Hihihi leres Kang sapagodos di urang mah teu eucreug oge aman dan nyaman weh ... benten sareng di Amrik anu ceunah di hujat ku urang yen eta nagara teh lasut pisan... buktosna Gegedug Enron nipu masyarakat nepika suicide gara-2 social punishment-na peurih pisan... manehna geus teu di percaya ku masyarakat nepika rek nanaon oge manehna teu nyaman jeung teu gareunah antukna sutress n' ya sutraaa kitu...
Tah di urang mah raoseun pisan kitu janten nu teu eucreug... da kumaha deui atuh saur TII oge da lembaga tempat urang anu eucreug ngadukeun anu teu eucreug oge geuningan teu eucreug :( hiks hiks... istilahna mah... urang rek curhat ngadukeun misalna si Jack babaturan nengeulan urang teh kalahka urang di baledog nepika di panjara gara-2 si Jack sohiban jeung tempat ngadu eta... Ceuk Bah Reuwi Van Houston mah ceunah... lamun di Amrik mah bandit atawa panjahat oge masih boga rule of the game hehehe... tah lamun di urang mah ceunah pakojot bin pabeulit van pabaliut... duka tah maksudna kumaha :(. Janten kumaha atuh nya bangsa ieu teh mani katurug katutuh kitu :(. Salam Pohoan :D, Asep ----- Original Message ----- From: Rahman To: [email protected] Sent: Saturday, January 06, 2007 2:40 AM Subject: [Baraya_Sunda] Pohoan euy? Bangsa Pelupa Budiarto Shambazy Tak sulit mencari orang yang bertanggung jawab atas berita bohong tentang lokasi reruntuhan pesawat AdamAir. Fitnah itu boleh jadi disengaja karena sangat terinci dengan menyebut angka pas 90 korban tewas dan 12 selamat. Mudah menebak fitnah keterlaluan itu disampaikan penduduk di sekitar lokasi. Namun, mereka tak lagi bersalah saat fitnah itu "naik jenjang" birokrasi dari desa sampai ke pusat. Aneh, tak ada yang berusaha melakukan verifikasi. Makin aneh, banyak pejabat, Selasa (2/1) pagi sampai petang, berlomba mengeluarkan berbagai pernyataan post factum untuk keluarga korban. Oke, Menteri Perhubungan Hatta Rajasa dan Komandan Pangkalan Udara Hasanuddin Makassar Marsekal Pertama Eddy Suyanto minta maaf. Seperti biasa, masalahnya dianggap selesai. Media massa yang ikut menyiarkan fitnah itu perlu meminta maaf juga. Stasiun televisi CNN, Rabu (3/1), meminta maaf kepada Senator Barack Obama karena di layar televisi menulis kalimat "Di mana Obama?" dalam item berita tentang Osama bin Laden. Tahun 1970, para pejabat, termasuk Menlu Adam Malik, ditipu skandal "Bayi Ajaib". Cut Zahara Fonna mengaku mengandung janin yang bisa berbicara dari perut dan mereka berduyun-duyun menempelkan telinga ke perutnya untuk mendengar sabda si janin. Sang janin dianggap jelmaan dari langit yang layak disembah. Tak sedikit yang mengeluarkan sumbangan supaya karier dan bisnis lancar. Selama berpuluh-puluh tahun kita ditipu Orde Baru yang berkampanye China komunis negara terbelakang, pemerintahnya jahat, dan rakyatnya miskin. Pemerintah melarang hurufnya di tempat umum dan keturunan China di sini diminta mengganti nama Indonesia. Setelah normalisasi hubungan bilateral, ketahuan jika Beijing jauh lebih makmur, modern, dan tertata rapi dibandingkan dengan ibu kota negara kita. Sekarang saja masih ada hoax yang bertujuan menakut-nakuti rakyat seperti munculnya spanduk-spanduk "Awas Komunis Bangkit Kembali" yang banyak dipasang di Jakarta. Udara di sekitar kita makin hari makin dikotori oleh aneka kebohongan publik. Dengan sendirinya masyarakat terjangkit penyakit "katanya". Penyebab utamanya pemerintah, seperti kata iklan, sering gagal bersikap "terus terang, terang terus". Sejarah dibelokkan demi langgengnya kekuasaan. Ketika Orde Baru tumbang, satu per satu rahasia berhamburan dan menyebarkan bau yang menusuk hidung. Hati sedih pemerintah melarang pemutaran film Saijah and Adinda yang diambil dari novel Multatuli yang kritis terhadap sistem penjajahan Belanda yang memperalat Bupati Lebak, Banten, Jawa Barat. Ilmuwan-ilmuwan politik kita mustahil menulis karya-karya kritis terhadap Orde Baru kecuali kalau mau dikarungin. Pers dan publik dibombardir dengan berbagai pernyataan tak jujur. Kekuasaan yang manja dan antikritik sudah terlalu lama mendominasi ruang publik. Contohnya, pemerintah menyalahkan kapten dan awak kapal Tampomas II yang tenggelam di Selat Makassar, 17 Januari 1981, dan memakan korban sekitar 500 tewas. Para pejabat di Departemen Perhubungan yang KKN dalam pembelian kapal yang tidak safe itu malah lenggang kangkung. Pers mengkritik pembelian 39 kapal selam yang tak jelas kualitasnya dari bekas Jerman Timur dan telah menghambur-hamburkan dana. Hasilnya, majalah Tempo dibredel. Pejabat selalu mempunyai alasan atau kambing hitam untuk menutup aib mereka. Mereka akan dengan serampangan menuduh siapa pun sebagai kelompok ekstrem kiri atau kanan, ikut aliran sesat, atau jadi anggota Organisasi Tanpa Bentuk (OTB). >small 1<>small 0 Jika pemerintah tak berterus terang, rakyat mencari sumber- sumber berita lain, termasuk pergunjingan "katanya". Apalagi sebagian masyarakat lebih memercayai hal yang gaib ketimbang bukti empiris dan lebih senang gosip daripada fakta. Jika sopir mobil melindas kucing ia akan berhenti, mengelilingi mobil tujuh kali, dan berhenti menyopir selama 40 hari. Kalau menabrak penyeberang jalan, ia kabur karena tak mau bertanggung jawab atau dihakimi massa. Ada yang yakin penyebab tsunami di Aceh ledakan uji coba senjata nuklir bawah laut. Bom Bali pertama merupakan konspirasi karena ada saksi mata yang melihat "sinar biru" di udara saat bom meledak dan ratusan warga asing tiba-tiba meninggalkan Pulau Dewata. Semua orang di dunia telanjur percaya pada fitnah tentang lokasi pesawat AdamAir yang disebarkan oleh pemerintah. Aneh tetapi nyata. Udara kita disesaki huruf-huruf beterbangan yang menimbulkan kesimpangsiuran. Isinya, pernyataan awut-awutan dari mulut pejabat yang semua orang sudah tahu (stating the obvious) dan hanya ingin membuat senang setiap kalangan (to whom it may concern). Maka berdatanganlah bantuan dari luar negeri. Dan betapa kurangnya perhatian pada berita tenggelamnya kapal-kapal yang menyeberangi Laut Jawa, termasuk Senopati Nusantara. Semua orang berteori, mulai dari yang masuk akal sampai yang spekulasi. Dan sebentar lagi semua tak ingat lagi karena tertelan kesulitan hidup sehari- hari. [Non-text portions of this message have been removed]
