Kerja sama:
        

        


Biar Sehat, Menikah Yuk!


Perkawinan merupakan jawaban bagi masalah kekosongan eksistensial
manusia. Orang dapat saling memberi dan menerima cinta secara
eksklusif. Setiap pasangan berpeluang untuk bersama-sama mengembangkan
diri menjadi pribadi yang sehat dan matang. Mengapa menunda-nunda
perkawinan di usia yang telah matang ?

Seperti telah diuraikan pada tulisan edisi lalu, pada dasarnya manusia
terpanggil untuk hidup berpasang-pasangan. Manusia dapat menemukan
makna hidupnya dalam perkawinan. Sebagian orang menganggap bahwa
perkawinan membatasi kebebasannya, tetapi bagaimanapun sebagian besar
dari kita dapat mengakui bahwa perkawinan memberikan jaminan
ketenteraman hidup.

Crooks & Baur dalam bukunya, Our Sexuality (1990), menyebutkan
beberapa alasan mengapa seseorang memilih untuk melanjutkan hidupnya
dalam lembaga perkawinan. Alasan-alasan tersebut adalah:

1. Untuk memberikan suatu bentuk perasaan yang sifatnya menetap
tentang bagaimana memiliki seseorang dan menjadi milik seseorang serta
perasaan dibutuhkan orang lain.

2. Keyakinan bahwa kedekatan dan kepercayaan dalam perkawinan dapat
membawa suatu bentuk hubungan yang lebih kaya dan mendalam sifatnya.

3. Untuk dapat melakukan dan mendapatkan hubungan seks yang sifatnya
legal dan wajar secara norma sosial.

4. Harapan bahwa mereka akan semakin memahami kebutuhan
pasangannya,dan hubungan yang tercipta semakin harmonis seiring dengan
semakin dalamnya pengetahuan akan pasangannya. Hal ini jelas tidak
cukup didapatkan bila dilalui hanya dalam konteks hubungan percintaan
saja (date relationship).

5. Mendapatkan beberapa keuntungan secara keuangan dan hukum yang bisa
diperoleh dalam pernikahan.

Mengapa Menunda?

Pada edisi lalu, dikisahkan adanya seorang wanita cantik yang memilih
tetap melajang di usia 43 tahun. Pilihan melajang disebabkan orang
yang dicintainya telah menikah dengan wanita lain, dan ia tidak pernah
dapat jatuh cinta dengan pria lainnya.

Kisah lajang yang lain, seorang pria, mengaku sangat menikmati
pekerjaannya sebagai kepala cabang sebuah perusahaan penyedia
peralatan medis. Di usia yang  telah menginjak 33 tahun, ia belum
berniat menjalin hubungan serius dengan lawan jenis.

Ia menyukai relasinya dengan banyak orang; baik pria maupun wanita,
tanpa merasa butuh mengikatkan diri dengan seseorang sebagai pasangan
hidup. la beralasan bahwa pernikahan hanya akan mengurangi
kebebasannya untuk bergaul dengan siapa saja. Meskipun demikian, ia
juga tidak yakin, apakah hidup tanpa pasangan memang baik baginya di
masa depan.

Masih banyak lajang-lajang yang lain, yang telah berusia menjelang 30
tahun atau lebih, tetapi masih ingin menunda perkawinan. Marilah kita
menengok alasan-alasan mengapa orang belum mau menikah di usia yang
telah sangat matang.

Alasan yang mengemuka antara lain: (1) belum menemukan orang yang
cocok; (2) belum mengenal pasangan secara mendalam; (3) takut
mengganggu karier yang sedang dibangun; (4) masih menjadi tulang
punggung-keluarga dan belum siap membagi tanggung jawab lebih untuk
orang selain keluarga; (5) masih ingin bebas, masih ingin menikmati
kesendirian; (6) belum merasa mapan secara ekonomi; (7) belum siap
secara mental; (8) lain lain.

Sungguh banyak hal yang dapat menjadi alasan atau pertimbangan sebelum
seseorang memutuskan untuk menikah. Alasan pertama dan kedua dapat
dikatakan sebagai alasan yang mendasar karena perkawinan sebagai
relasi yang intim memang seharusnya dilandasi kecocokan dan saling
pengertian antarpasangan.

Dua alasan tersebut lebih banyak berkaitan dengan masa depan emosi
cinta. Tanpa itu, hubungan sulit diharapkan dapat berhasil. Sementara
itu, alasan ketiga dan seterusnya sifatnya sangat subjektif: ukurannya
 berbeda-beda antara satu orang dengan orang yang lain. Dengan kata
lain, alasan-alasan tersebut masih dapat ditawar.

