Jadi ka hareup indonesia masih aya, Ta?

salam,
zahidayat


--- In [email protected], Tata Mustasya <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Tulisan kuring di Kompas poe ieu.
>    
>   Baktos,
>   Tata
>    
>    
>    
>             , 27 Februari 2007 
>        
>        
>        
>       Masa Depan Indonesia 
>   Tata Mustasya 
>   Di hari-hari yang serba sulit dan disesaki kebutuhan riil yang
harus dipenuhi segera, tak banyak orang sempat berpikir bagaimana masa
depan Indonesia, misalnya, 50 tahun ke depan? 
>    
>   Kita seolah tak punya waktu untuk cemas dan berefleksi, apalagi
melaksanakan tindakan yang terencana dengan baik. Padahal, Amerika
Serikat (AS)—dengan sumber daya sosial-ekonomi yang kuat— saja masih
khawatir tentang masa depannya, terutama terhadap tantangan nyata dari
China, India, dan Rusia. 
>    
>   Fareed Zakaria dalam artikel "How Long Will America Lead the
World" (Newsweek, 12/6/2006) mengingatkan, AS bisa bernasib seperti
Inggris. Tahun 1897 atau 110 tahun silam, Inggris merupakan negara
adikuasa, memerintah seperempat penduduk dunia. Banyak orang berpikir
kehebatan Inggris berlangsung selamanya. Jika terlena seperti Inggris,
AS berpotensi kehilangan supremasinya. 
>    
>   Faktor korupsi 
>   Masa depan suatu negara ditentukan perekonomiannya di hari esok.
Dalam era modern, kita tak bisa membayangkan masa depan budaya,
sosial, dan politik yang cerah tanpa perekonomian yang mapan,
sekaligus lentur dan kompetitif. 
>    
>   Schumpeter (1933) menyatakan kewirausahaan sebagai penentu siklus
ekonomi jangka panjang. Ada juga teori—masih terkait dengan teori
Schumpeter—yang menekankan pentingnya kualitas sumber daya manusia.
AS, sebagai contoh, memiliki 54 universitas di jajaran 200 universitas
terbaik di dunia dan sinergi pendidikan-pasar yang memungkinkan
transformasi teknologi menjadi produk bernilai guna tinggi, seperti
Google dan iPod. Lainnya, kualitas institusi—bank sentral, pengadilan,
dan birokrasi—mampu memfasilitasi pembangunan ekonomi. 
>    
>   Apa yang membuat kita terus berada dalam mediokritas untuk
memiliki hal di atas? Penyebabnya adalah korupsi yang parah.
Akibatnya, alih-alih mendukung, perilaku pemerintah justru kerap
destruktif. Wirausaha dan pertumbuhan investasi, misalnya, lebih
memerlukan "perlucutan" peran pemerintah dibanding aneka aturan dengan
dalih "dukungan". Bentuknya bisa deregulasi dan kebijakan satu pintu
dalam urusan bisnis yang konsisten diterapkan. 
>    
>   Korupsi yang mengakar juga tidak memungkinkan lahirnya strategi
pendidikan dan teknologi yang bervisi karena prioritasnya adalah
bagi-bagi kesempatan membocorkan anggaran. Sama mustahilnya dengan
keberadaan institusi publik yang mampu memberikan kepastian bagi
kalkulasi agen-agen ekonomi. 
>    
>   Tidak berlebihan jika dikatakan, masa depan Indonesia adalah masa
depan pemberantasan korupsi. Bagaimana masa depan pemberantasan
korupsi itu sendiri? 
>   Memandang korupsi yang begitu kompleks hanya sebagai persoalan
governance merupakan simplifikasi. Lebih dari itu, korupsi di
Indonesia telah menjelma sebuah struktur—dalam definisi Anthony
Giddens—yang menyebabkan usaha memberantasnya kerap kandas. 
>    
>   Pertama, dari sisi struktur penandaan atau budaya, korupsi telah
begitu lazim. Nyaris tak ada urusan yang bisa selesai tanpa korupsi.
Contoh sederhana, lembaga-lembaga konsultan sudah paham betul harus
memberikan kick-back hingga 40 persen dalam proyek-proyek pemerintah. 
>    
>   Saking kuatnya budaya korupsi, aplikasi beberapa "standar" dalam
dunia bisnis pun hanya menjadi formalitas dan kehilangan ruhnya.
Internal audit, program good corporate governance, dan sebagainya
dilaksanakan sebagai selubung praktik korupsi yang masih eksis. 
>    
>   Kedua, koruptor dengan jaringannya memiliki dominasi ekonomi dan
politik yang kuat. Mereka tersebar sebagai petinggi, pengusaha besar,
dan pihak-pihak berpengaruh lainnya. Sebagai contoh, banyak lembaga
filantropi dan organisasi keagamaan—formal maupun informal—yang
menggantungkan pendanaan pada para koruptor. Korupsi adalah lingkaran
setan yang membuat reformasi politik 1998 berhasil dibajak oleh mereka
yang minus komitmen, tetapi memiliki aset ekonomi dan politik yang besar. 
>    
>   Ketiga, korupsi telah memiliki "pembenaran" dan legitimasinya
sendiri. Secara normatif, masyarakat nyaris tak pernah mengucilkan
koruptor sebagai bentuk sanksi sosial. Ini terkait dampak merusak
korupsi yang invisible. Secara legal-formal, perang melawan korupsi
baru simbol. Dalam banyak kasus, kuatnya posisi penegak hukum di
hadapan koruptor malah meningkatkan "harga" putusan penegak hukum di
pasar suap. 
>    
>   Masa depan 
>   Korupsi memang bukan sekadar kebocoran anggaran 30 persen-40
persen atau ratusan triliun rupiah. Yang lebih berbahaya, korupsi
melemahkan daya saing, memiskinkan dan mengenyahkan potensi lapangan
kerja, menggeser kekuatan ekonomi-politik kepada "si jahat", dan
menghancurkan kepercayaan (trust) kepada institusi-institusi publik. 
>    
>   Namun, teori strukturasi Giddens mengabarkan harapan tentang masa
depan kita. Struktur korup—yang terbentuk dari praktik sosial selama
puluhan tahun—bisa dirombak oleh praktik-praktik sosial baru. Yang
diperlukan sekarang dan ke depan, kerja keras dan keberanian
orang-orang "baik" untuk masuk ke pusat kekuasaan melalui partai politik. 
>    
>   Juga, ada peluang besar dari variabel eksternal karena usang dan
tidak kompatibelnya praktik korupsi ketika dihadapkan kompetisi global
yang kian ketat. 
>    
>   Setelah menghancurkan struktur korup, di masa depan, kita baru
punya ruang untuk lepas dari mediokritas. Kita bisa dengan tenang
melakukan banyak hal: inovasi teknologi, pendidikan dan riset,
kebijakan industri, dan memanfaatkan globalisasi. 
>    
>   Tata Mustasya Analis Ekonomi-Politik di The Indonesian Institute 
> 
>    
>   
> 
>  
> 
>  
> ---------------------------------
> Don't be flakey. Get Yahoo! Mail for Mobile and 
> always stay connected to friends.
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke