjadi objek (bagi lelaki)
belaka. Adakah yang lebih rendah dari "hanya menjadi objek"?
Makna wanita sebagai 'sasaran keinginan pria' juga dipaparkan oleh Prof.
Dr. Slametmuljana dalam "Asal Bangsa dan Bahasa Nusantara" (1964: 59--62).
Kata wanita, dalam bahasa aslinya (Sanskerta), tulisnya, bukan pemarkah
(marked) jenis kelamin. Dari bahasa Sanskerta vanita, kata ini diserap
oleh bahasa Jawa Kuno (Kawi) menjadi wanita, ada perubahan labialisasi
dari labiodental ke labial: [v]-->[w]; dari bahasa Kawi, kata ini diserap
oleh bahasa Jawa (Modern); lalu, dari bahasa Jawa, kata ini diserap ke
dalam bahasa Indonesia. Setelah diadopsi bahasa Jawa dan bahasa Indonesia,
kata ini mengalami tambahan nilai positif.
Ada juga pandangan lain, yang cukup "menyakitkan", yakni bahwa kata wanita
bukanlah produk kata asli (induk). Kata ini hanyalah merupakan hasil akhir
dari proses panjang perubahan bunyi (yang dalam studi linguistik sering
disebut gejala bahasa) metatesis2) dan proses perubahan kontoid3) dari
kata betina. Urutan prosesnya demikian. Mula-mula kata betina menjadi
batina; kata batina berubah melalui proses metatesis menjadi banita; kata
banita mengalami proses perubahan bunyi konsonan (kontoid) dari [b]-->[w]
sehingga menjadi wanita. Maka, memang aneh bin ajaib, bahwa kata yang
demikian kita hormati, bahkan kita letakkan pada tempat tinggi di atas
kata perempuan ini, maksudnya ya wanita itu, ternyata berasal dari kata
rendah betina.
Mungkin karena itulah, organisasi "Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia"
(Iwapi) sering dipelesetkan artinya tentu saja, oleh pria menjadi "Iwak-e
Papi-papi", "Dagingnya bapak-bapak" atau "Lauknya Bapak-bapak" seakan
wanita itu tak lebih dari "daging" atau "lauk-pauk" yang bisa dikonsumsi
oleh pria. Dalam karier militer pun, dipakai wanita. Misalnya saja "Korps
Polisi Wanita" (Polwan, 1948), "Korps Wanita Angkatan Darat" (Kowad,
1961), "Korps Wanita Angkatan Laut" (Kowal, 1962), "Korps Wanita Angkatan
Udara" (Wara, 1963). Meskipun begitu, pelecehen keterlibatan dan kemampuan
wanita dalam tubuh ABRI pun masih terjadi. Terang-terangan memang tidak,
tetapi ada dalam bentuk ungkapan humor di masyarakat (Dananjaya, 1984),
misalnya berikut ini.
Seorang komandan serdadu pada suatu front peperangan memerintahkan
penarikan mundur khusus serdadu wanita. Alasannya, mereka melanggar
disiplin medan. Serdadu-serdadu wanita, yang merasa tidak membuat
kesalahan disiplin militer, memprotes ramai-ramai. "Kesalahan??? Kesalahan
apa itu, Komandan? Ini tidak adil!" Jawab Komandan dengan kalem, "Kamu
sih, setiap diberi komando 'tiaraaap ...', ee kamu malah terlentang."
Ini merupakan pantulan realitas bahwa apa pun yang dilakukan wanita
tetaplah tak sanggup menghapus kekuasaan pria. Wanita berada dalam alam
tanpa otonomi atas dirinya. Begitulah inferioritas wanita akan selalu
menderita gagap, gagu, dan gugup di di bawah gegap gempitanya superioritas
pria.
Berdasarkan etimologi rakyat Jawa (folk etimology, jarwodoso atau
keratabasa, kata wanita dipersepsi secara kultural sebagai 'wani ditoto';
terjemahan leksikalnya 'berani diatur'; terjemahan kontekstualnya
'bersedia diatur'; terjemahan gampangnya 'tunduklah pada suami' atau
'jangan melawan pria'. Dalam hal ini wanita dianggap mulia bila tunduk dan
patuh pada pria. Sering ada ungkapan "pejang gesang kula ndherek" (hidup
atau mati, aku akan ikut suami), "swargo nunut, neraka katut" (suami masuk
surga aku numpang, suami masuk neraka aku terbawa). Ternyata anggapan Jawa
ini merasuk kuat dalam bahasa Indonesia. Kesetiaan wanita dinilai tinggi,
dan soal kemandirian wanita tidak ada dalam kamus. Karenanya, dalam bahasa
Indonesia kata wanita bernilai lebih tinggi sebab, kata Ben Anderson
(1966), bahasa Indonesia mengalami "jawanisasi" atau "kramanisasi":
kulitnya saja bahasa Melayu yang egaliter, tetapi rohnya bahasa Jawa yang
feodal itu.
