Mutlak dalam Kenisbian Oleh :
Ahmad Syafii Maarif Mantan Ketua PP Muhammadiyah Seperti sudah saya katakan bahwa di kalangan para mufassir belum ada kesepakatan dalam memahami ayat 62 Al-Baqarah dan ayat 69 Al-Maidah. Jadi bila kemudian telah memancing sikap pro dan kontra terhadap Resonansi tertanggal 21 November 2006 itu sebenarnya tidak ada yang luar biasa. Iman saya mengatakan bahwa Alquran itu mengandung kebenaran mutlak, karena ia berhulu dari yang Maha Mutlak. Tetapi sekali ia memasuki otak dan hati manusia yang serba nisbi, maka penafsiran yang keluar tidak pernah mencapai posisi mutlak benar, siapa pun manusianya, termasuk mufassir yang dinilai punya otoritas tinggi, apalagi jika yang menafsirkan itu manusia-manusia seperti saya. Oleh sebab itu, dari sikap pro dan kontra terhadap apa yang saya kemukakan semestinya orang akan mau belajar agar lebih arif dan rendah hati untuk mengatakan bahwa tafsirannya tetaplah nisbi. Jika ada orang yang mengatakan bahwa penafsirannya mengandung kebenaran mutlak, maka ia telah mengambil alih otoritas Tuhan, sebuah kesombongan yang tidak dapat dimaafkan. Adanya ungkapan Allahu a'lam (Allah Maha Mengetahui) yang sering kita jumpai di akhir sebuah karya tulisan menunjukan bahwa betapa nisbinya manusia itu. Saya tidak perlu lagi mengulas delapan tanggapan yang dimuat Republika sejak tanggal 1 sampai dengan 22 Desember 2006. Reaksi dalam internet dan sms entah berapa pula banyaknya, ada yang langsung ke HP saya. Masing-masing telah memberikan argumennya berdasarkan pemahamannya dan tingkat kualitas ilmu dan emosinya. Semuanya harus dihargai, sekalipun kita belum tentu setuju. Alquran adalah Kitab Suci yang terbuka untuk diterima atau ditolak dengan risikonya masing-masing. Sudah hampir 15 abad Alquran dikritik, dihina, dan didustakan oleh mereka yang tidak setuju. Kitab Suci ini tetap bertahan dalam keagungan dan kedahsyatan pesannya. Pertanyaan yang segera muncul adalah, jika pesannya agung dan dahsyat, mengapa umat yang mengaku percaya kepadanya tidak agung dan dahsyat? Mengapa sebagian mereka menjadi manusia kerdil dengan wawasan yang tidak melampaui tuturan atap rumahnya, atau untuk meminjam Iqbal, mereka penaka burung alit yang hanya pandai menari dari kembang ke kembang? Sebagai umat yang masih berada di buritan peradaban, dapat dipahami mengapa sebagian kita begitu gampang gamang, gelisah, reaktif dan labil, kalau jumlah umat berkurang, pindah menjadi umat lain. Orientasi yang serba kuantitatif ini menjadi salah satu sebab mengapa sebagian kita begitu alergi terhadap makhluk pluralisme. Dikatakan dengan pluralisme orang akan lalu lalang pindah agama semau gue, karena menurut mereka pluralisme memandang semua agama itu sama. Jika ini yang terjadi saya mendaftarkan diri berdiri di garda paling depan untuk melawannya. Bagi saya pluralisme adalah sebuah fakta keras sejarah, bahkan dalam menafsirkan wahyu yang sama oleh umat yang sama, pasti akan terasa nuansa perbedaan yang kadang-kadang sangat tajam. Paham pluralisme memberi peluang kepada siapa saja untuk menyakini agamanya sebagai mengandung kebenaran mutlak, tetapi hak serupa juga harus diberikan kepada penganut agama lain untuk memegang prinsip yang sama. Yang penting kita harus berlapang dada meneggang perbedaan paham apapun di planet bumi yang satu ini. Iman saya mengatakan, penganut ateisme pun adalah makhluk Allah yang harus dihormati dengan catatan kita saling menghargai. Tidak ada peradilan duniawi yang berhak membinasakan kaum ateis ini selama mereka tidak melawan hukum positif yang berlaku dalam sebuah negara. Oleh sebab itu membinasakan pihak lain yang tidak sepaham tanpa melalui proses hukum adalah perbuatan biadab yang harus ditentang. Prerogatif Allah Dari beberapa tanggapan yang dimuat, ada sebuah ungkapan yang menurut saya mengandung kebenaran, yaitu merupakan hak prerogatif Allah untuk memasukkan seorang hamba ke dalam surga atau neraka, tentu sesuai dengan keadilan-Nya yang tanpa cacat. Sebagai intermezo, baik juga saya rekamkan di sini tanggapan seorang dari sebuah pesantren dalam kalimat berikut: "Pak Syafii pindah ke nasrani saja, kan enak ibadahnya cuma 1x seminggu. Semua agama kan benar semua masuk surga. Resonansi bapak tidak (ada) gunanya, tapi melemahkan saudara-saudara kita yang gigih melawan kristenisasi. Untuk apa Tuhan menurunkan Islam kalau dengan agama lama sudah masuk surga. Bagaimana mungkin syirik/trinitas masuk surga? Agama tersebut benar tapi pada zamannya... jangan sampai kita kufur dalam berpikir." (sms jam 20.49 tanggal 9 Desember 2006, ejaan disesuaikan). Ketika tanggapan itu saya teruskan kepada seorang kyai maka jawaban yang diberikan dalam bentuk anekdot tapi cukup mendasar adalah: "Mereka rakus surga dan melakukan kekerasan teologis, joke saya, mereka akan masuk sendiri dan kelelahan nyapu surga yang luasnya tak terbatas. Kita masuk surga bukan karena shalat dan ibadah kita. tapi karena kemurahan Allah kok."(sms jam 21.35 tanggal 9 Desember 2006, ejaan disesuaikan). Bukankah yang kita cari dalam hidup ini semata-mata keridhaan Allah yang tidak terlalu terpaku dan terpukau oleh surga? Hamba yang tulus bukanlah seorang buruh Tuhan yang selalu menuntut kenaikan upah, bukan? Jam terbang spiritual kita mari sama kita tinggikan lagi, agar panorama yang terlihat semakin terhampar luas tanpa batas. Janganlah kita merasa mampu berjalan di langit untuk mengutip Iqbal lagi, sementara di bumi kita terkapar. Akhirnya selama posisi umat masih dalam keadaan lemah lahir batin seperti sekarang ini, selama itu pulalah dialog yang sehat, dingin, konstruktif dan bermutu tinggi akan sulit dilakukan. Kecemasan yang sangat akan kehilangan jumlah umat merupakan monster yang menakutkan di kalangan sebagian kita. Hanya sedikit di antara kita yang benar-benar berorientasi kepada kualitas sehingga diktum Alqur'an (Al-Baqarah 148): fastabiqu al-khairat (berlombalah dalam kebajikan) dapat kita menangkan. Menang bukan untuk menindas dan melecehkan pihak lain, tetapi untuk menebarkan rahmat di muka bumi. Semoga saya tidak lah berada dalam kategori kufur dalam berpikir.
