--- In [email protected], "Rahman" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Judul na maksa euy! ;))

Setelah 20 Tahun Paramadina
Oleh Luthfi Assyaukanie
04/12/2006


Minggu-minggu ini, Paramadina merayakan miladnya yang ke-20. Berbagai
acara digelar untuk meramaikan ulang tahun ini, dari diskusi publik,
bedah buku, workshop, pementasan seni, hingga talkshow di radio dan
televisi. Semua kegiatan ini bermuara pada satu semangat, yakni
merayakan kebebasan dan menekankan pentingnya akal-pikiran.

Di tengah maraknya konservatisme agama dan meruyaknya kekerasan atas
nama Islam, perayaan milad Paramadina terasa penting; paling tidak
untuk mengingatkan kita semua bahwa masih ada lembaga Islam yang
mengambil jalan damai, mendukung toleransi, menghormati keragaman, dan
menjunjung tingi kebebasan.

Sejak didirikan 20 tahun silam, Paramadina memang diniatkan menjadi
semacam "dar al-hikmah" bagi bangsa Indonesia. Nurcholish Madjid,
tokoh penting di balik yayasan ini, adalah seorang intelektual yang
menganggap pemikiran sebagai elemen penting bagi kemajuan dan dinamika
masyarakat. Tanpa pemikiran, masyarakat akan mandek dan berjalan di
tempat.

Tentu saja, Paramadina bukanlah yang pertama dan satu-satunya lembaga
pemikiran di Indonesia. Tapi, sejauh menyangkut pemikiran keislaman,
boleh dibilang Paramadina adalah katalisator dan eksponen terdepan.
Pada pertengahan tahun 1980-an, ketika sebagian besar kaum Muslim
merasa complacent (puas) dengan penafsiran agama mereka, Paramadina
datang dengan pandangan-pandangan baru yang menggugah dan mencerahkan.

Sudah pasti Paramadina tak bisa dipisahkan dari Nurcholish Madjid,
yang sejak awal 1970-an menggebrak pentas wacana pemikiran di
Indonesia. Pandangan-pandangan keagamaan dan juga sosial-politik Cak
Nur (begitu dia biasa dipanggil), melampaui zamannya. Karena itu, tak
jarang, pandangan-pandangannya memicu kontroversi dan penolakan dari
sebagian tokoh Islam.

Ketika didirikan, Paramadina didesain sebagai lembaga pemikiran, bukan
lembaga politik. Sebagai lembaga pemikiran, Paramadina berusaha
menampung dan mengakomodasi seluruh jenis pemikiran yang berkembang di
Indonesia. Dalam diskusi dan kursus-kursus keagamaan yang
diselenggarakannya, berbagai aliran pemikiran mendapat tempat, dari
Sunni, Syi'ah, Ahmadiyah, hingga aliran-aliran pemikiran lainnya.

Paramadina juga membuka diri untuk setiap perdebatan spekulatif, baik
dalam persoalan teologi, filsafat, hingga teori-teori yang berkembang
dalam studi agama dan ilmu sosial. Singkat kata, Paramadina menjadi
tempat pertukaran gagasan dan persemaian ide-ide.

Sebagai lembaga pemikiran, Cak Nur menyadari betul bahwa kebebasan
haruslah menjadi landasan utama Paramadina. Tidak boleh ada represi
dan ancaman untuk setiap gagasan, seliar apapaun gagasan itu. Dalam
berbagai tulisan dan ceramahnya, Cak Nur selalu menyebutkan pentingnya
menghormati pendapat, sekalipun pendapat itu bertentangan dengan
keyakinan paling mendasar kita.

"Jika Tuhan saja membebaskan seseorang untuk menjadi ateis, maka tidak
ada hak bagi manusia untuk melarang ateisme." Begitulah pernyataan
yang kerap dilontarkan Cak Nur. Dengan keyakinan semacam itu,
Paramadina menjadi pusat pemikiran yang punya gravitasi bagi anak-anak
muda Islam. Sebagai segmen masyarakat yang sedang tumbuh dan memiliki
keingintahuan yang tinggi, anak-anak muda Islam merasa mendapat tempat
di Paramadina.

Milad ke-20 Paramadina tahun ini sesungguhnya punya arti penting. Di
tengah meruyaknya konservatisme agama yang ditandai fatwa-fatwa MUI
yang tidak bermutu, ulang tahun kali ini bisa dijadikan momentum
penegasan jati-diri Paramadina sebagai lembaga pemikiran, bukan
lembaga agama yang ingin mengusung satu pemahaman tertentu.

Tantangan terbesar Paramadina saat ini, menurut saya, adalah sejauh
mana ia bisa mempertahankan iklim kebebasan berpikir, sebuah gagasan
luhur yang menjadi raison d'etre pendiriannya. Universitas Paramadina
menjadi tolok-ukur terdepan bagi gagasan ini.

Dalam berbagai kesempatan, Cak Nur menginginkan Universitas Paramadina
sebagai centre of excellence, pusat ilmu pengetahuan, bukan pusat
dakwah keagamaan. Universitas bukanlah mesjid tempat orang beribadah
dan menyebar keyakinan agama. Universitas juga bukan lembaga politik
untuk merekrut dukungan dan menyiapkan modal material.

Setiap usaha untuk menjadikan Universitas Parmadina sebagai lembaga
keagamaan adalah pengkhianatan terhadap misi awal pendiriannya. Setiap
upaya untuk menjadikan Paramadina sebagai tempat rekrutmen dan
penyebaran ideologi politik adalah penghinaan terhadap cita-cita dasar
lembaga ini.

Para pengelola dan pengurus Paramadina, baik di Yayasan maupun di
Universitas sudah semestinya menyadari hal ini. Semoga Milad ke-20 ini
menjadi momentum untuk berefleksi dan mencari jalan terbaik guna terus
memajukan lembaga yang telah berjasa dalam meramaikan wacana
kebangkitan dan pencerahan Islam di Indonesia ini.

Kirim email ke