Bambu

DALAM pandangan seniman instalasi asal Jerman, Markus Heinsdorff,
rumpun bambu merupakan jenis tanaman yang unik. Sejak dulu hingga
sekarang manusia menggunakan bambu sebagai material untuk struktur
bangunan yang ramah lingkungan.

Di dunia Timur, selain digunakan untuk bahan bangunan, bambu digunakan
pula sebagai senjata dalam seni bela diri. Bahkan di zaman revolusi
fisik mengusir penjajah dari bumi Indonesia, bilah-bilah bambu dibikin
jadi bambu runcing.

Tentu saja, fungsi bambu bukan hanya untuk itu. Setelah bilah bambu
dibelah dan diraut sedemikian rupa, serat bambu selain bisa digunakan
sebagai bahan untuk rangka layang-layang, digunakan pula untuk
perkakas rumah tangga mulai dari aseupan, hihid, boboko, ayakan,
korsi, ranjang, dan tudung saji. Di dalam dunia kesenian, bilah-bilah
bambu bisa pula dibikin untuk alat musik tabuh dan tiup, seperti
dibikin suling, angklung, dan calung.

Di zaman sekarang, selain untuk hal tersebut, serat bambu bisa juga
digunakan untuk elemen estetik perumahan. Markus Heinsdorff mengolah
bilah-bilah bambu tersebut menjadi elemen estetik yang bisa dipajang
di dalam rumah. Pengetahuannya dalam menciptakan inovasi melalui
struktur bangunan menyerupai sarang lebah yang berlapis-lapis dengan
menggunakan bambu sebagai media utama, ia sebarkan kepada mahasiswa
Program Studi Arsitektur ITB. Hasil karya yang dibuatnya bersama para
mahasiswa itu, pada 23-24 Januari 2007 lalu dipamerkan di Selasar
Sunaryo Art Space, Jln. Bukit Pakar Timur 100 Bandung.

Melihat hasil karya workshop seniman asal Jerman dan mahasiswa jurusan
Program Studi Arsitektur ITB, mata dan daya seni orang Timur semakin
dibukakan untuk mendayagunakan sekaligus mengolah bilah-bilah bambu
tersebut tidak hanya dibikin sebagai alat-alat rumah tangga, alat
musik, dan bahan bangunan semata. Akan tetapi, bisa juga dibuat
sebagai elemen estetik, entah itu berupa rangka patung atau apa saja.
Yang digunakan untuk itu tentu saja bukan bilah bambu yang sudah
dibuang kulit (hinis)-nya, tetapi yang masih ada hinis-nya. Apa sebab?
Karena kulit bambu tersebut masih memiliki kekuatan yang terletak pada
daya lenturnya. Selain itu, warna kulit bambu itu sendiri memiliki
daya estetik yang susah ditiru oleh warna apa pun yang dibikin oleh
manusia secara kimiawi.

Kini persoalannya adalah sampai seberapa jauh kita menghargai rumpun
bambu sebagai tanaman yang memiliki daya ekonomi tinggi bila diolah
menjadi sesuatu yang mengandung nilai estetik? Atau boleh jadi kita
memandang rumpun bambu sebagai tanaman biasa, karena saking dekatnya
kita dengan bambu sehingga hanya melihat fungsinya sebatas bahan
bangunan, alat rumah tangga, dan alat musik belaka. Di luar itu, boleh
jadi tak terpikirkan. (Soni Farid Maulana/"PR")***

Kirim email ke