Inggris Muslim RI Bantu Rekan Soal Sikap Moderat Oleh RAKARYAN SUKARJAPUTRA
London, Kompas - Muslim RI akan membantu Muslim di Inggris dalam pengembangan sikap moderat melalui program yang disiapkan Islamic Advisory Group RI-Inggris. Diharapkan, kecenderungan meningkatnya ekstremisme di kalangan muda Muslim Inggris bisa ditangani. Hal itu disampaikan Ketua Delegasi RI di pertemuan Islamic Advisory Group (IAG) RI-Inggris, Prof Dr Azyumardi Azra, yang mengunjungi delegasi IAG Inggris yang berlangsung Senin hingga Selasa (30/1) di London, Inggris. "Muslimin Inggris berharap banyak kepada organisasi dan kaum Muslimin RI. Kenapa Indonesia yang dipilih? Muslim Indonesia berhasil mengembangkan Islam yang toleran. Muslim Indonesia juga berhasil membuktikan bahwa Islam kompatibel dengan demokrasi," ujarnya. Dalam pertemuan itu disepakati sejumlah program yang bisa dimulai pada tahun ini juga. Tujuan program adalah mengatasi gejala ektremisme di kalangan muda Muslim Inggris, mengembangkan pengertian yang lebih baik terhadap Islam, maupun antara Muslim dan non-Muslim Inggris, dan antara Muslim Inggris dengan pemerintah. Pertemuan IAG RI-Inggris diikuti tujuh anggota delegasi dari RI dan tujuh anggota delegasi dari Inggris. Delegasi RI terdiri atas Azyumardi Azra, Hasyim Muzadi, Dien Syamsuddin, Marwah Daud Ibrahim, Nazaruddin Umar, Abdul Mu'ti, dan Yenny Wahid. Delegasi Inggris, antara lain, terdiri atas Dr Musharraf Hussain (Ketua Delegasi Inggris yang juga Direktur Karinia Institut, Nothingham), Asim Siddiqui (Ketua City Circle, organisasi jaringan Muslim profesional), Mishal Husain (penyiar BBC), dan Muhammad Bilal Abdallah (Direktur Ebrahim Community College London). Pelatihan Imam Program yang diusulkan adalah pelatihan imam dan khatib Inggris di pesantren di Indonesia, pengembangan program S-2 bagi mahasiswa Muslim Inggris di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta. Ada pengembangan organisasi remaja dan pemuda masjid dan majelis taklim wanita berdasarkan model Indonesia. Ada pula pengembangan wawasan keagamaan dan pluralisme di kalangan kaum Muslim Inggris. "Mereka juga meminta standardisasi kurikulum sekolah Al Quran (sekolah sore) di Inggris, pelatihan pendidikan kewarganegaraan, meningkatkan dialog khususnya pada tingkat akar rumput, menerjemahkan buku-buku saku dalam bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris, mengenai ajaran Islam yang sesuai dengan demokrasi," kata Azyumardi. Inggris juga tertarik dengan pengenalan pencak silat yang banyak dipelajari di pesantren, seperti tapak suci, dan festival seni Islam Indonesia di Inggris. Menlu RI Hassan Wirajuda juga tengah berada di London dan bertemu dengan delegasi IAG RI. Hassan mengatakan, pembentukan IAG RI-Inggris merupakan bukti kepercayaan negara lain atas wajah umat Islam Indonesia yang moderat, toleran, tetapi juga tidak antimodernisasi. Program- program kerja sama serupa itulah yang juga ditawarkan RI ke negara Eropa lainnya. Heboh Survei Policy Exchange Inggris yang menggunakan responden 1.000 orang hasilnya menggemparkan karena beberapa politisi memaknai hasil survei itu sebagai kegagalan kalangan muda Islam Inggris dalam menempatkan kebijakan-kebijakan multikultur di negara itu. Hasil survei itu intinya memperlihatkan sikap ekstremisme di kalangan muda Muslim Inggris. Meski demikian, laporan survei yang diberi judul "Living Together Apart: British Moslem and The Paradox of Multiculturalisme" mengatakan bahwa 84 persen kaum muda Islam Inggris merasa telah diperlakukan adil di negerinya.