Dalam persepsi kultural Jawa pulalah, kata wanita menemukan perendahan
martabat ketika ia "dipakai" salah satu barang klangenan (barang-barang
untuk pemuasaan kesenangan individu). Jargon lengkap populernya adalah
harta, senjata, tahta, wanita. Lelaki Jawa, menurut persepsi Jawa ini,
baru benar-benar mampu menjadi lelaki sejati, lelananging jagat, bila
telah memiliki kekayaan berlimpah (harta), melengkapi diri dengan
kesaktian dan senjata (senjata), agar dapat memasuki kelas sosial yang
lebih tinggi, priyayi (tahta), dan semuanya baru lengkap bila sudah
memiliki banyak wanita, entah sebagai istri sah entah sekadar selir atau
gundik4). Di sini tampak benar bahwa manusia wanita disederajatkan dengan
benda-benda mati semacam degradasi harkat martabat salah satu gender5),
sekaligus dehumanisasi.
Dengan demikian, untuk sementara bisa segera ditarik kata simpul: wanita
berarti 'manusia yang bersikap halus, mengabdi setia pada tugas-tugas
suami'. Suka atau tidak, inilah tugas dan lelakon yang harus dijalankan
wanita. Apakah memang demikian?
Apa Arti Perempuan?
Dalam pandangan masyarakat Indonesia, kata perempuan mengalami degradasi
semantis, atau peyorasi, penurunan nilai makna; arti sekarang lebih rendah
dari arti dahulu (Kridalaksana, 1993).
Di pasar pemakaian, terutama di tubuh birokrasi dan kalangan atas, nasib
perempuan terpuruk di bawah kata wanita, sehingga yang muncul adalah
Menteri Peranan Wanita, pengusaha wanita (wanita pengusaha), insinyur
wanita, peranan wanita dalam pembangunan, dan pastilah bukan *Menteri
Peranan Perempuan, *pengusaha perempuan (*perempuan pengusaha), *insinyur
perempuan, *peranan perempuan dalam pembangunan.
Dalam KD (1970: 853), kata perempuan berarti 'wanita', 'lawan lelaki', dan
'istri' . Menurut KD, ada kata raja perempuan yang berarti 'permaisuri'.
Dengan contoh ini kata ini tidak berarti rendah. Sementara itu, kata
keperempuanan berarti 'perihal perempuan', maksudnya pastilah masalah yang
berkenaan dengan keistrian dan rumah tangga. Dalam hal ini, meski tidak
terlalu rendah, tetapi jelas bahwa kata ini menunjuk perempuan sebagai
'penunggu rumah'.
KBBI (1988: 670) memberikan batasan yang hampir sama dengan KD, hanya ada
tambahan sedikit, tetapi justru penting, untuk kata keperempuanan. Menurut
KBBI, keperempuanan juga berarti 'kehormatan sebagai perempuan'. Di sini
sudah mulai muncul kesadaran menjaga harkat dan martabat sebagai manusia
bergender feminin. Tersirat juga di sini makna 'kami jangan diremehkan'
atau 'kami punya harga diri'.
Dalam tinjauan etimologisnya, kata perempuan bernilai cukup tinggi, tidak
di bawah, tetapi sejajar, bahkan lebih tinggi daripada kata lelaki. Ah,
masa?!! Ya. Jelasnya begini.
* Secara etimologis, kata perempuan berasal dari kata empu yang
berarti 'tuan', 'orang yang mahir/berkuasa', atau pun 'kepala', 'hulu',
atau 'yang paling besar'; maka, kita kenal kata empu jari 'ibu jari', empu
gending 'orang yang mahir mencipta tembang'.
* Kata perempuan juga berhubungan dengan kata ampu 'sokong',
'memerintah', 'penyangga', 'penjaga keselamatan', bahkan 'wali'; kata
mengampu artinya 'menahan agar tak jatuh' atau 'menyokong agar tidak
runtuh'; kata mengampukan berarti 'memerintah (negeri)'; ada lagi pengampu
'penahan, penyangga, penyelamat', sehingga ada kata pengampu susu 'kutang'
alias 'BH'.
