ANALISIS EKONOMI

Manajemen Perberasan

FAISAL BASRI

Tak teramat sulit untuk memahami kenaikan harga beras belakangan ini,
apalagi kejadiannya sudah berulang kali, seperti telah menjadi
"ritual" tahunan. Namun, penyelesaiannya tak pernah kunjung tuntas,
cuma sebatas penggunaan jurus yang itu-itu saja, yakni membuka keran
impor beras untuk meredam kenaikan harga. Akibatnya, "seribu satu"
masalah yang menjadi penyebab karut-marutnya dunia perberasan kita tak
kunjung ditangani dengan saksama.

Mari kita mulai mengurai masalahnya dari pendekatan keseimbangan
penawaran dan permintaan. Dari sisi penawaran, sangat sulit untuk
membantah bahwa luas lahan pertanian padi dari waktu ke waktu kian
menciut. Areal sawah telah banyak berubah fungsi menjadi permukiman
dan kawasan industri, khususnya di Pulau Jawa.

Di sisi lain, upaya untuk membuka lahan pertanian sawah di luar Jawa
lewat program transmigrasi sudah tak terdengar lagi. Ada banyak lagi
faktor yang menambah tekanan pada sisi produksi.

Pertama, petani kian kerap mengalami kelangkaan pupuk. Pabrik pupuk
menghadapi kendala pasokan gas. Tenaga penyuluh pertanian menciut,
sementara itu balai-balai penyuluh pertanian telah berubah fungsi.
Banyak saluran irigasi yang rusak. Tidak terjadi peningkatan efisiensi
yang berarti karena masih banyak mesin penggilingan gabah dengan
teknologi usang.

Di sisi lain, permintaan beras terus meningkat. Pertumbuhan penduduk
yang belakangan ini cenderung naik merupakan pendorong utama. Kita
juga lamban dalam melakukan diversifikasi pangan sebagaimana tecermin
dari konsumsi beras per kapita per tahun yang tak mengalami penurunan
berarti. Akibat ketidakseimbangan itu, tekanan kenaikan harga beras
kerap dan akan selalu terjadi.

Dalam jangka pendek bisa diatasi dengan operasi pasar. Namun,
mengingat cadangan beras yang dimiliki Bulog kian menipis, mengimpor
beras merupakan keniscayaan.

Apakah kita akan terus membiarkan mata rantai masalah perberasan tak
terputuskan? Akankah kita membiarkan masalah ini semakin jauh dari
penyelesaian tuntas? Kita tentu tak menghendakinya. Oleh sebab itu,
penyelesaian tuntas hanya bisa kita tempuh seandainya kita mau beralih
dari sekadar pendekatan harga ke arah pengembangan perangkat-perangkat
kebijakan nonharga.

Langkah pertama yang harus ditempuh ialah membenahi data perberasan
dengan mengonsolidasikan data yang berbeda-beda di setiap instansi
pemerintah. Dengan demikian, tidak ada lagi perbedaan data karena
kepentingan yang berbeda. Dengan satu versi kita akan memiliki peta
perberasan yang akurat. Dengan demikian, semua kalangan akan berlapang
dada menerima kenyataan impor beras jika stok menipis dan harga naik
tajam.

Semakin sempit

Ruang gerak para spekulan pun terbatas. Semakin sempit lagi jika Bulog
semakin efektif melaksanakan perannya sebagai stabilisator harga. Oleh
sebab itu, pemerintah harus lebih fleksibel dalam menetapkan harga
pokok pembelian (HPP) gabah ataupun beras. Pemerintah perlu
mempertimbangkan masukan dari sementara kalangan yang memandang bahwa
HPP sudah terlalu rendah dibandingkan dengan harga eceran, yang
mengakibatkan Bulog tak bisa membeli beras langsung dari petani.

Selain mempertimbangkan penyesuaian HPP, perlu pula dipikirkan
peraturan perundang-undangan yang lebih efektif untuk mengamankan
kepentingan petani, yakni yang tak hanya bersifat mengikat ke dalam
atau ke jajaran bawahan presiden, melainkan juga ke luar dengan
cakupan lebih luas.

Produk hukum yang mengikat lebih luas ini juga hendaknya meliputi
penanganan faktor-faktor nonharga yang lebih terinci. Bulog bisa
berperan lebih aktif mendorong modernisasi dalam usaha penggilingan
padi agar petani mendapatkan peningkatan nilai tambah, plus membenahi
manajemen pengadaannya sehingga mampu menekan biaya transaksi.

Petani gurem bertambah

Langkah berikutnya ialah penataan lahan pertanian, antara lain lewat
reformasi agraria. Berdasarkan hasil Sensus Pertanian terakhir, jumlah
petani gurem dengan luas lahan usaha kurang dari 0,5 hektar bertambah
dengan rata-rata 2,6 persen setahun. Jumlah mereka sudah menjadi
mayoritas, yakni 56,6 persen dari keseluruhan rumah tangga pertanian.

Dengan pengusahaan lahan yang sangat sempit, tentu saja makin banyak
petani yang tak mampu menopang kehidupan utamanya dari sektor
pertanian. Bahkan, untuk memenuhi kebutuhan beras dalam setahun pun,
mereka tak mampu sehingga makin banyak saja petani yang menjadi
konsumen neto. Menghadapi keadaan demikian, sungguh kebijakan harga
bakal menuai buah simalakama.

Langkah-langkah di atas sepatutnya merupakan bagian yang terintegrasi
dari program revitalisasi pertanian yang sudah dicanangkan pemerintah.
Unsur lain yang harus segera dirumuskan ialah cetak biru pembangunan
infrastruktur pertanian dan pedesaan sebagai bagian yang tak
terpisahkan dari upaya pengentasan penduduk miskin.

Sebagai Ketua Dewan Ketahanan Pangan (DKP) dan juga memimpin langsung
upaya pengentasan penduduk miskin, Presiden sudah saatnya untuk lebih
mempertajam dan mempertegas arahannya kepada para menteri sektoral
agar bahu-membahu melakukan koordinasi perencanaan.

Presiden perlu lebih sigap mengambil inisiatif menghadapi saat-saat
krisis. Pembahasan masalah yang sangat krusial seperti ini tak cukup
hanya dilakukan di sela-sela acara kenegaraan. Presiden pun perlu
menggelar lebih sering pertemuan DKP secara terjadwal.

Langkah-langkah pemerintah dalam menangani persoalan kenaikan harga
beras khususnya dan penataan sektor pertanian umumnya akan sangat
menentukan masa depan perekonomian dan ketahanan bangsa. Penyelesaian
pragmatis jangka pendek memang harus ditempuh. Kalau terpaksa
mengimpor beras, lakukanlah dengan cara yang benar dan transparan.
Jangan sekali-kali meredam tekanan politik dengan membagi-bagi konsesi
atau jatah impor beras.

Sudah waktunya pula para petinggi negara membangkitkan semangat dengan
melakukan kampanye tidak makan beras sehari dalam seminggu, seperti
yang pernah dilakukan Presiden Korea Selatan pada tahun 1970-an,
tatkala menghadapi masalah seperti kita sekarang. Kalau modal semangat
saja sudah redup dan ditepikan, kita pantas prihatin kepada para
pemimpin kita. 

Kirim email ke