Mantapkan Keputusan

Mengingat banyaknya sisi positif dari perkawinan, bagi yang masih
ragu-ragu untuk melangkah ke jenjang perkawinan. berikut disajikan
saran-saran sesuai dengan alasannya yang menyebabkan keraguannya untuk
menikah.

Jika Anda merasa belum mengenal pasangan Anda secara mendalam, yang
perlu dilakukan adalah memanfaatkan setiap kesempatan yang ada
(misalnya melalui pertemuan-pertemuan) untuk saling mengenal lebih
dalam kelebihan kekurangan pasangan. Jangan membuang waktu hanya untuk
bersenang-senang!

Bagi Anda yang takut bahwa pernikahan akan menghalangi pencapaian
karier yang diangan-angankan (terutama bagi wanita), lebih baik
pikiran itu dibuang jauh-jauh. Diskusikan dengan calon pasangan Anda,
dan tetapkan komitmen masa depan karier masing-masing, bagaimana
mengaturnya agar dapat diwujudkan bersama.

Bayangkan bahwa karier akan lebih nyaman untuk dijalani dengan
dukungan pasangan. Dukungan pasangan adalah salah satu dukungan sosial
(social support) terbaik dalam menghadapi setiap kesulitan hidup. Di
sisi lain, jika Anda masih menjadi tulang punggung keluarga, tentu
Anda dapat menunggu  sebentar sampai ada anggota keluarga (misalnya
adik) yang dapat mandiri dan bersama-sama berbagi beban dan tanggung
jawab.

Masih ingin bebas? Apakah jika sudah menikah Anda tidak akan bebas
lagi? Bukankah semuanya berpulang pada komitmen Anda dengan pasangan?
Tentu saja Anda masih dapat menjalankan segala akivitas Anda dengan
bebas di bawah kesepakatan dengan pasangan.

Dalam hal ini Anda menjalankan kebebasan dalam tanggung jawab, bukan?
Ataukah masih ingin menikmati kesendirian? Sampai kapan? Jangan sampai
nanti Anda justru menyesali setiap waktu yang terlewati dalam
kesendirian itu. We can't turn back the hand of time.

Belum merasa mapan secara ekonomi? Ini adalah alasan yang banyak
ditemui dalam masyarakat (terutama pria). Sebenarnya sederhana saja:
Menabunglah ketika Anda sudah bekerja. Sedikit demi sedikit. Itu akan
sangat membantu kelak.

Banyak pula yang berpendapat bahwa jika menunggu mapan, kemapanan akan
semakin sulit diraih  karena tanpa sadar kita menaikkan standar
kemapanan versi kita sendiri. Mereka yang mengatakan hal tersebut juga
menyatakan: Menikahlah, maka Anda akan segera merasa "mapan!"

Lalu, bagaimana jika Anda belum merasa siap secara mental? Hal ini
tentu saja bukan hal sepele. Di mana Anda belum siap? Di bagian apa?
Mengapa? Kira-kira apa jalan keluarnya? Mungkin saja butuh waktu
sampai Anda benar-benar merasa siap, tetapi tentu saja pada akhirnya
keputusan tetap harus diambil bukan?

Partunangan

Ada sebuah cara yang lazim dilakukan untuk lebih mengikat fisik dan
terutama hati pasangan serta belajar lebih siap mehghadapi pernikahan,
yaitu dengan melaksanakan pertunangan (engagement).

Kata orang, dengan pertunangan pasangan kita bisa lebih terjaga. Benarkah?

Pertunangan sering juga dilakukan untuk melicinkan jalan suatu
pasangan menuju ke gerbang pernikahan. Namun, ada suatu fakta yang
dikemukakan oleh Benokraitis (1996), yaitu pasangan Octavio Gullen dan
Adriana Martinez dari Meksiko yang menghabiskan waktu selama 67 tahun
dalam ikatan pertunangan dan memastikan satu dengan yang lainnya
adalah orang yang tepat sebelum menikah.

Fakta ini pasti akan membuat kita tersenyum. Salah satu yang melintas
di benak kita adalah, masih bagus salah satu dari mereka belum
dijemput ajal. Seandainya demikian, pertunangan itu tak akan pernah
berakhir.

Dalam semangat religius, pernikahan adalah sesuatu yang sakral;
menikah adalah ibadah. Kenapa harus menghindarinya? Segala ketakutan
dan trauma masa lalu (jika ada) akan terhapus melalui tangan waktu dan
kebahagiaan yang menanti di balik optimisme.

Saat berpacaran masing-masing individu sebaiknya belajar untuk menjadi
lebih dewasa, dan saat menikah proses belajar tersebut terus berlanjut
dan memasuki tahap yang lebih tinggi.


Sumber: Gaya Hidup Sehat

Kirim email ke