Kebangsaan Bangsa Indonesia Harus Diselamatkan
Jakarta, Kompas - Bangsa Indonesia menghadapi masalah yang membuat masyarakat frustrasi dan kehilangan harapan. Masalah-masalah itu mulai dari kemiskinan, pengangguran, kekerasan atas nama agama, hingga korupsi yang meruntuhkan sendi kehidupan berbangsa. "Jika tidak segera diselamatkan, bangsa ini betul-betul hancur," kata mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Ahmad Syafii Maarif dalam refleksi akhir tahun 2006 yang tergabung dalam Gerakan Penegak Moral Bangsa di Jakarta, Selasa (19/12) malam. Tergabung dalam gerakan ini Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi, Uskup Agung Jakarta Julius Kardinal Darmaatmadja SJ, Ketua Umum PGI Pdt Dr AA Yewangoe, tokoh Buddha Bhikku Sri Pannyavaro Mahathera, dan Xueshi Djaengrana Onganwijaya. "Gerakan ini ingin mengingatkan presiden agar lebih responsif dan decisive mengambil keputusan untuk menangani krisis multidimensi," ujar Syafii. Bangsa ini, menurut Syafii, tak bisa menutup mata pada kemiskinan, jaminan pendidikan dan kesehatan, korupsi, dan perdagangan manusia yang terjadi di depan mata. "Bangsa ini memerlukan keteladanan moral yang harus tercermin dalam perilaku bajik di berbagai bidang," ujarnya. Menurut Syafii, keadaan Indonesia tidak bisa dihadapi dengan retorika para pemimpinnya. Rakyat menantikan kerja konkret dari pemerintah. Meski sudah ada kerja pemerintah, kenyataannya kerja itu belum banyak dirasakan rakyat. "Rakyat rindu dengan pemimpin yang mau berjibaku demi kebaikan rakyat banyak," ujarnya. Julius mengatakan, saat ini bangsa Indonesia kekurangan orang yang mau berkorban karena lebih mementingkan kepentingan diri sendiri. Padahal, sikap berani berkorban untuk kepentingan umum sangat dibutuhkan. "Sayangnya, mungkin kita lupa mendidik anak-anak kita untuk mau berbagi dan berkorban itu, sehingga yang muncul sekarang seperti keserakahan," ujarnya. Hasyim mengatakan, perjuangan amar ma'ruf nahi mungkar memang tidak mudah dilakukan. Orang lebih mudah berlomba melakukan kebajikan daripada melawan kesesatan. "Melawan yang batil itu beresiko dan membutuhkan kekuatan. Kekuatan itu tidak sekadar fisik, tetapi juga dengan ilmu pengetahuan, kekayaan ekonomi, informasi, dan pendidikan," ujarnya. (MAM)