* Kata perempuan juga berakar erat dari kata empuan; kata ini
mengalami pemendekan menjadi puan yang artinya 'sapaan hormat pada
perempuan', sebagai pasangan kata tuan 'sapaan hormat pada lelaki'.
Prof. Slametmuljana (1964: 61) pun mengakui bahwa kata yang sekarang
sering direndahkan, ditempatkan di bawah wanita, ini berhubungan dengan
makna 'kehormatan' atau 'orang terhormat'. Tetapi, yang dilihatnya di
masyarakat lain lagi. Maka, ia pun tidak mampu menyembunyikan keheranannya
berikut:
"... Yang agak aneh dalam tjara berpikir ini ialah apa sebab perempuan
tempat kehormatan itu semata-mata diperuntukkan bagi wanita, sedangkan
hormat dan bakti setinggi-tingginya menurut adat ketimuran djustru datang
dari kaum wanita, terhadap suami."
Itulah sebabnya, tidak sedikit aktivis gerakan perempuan baik yang di
bawah payung lembaga pendidikan formal maupun yang lebih suka malang
melintang di alam bebas Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lebih suka
memilih kata perempuan daripada wanita untuk organisasi mereka. Misalnya
Solidaritas Perempuan (Jakarta), Yayasan Perempuan Merdika (Jakarta),
Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (APIK, Jakarta), Lembaga Studi
Pengembangan Perempuan dan Anak (LSPPA, Yogyakarta), Sekretariat Bersama
Perempuan Yogya (Yogyakarta), Forum Diskusi Perempuan Yogya, Suara Hati
Perempuan, Kelompok Perempuan untuk Kebebasan Pers (KPKP), dan Gerakan
Kesadaran Perempuan--sekadar menyebut beberapa contoh. Menarik untuk
dicontohkan di sini bahwa nama jurnal keperempuanan terbitan LIPI adalah
"Warta Studi Perempuan" dan bukan *Warta Studi Wanita. Sementara itu, jika
dahulu "Women Study" diterjemahkan menjadi "Kajian Wanita", sekarang
muncul saingan baru, "Studi Perempuan".
Dari sudut sejarah pergerakan nasional pun, kata perempuanlah yang telah
menyumbangkan kontribusi historisnya. Kita ingat, kongres pertama
organisasi "lawan tanding lelaki" ini dinamainya "Kongres Perempoean
Indonesia Pertama, yang berlangsung pada 22 Desember 1928 di Yogyakarta
(Rahayu, 1996).6) Dalam Kongres I ini disepakati bahwa persamaan derajat
hanya dapat dicapai bila susunan masyarakatnya tidak terjajah. Langkah
organisasi pertama yang dilakukan adalah membentuk "Perserikatan
Perkoempoelan Perempoean Indonesia" (PPPI). Bahwa dalam perjalanan sejarah
lahir Kowani, Perwari, Perwani, KNKWI, BMOIWI, Ikwandep perhatikan, selalu
ada huruf /W/ setidaknya itulah jejak-jejak historis lingual bahwa kita
lebih memilih "wanita", dan bukan "perempuan", sebab yang kita kehendaki
bukan perempuan mandiri, melainkan perempuan penurut. (Silahkan pembaca
menjawab sendiri, apakah setelah lebih dari setengah abad kemerdekaan ini
kaum perempuan telah mencapai persamaan derajat, seperti impian Kongres
I).
Sejak kemerdekaan, seperti disebut di atas, derap Kongres Perempoewan
Indonesia sudah (di)musnah(kan) dari peredaran. Muncul
pengganti-penerusnya: Kongres Wanita Indonesia (Kowani) sejak menjelang
kemerdekaan, yang relatif lunak, umumnya terdiri atas para istri pegawai.
Mungkin sejak inilah wanita secara resmi menggeser perempuan. Sejak saat
itu setiap partai-partai politik di Indonesia juga mempunyai anak
organisasi wanita, bukan perempuan, misalnya Wanita Demokrat dan Gerakan
Wanita Marhaen (PNI), Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani, PKI), dan
pasca-1965 ada Persatuan Wanita Republik Indonesia (Perwari), serta Dharma
(1974) (Rahayu, 1996: 30-31).
Perempuan Disembah-sembah, Itu Dulu ...
