Sejarah Sunda Beri Teladan Etos Kerja BANDUNG, (PR).- Dalam sejarah Sunda, sesungguhnya banyak teladan soal etos kerja dan kewirausahaan. Sayangnya, nilai-nilai tersebut banyak yang belum tergali sehingga perlu reinterpretasi budaya agar keteladanan itu dapat diadaptasi generasi masa kini.
Demikian antara lain terungkap dalam diskusi dan lokakarya bertema "Penggalian Nilai-nilai Budaya Sunda Sebagai Upaya Membangkitkan Etos Kewirausahaan Masyarakat Sunda" yang digelar LPPE Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Jabar di Aula Redaksi "PR", Jln. Soekarno-Hatta 147 Bandung, Kamis (22/2) malam. Hadir sebagai pembicara Kadisbudpar Jawa Barat Idjudin Budhyana, budayawan H. R. Hidayat Suryalaga dan praktisi ekonomi Bambang Wisono. "Banyak nilai-nilai kearifan lokal yang bisa diadaptasikan dalam konsep kewirausahaan," ujar Budhyana. Ia mencontohkan konsep wirausahawan Sunda yang selayaknya "heuras peureupna, pageuh keupeulna tur lega awurna". Konsep tersebut dapat diartikan bahwa seorang wirausahawan harus punya sikap tegas yang diimbangi kehalusan, tidak mencampurkan keuangan pribadi dan usaha, serta tidak selalu berorientasi profit dan memiliki tanggung jawab sosial yang tinggi. Cocok Sedangkan Bambang Wisono berpendapat, tidak semua budaya lokal cocok dalam konsep kewirausahaan. Oleh karena itu, tidak tabu untuk menyinergikan budaya lokal dengan budaya global yang dianggap baik. "Saya berkeyakinan, banyak budaya Sunda yang terkait kewirausahaan. Tapi, kita juga harus berani mengadopsi budaya luar untuk menambah energi usaha yang ada," tuturnya. Budayawan H.R Hidayat Suryalaga memberikan banyak contoh dalam sejarah Sunda yang menunjukkan bahwa pemimpin Sunda zaman dahulu amat menjunjung tinggi etika dan etos kerja. Raja Purnawarman, misalnya, pada masa pemerintahannya melakukan pembuatan kirmir di 17 daerah aliran sungai di wilayah yang sekarang menjadi Jawa Barat. Sementara itu, Prabu Siliwangi, juga diteladani karena leadershipnya. Pemimpin pada masa itu juga memberikan keteladanan untuk tidak konsumtif, bersemangat hidup, cekatan, terampil, kreatif dan melakukan setiap pekerjaan sampai tuntas. "Masyarakat Sunda adalah peladang dan untuk menjadi peladang diperlukan kerja keras. Sayangnya, hal ini tidak tertransformasikan pada dunia pendidikan saat ini," ujarnya. Etos kerja masyarakat Sunda, menurut Hidayat, tidak lepas dari etika. (A-131)***
