Sengketa Blok Ambalat
JAKARTA - Para politisi di Senayan mulai tak sabar melihat provokasi
Angkatan Laut Malaysia yang berkali-kali melakukan manuver militer di
Blok Ambalat. Sejumlah anggota Komisi I DPR mendesak panglima TNI
memperkuat armada laut Indonesia di perairan tersebut.

"Panglima TNI harus meningkatkan patroli keamanan untuk memantau
kapal-kapal yang melanggar batas nasional," pinta Ketua Komisi I Theo
L. Sambuaga dalam Rapat Kerja Komisi I DPR dengan Menteri Pertahanan
Juwono Sudarsono dan Panglima TNI Marsekal TNI Djoko Suyanto kemarin.

Peningkatan patroli keamanan itu, tegas dia, dilakukan terutama di
kawasan perairan Blok Ambalat, perbatasan Indonesia di sekitar Tarakan
dan Serawak. Selain itu, perbatasan laut Singapura dan Indonesia perlu
diperhatikan.

Theo melanjutkan, khusus menyangkut Blok Ambalat yang diklaim Malaysia
masuk wilayahnya sejak 2005, status kawasan yang ditengarai kaya
minyak itu tetap masuk teritori Indonesia. Selagi perundingan belum
selesai, imbuh dia, blok itu dalam posisi status quo. Artinya, wilayah
tersebut tetap masuk wilayah Indonesia. "Jadi, panglima TNI jangan
ragu. Meskipun perundingan masih berjalan, blok itu tetap masuk
teritori kita," tegasnya.

Sebelumnya sejumlah anggota komisi I malah bersikap keras dengan
meminta panglima TNI dan jajarannya menyerang pelanggar lintas batas
negara. "Sikap tegas ini diperlukan agar negara lain tidak selalu
merendahkan martabat bangsa Indonesia," kata Andi Ghalib.

Legislator dari PDIP Permadi juga menegaskan, panglima bisa saja
memerintahkan penembakan tanpa harus menunggu perintah atau izin dari
presiden. Berbeda jauh dengan perang yang diatur konstitusi yang harus
melalui ketetapan presiden dan DPR. "Kalau cuma nembak kapal, itu
masuk kewenangan panglima. Tentunya setelah berkoordinasi dengan
Menhan dan para kepala staf," ujarnya.

Menurut dia, menjaga kedaulatan NKRI sudah diatur UU Nomor 3 Tahun
2002 tentang Pertahanan Negara dan UU Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI.
"Jadi, TNI punya landasan untuk bergerak. Kalau sekadar dihalau, pasti
datang lagi," katanya.

Permadi juga meminta panglima TNI untuk tidak takut menindak tegas
pelanggar batas negara. "Meskipun alat persenjataan Malaysia itu lebih
kuat daripada Indonesia, mereka takut mati. Soalnya kaya-kaya. Tentara
Indonesia itu bonek," ujarnya. Lagi pula, imbuh Permadi, di belakang
TNI ada jutaan rakyat yang siap menjadi sukarelawan.

Menanggapi tuntutan sejumlah anggota komisi I itu, Panglima TNI
Marsekal Djoko Suyanto menegaskan bahwa dirinya tidak pernah takut
mengambil tindakan tegas. "Bahkan, kalau terjadi perang, saya dan KSAU
akan nyopir pesawat sendiri, KSAD nyopir tank sendiri, dan KSAL nyopir
kapal sendiri ikut perang," katanya.

Hanya, TNI harus selalu bertindak berdasar hukum internasional.
Menurut dia, jalan konfrontatif tidak akan menyelesaikan masalah.
Karena itu, Djoko kembali menegaskan bahwa pihaknya akan terus
meningkatkan intensitas patroli keamanan di perbatasan, khususnya Blok
Ambalat. Penghalauan dan pengusiran akan tetap dilakukan terhadap
setiap pelanggar perbatasan. "Apa jadinya negara ini kalau panglima
TNI-nya suka main tembak dan main bom," katanya. (pri)


Kirim email ke