Dahulu sesuatu yang bersifat perempuan dihormati, dijunjung tinggi. Dalam
hal ini kita tak lagi mempersoalkan perbedaan istilah wanita, perempuan,
betina, atau pun ibu, bunda, mbaktu, biyung, mama, dewi, putri, ratu. Kita
bicarakan hal itu secara global saja. Dahulu kaum ibu dikatakan sebagai
"tiang masyarakat", diluhurkan sebagai "ratu kehidupan", dan dimitoskan
sebagai "danyang kesuburan alam semesta", serta disembah-sembah sebagai
"penentu awal kehidupan manusia di bumi".
Zaman sekarang kaum ibu selalu dituding sebagai sumber kesalahan, terutama
berhubungan dengan kenakalan anak-anak. Bukankah mendidikan anak itu tugas
seorang ibu, bukan bapak? Karena perempuan mengalami domestifikasi peran,
bila terjadi kericuhan keluarga, ibulah yang layak dikorbankan sebagai
kambing hitam. "Ini gara-gara terlalu kau manja," atau juga "coba, kalau
kamu mendidiknya benar, anak kita tidak binal seperti ini," begitu kata
ayah. Dahulu, nasib ibu tidak seburuk ini, tidak dituding sebagai biang
kerok perkara. Dia sangat dibela, dibersihkan dari tuduhan. Posisinya
sebagai peletak awal kehidupan manusia sangat menentukan, karena dari
guwagarba rahimnyalah, manusia di bumi ini berasal. Oleh karena itu, jika
ada anak yang nakal, ibu akan dibela, sehingga ungkapan yang muncul adalah
"Bukan salah bunda mengandung" dan bukan ungkapan "*Bukan salah ayahnda
menghamili" atau "*Bukan salah ayahnda membuahi". Ini bukti pengakuan
bahwa mengandung itu lebih bernilai tinggi daripada menghamili (Kweldju,
1991). Karena yang mengandung itu biasanya ibu, ibulah yang lebih diharga.
Pelesetan-pelesetan di masyarakat terhadap kata-kata tertentu juga
menggambarkan seberapa jauh nilai dominasi pria terhadap wanita ini hendak
menandingi pemahaman masyarakat terhadap hakikat suatu kata. Semula,
berdasarkan etimologi rakyat (jarwodosok, keratabasa) Jawa, kata "garwo",
misalnya, dipersepsi sebagai "sigaraning nyowo" (belahan jiwa). Di sini,
kedudukan seorang istri cukup terhormat, sejajar, sama, segaris, dan
komplementer dengan suami; tidak ada nuansa dominasi dan subordinasi
antargender. Memang, garwo adalah kata yang netral, egaliter, tidak
memihak salah satu jenis kelamin (bias gender). Ia bisa mengacu baik
kepada "garwo jaler" (suami) maupun "garwo estri" (istri). Akan tetapi,
selanjutnya inilah kurang ajarnya pemahaman terhadap kata garwo telah
dipelesetkan sebagai "sigar tur dowo" (terbelah dan lagi panjang), sesuatu
yang bisa mengundang kesan porno dan pelecehan. Tidak sulit ditebak siapa
pelaku pemelesetan ini: pastilah dari barisan pria.
Tidak hanya persepsi kultural masyarakat, agama pun meletakkan ibu pada
posisi sangat terhormat. Dalam Islam, misalnya, ada hadis yang sangat
terkenal berkenaan dengan ini, yakni "Surga itu di bawah telapak kaki
ibu". Maka, menurut pandangan ini, tempat berbakti adalah ibu, ibu, dan
ibu, kemudian baru ayah. Mungkin karena kecemburuan religiusitas-gender,
di masyarakat kami pernah mendengar pelesetan sinis terhadap ini tentu
saja dari kaum bapak.7) Surah paling Al-Fatihah, saripati dari semua surah
dalam Kitab Suci Quran, misalnya, disebut "Ummul Qur'an" dan bukan "Abul
Qur'an" (Nadjib, 1996). Dalam agama lain pun kurang lebih sama. Begitulah
...
Perempuan Indonesia, Akan ke Manakah Anda?
Di sini jelas sekali bahwa jika yang kita maksudkan adalah sosok yang
mengalah, rela menderita demi pria pujaan, patuh berbakti, maka pilihlah
kata wanita. Maka, yang tepat tetaplah "Darma Wanita" memang dimaksudkan
untuk berbakti. Tetapi, jika kita berbicara soal peranan dan fungsinya,
soal pemberdayaan kedudukan, soal pembelaan hak asasi, soal nasib dan
martabatnya, tidak ada jalan lain, gunakan kata perempuan, semisal
"peranan perempuan dalam perjuangan", "gerakan pembelaan hak-hak perempuan
pekerja". Setuju?
Bisa dipastikan siapa pun akan ragu, jika hati harus lebih berpihak pada
perempuan daripada pada wanita. Justru, itulah bukti hebatnya hegemoni
patriarki dalam masyarakat mana pun, sehingga jangankan yang menguasai,
yakni pria, yang dikuasai pun, yaitu wanita, merasa takut, khawatir,
bahkan merasa menikmati "penguasaan" itu. Bagi kelompok terakhir ini,
hegemoni kekuasaan pria akan dinikmatinya sebagai "perlindungan" dan
"kasih sayang". Ditindas kok tidak melawan. Mengapa? Sulit menjawabnya.
Mungkin kaum wanita tergolong makhluk ajaib, yang suka menyiksa diri,
menyimpan samudra kesabaran luar biasa, suka berkorban, memang karena tak
berdaya, atau jangan-jangan mereka berjiwa masokistis, suatu jenis
kenikmatan dalam penindasan. Jiwa mereka berada dalam situasi terpenjara
(captive mind). Akhirnya, Perempuan Indonesia, terserah saja, Anda mau ke
mana ...?
Catatan
1. Orde Baru merumuskan peran kaum wanita ke dalam lima kewajiban
(Pancadarma): (1) wanita sebagai istri pendamping suami, (2) wanita
sebagai ibu pendidik dan pembina generasi muda, (3) wanita sebagai
pengatur ekonomi rumah tangga, (4) wanita sebagai pencari nafkah tambahan,
dan (5) wanita sebagai anggota masyarakat, terutama organisasi wanita,
badan-badan sosial, dan sebagainya yang menyumbangkan tenaga kepada
masyarakat. Perhatikan, di sini yang dinomorsatukan adalah kewajiban istri
sebagai istri mendampingi sang suami tercinta. Sementara, urusan bergerak
di sektor publik (di luar rumah) menduduki nomor bungsu, artinya tidak
dipentingkan. Ini terjadi sebab ada anggapan bahwa di luar rumah itu
urusan lelaki, sedang di dalam rumah (sektor domestik) inilah tempat tepat
wanita. Periksa: Binny Buchori & Ifa Soenarto, "Mengenal Dharma Wanita".
Mayling Oey-Gardiner dkk. (ed.), Perempuan Indonesia: Dulu dan Kini
(Jakarta: PT Gramedia, 1996) hal. 172-193); juga: Ruth I. Rahayu, "Politik
Gender Orde Baru: Tinjauan Organisasi Perempuan Sejak 1980-an. Prisma
XXV/5, Mei 1996: 29-42.
2. Metatesis adalah gejala perubahan (pertukararn) letak huruf, bunyi,
atau sukukata dalam suatu kata (Kridalaksana, 1993:136). Misalnya rontal
menjadi lontar, sapu<-->usap; dalam bahasa Jawa misalnya kelek<-->lekek
'ketiak'. Dalam bahasa Inggris ada flim<-->film, brid<-->bird (Jack
Richards, John Platt, dan Heidi Weber, 1987: 176), aks<-->ask (Crystal,
1985: 194).
3. Proses perubahan bunyi konsonan (kontoid) dalam bahasa-bahasa di
Nusantara dirumuskan dalam hukum-hukum perubahan bunyi. Salah satunya
adalah perubahan [w] dalam bahasa Jawa atau Jawa Kuno menjadi [b] dalam
bahasa Melayu (Indonesia) (Slametmulyana, 1964; Wojowasito, 1965; Keraf,
1987). Misalnya awu-->abu, watuk-->batuk, sewelas-->sebelas,
wulan-->bulan.
4. Raja, sultan, adipati, bangsawan, pada zaman dahulu umumnya memiliki
banyak istri dan selir. Misalnya, Paku Buana IV (Surakarta) mengumpuli 25
istri dan selir; Hamengku Buwono II (Ngayogyakarta Hadiningrat) menyimpan
33 istri dan selir. Tujuan memiliki banyak wanita adalah menghindari
kejahatan seksual dan mencapai konsolidasi kekuasaan politik untuk
mengesankan bahwa pemimpin itu lelaki luar biasa sakti mandraguna (super
human). Periksa: G. Moedjanto, "Selir", Basis, Januari 1973; juga Konsep
Kekuasaan Jawa: Penerapannya oleh Raja-raja Mataram (Yogyakarta: Kanisius,
1987).
5. Tentang konsep degradasi harkat martabat gender feminin, baca: D.
Jupriono, "Bahasa Indonesia Bahasa Lelaki", FSU in the Limelight edisi
nomor ini juga.
6. Lih. Ruth Indiah Rahayu, Opcit., hal. 29-42. Dalam artikelnya,
dijelaskan bahwa perempuan dan gerakannya telah lahir jauh sebelum
kemerdekaan RI. Aktivitas pergerakan perempuan terus berjalan hingga
mencapai puncaknya pada 1965. Sejak itu berlakulah proses domestifikasi
(pe-rumah-an) "perempuan" di segala bidang, menjadi "wanita". Tetapi,
bersamaan dengan itu, bermunculan juga berbagai organisasi "keras"
perempuan bergabung dalam Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).
7. Pelesetan itu demikian. "Surga ada di bawah kaki ibu", katanya,
"berlaku bagi seorang anak". Bagi seorang ayah, lain lagi, yaitu "Surga
itu ada di antara kedua kaki ibu"; "Ooo ... itu sih nerakanya. Setannya ya
kita-kita ini. Ha ha ha ...". Bahwa itu hanya kelakar, itu jelas. Tetapi,
di sisi lain, ini mungkin saja juga karena tidak tahu (menyadari) bahwa
yang mereka pelesetkan adalah sabda Rasul.
Daftar Pustaka
Buchori, B. & I. Soenarto. 1996. Mengenal Dharma Wanita. Hal. 172-193.
Mayling Oey-Gardiner dkk. (ed.), Perempuan Indonesia: Dulu dan Kini.
Jakarta: PT Gramedia.
Hurford, J.R. 1984. Semantics: a Coursebook. Cambridge: Cambridge Univ.
Press.
Iskandar, T. 1970. Kamus Dewan. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka,
Kementerian Pelajaran.
Kweldju, S. 1983. Penelitian seksisme bahasa dalam kerangka penelitian
stereotipi seks. Warta Studi Perempuan 4(1), 7-18.
Mardiwarsito, L. 1986. Kamus Jawa Kuno-Indonesia. Cet. III. Ende: Nusa
Indah.
Nadjib, E.A. 1966. Ibu Qur'an, bukan Bapak Qur'an. Padang Mbulan, 2,
April: 29-38.
Noerhadi, T. 1991. Studi Wanita di Indonesia. Makalah Seminar Nasional
Wanita 11--13 Juni 1991, di Wisma Kinasih, Bogor.
Palmer, F.R. 1986. Semantics. Edisi II, Cet. V. Cambridge: Cambridge
University Press.
Rahayu, R.I. 1996. Politik gender Orde Baru: tinjauan organisasi perempuan
sejak 1980-an. Prisma 15(5), Mei: 29-42.
Richards, J., J. Platt, dan H. Weber. 1987. Longman Dictionary of Applied
Linguistics. Cet. II. Harlow: Longman Group UK Limited.
Slametmuljana. 1964. Asal Bangsa dan Bahasa Nusantara. Jakarta: PN Balai
Pustaka.
Suryochondro, S. 1996. Perkembangan gerakan wanita di Indonesia. Hal.
290-310. Oey-Gardiner dkk. (ed.), Perempuan Indonesia: Dulu dan Kini.
Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. 1988. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi
I. Jakarta: Balai Pustaka dan Depdikbud.
Wojowasito, S. 1965. Linguistik: Sedjarah Ilmu (Perbandingan) Bahasa.
Djakarta: Gunung Agung.
Zoetmulder, P.J. 1982. Old Javanese--English Dictionary. 's-Gravenhage:
Martinus Nijhoff.
________________
Sudarwati, lecturer at the Faculty of Letters, Universitas 17 Agustus 1945
Surabaya.
D. Jupriono, lecturer at the Faculty of Letters, Universitas 17 Agustus
1945 Surabaya.
Sumber:
FSU in the Limelight
Vol. 5, No. 1
July 1997
=====
Situs: http://www.urang-sunda.or.id/
[Pupuh17, Wawacan, Roesdi Misnem, Al-Quran, Koropak]
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/
http://barayasunda.servertalk.in/index.php?mforum=barayasunda
[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/