Baraya, keur pangemut-ngemut ka Prof. Sarbini, nu nembe wafat tea, ieu aya
wawancara Tempo jeung Prof Sarbini, di taun 1999. Meunang kokoreh tina
Google. Mangga nyanggakeun :


TEMPO NO. 06/XXVIII/13 - 19 Apr 1999
Wawancara Sarbini Sumawinata:
"Kerajaan ini Harus Kembali Jadi Republik"

Sepuluh tahun silam, sebuah buku diterbitkan untuk menghormati seorang
tokoh yang berhari jadi ke-70. Judulnya tidak luar biasa: Menuju
Masyarakat Adil Makmur. Namun, "Buku ini unik dan mengandung nilai
lebih," tulis Dr. Sjahrir, sang penyunting dalam pengantarnya.
Keunikannya, antara lain, terletak pada cara menulis di luar
"stereotip buku-buku ulang tahun". Ia tidak semata-mata memuat
kumpulan tulisan tentang sang tokoh dari rekan dan kenalan dekat.
Bagian terpenting justru membahas karangan-karangan sang tokoh dalam
rentang waktu 35 tahun, antara 1953 dan 1988.

Disengaja atau tidak, penulisan buku itu akan mencerminkan kepribadian
sang tokoh, yang tidak terkungkung dalam stereotip arus zaman. Ia
belajar ekonomi tapi lebih merasa sebagai politisi. Ide-idenya tentang
model "ekonomi kerakyatan" tidak dipedulikan Orde Baru. Toh sampai
hari ini ia bersikukuh, cara itu akan lebih membawa rakyat pada
kemakmuran: memperkuat mereka dengan alat-alat produksi yang lebih
modern ketimbang menerapkan model ekonomi yang semata-mata mengejar
pertumbuhan.

Ia bukan doktor ekonomi gilang-gemilang. Studinya di Harvard (1954)
hanya mencapai master. Bahkan ia masuk ke perguruan elite Amerika itu
berkat keberanian yang naif karena "saya tidak tahu apa sesungguhnya
Harvard". Ia juga orang Indonesia pertama yang memimpin Biro Pusat
Statistik (1955-1965) tanpa pengetahuan berarti tentang statistik. Dan
ia menolak tawaran Soeharto menjadi duta besar Indonesia untuk Amerika
Serikat karena merasa "tidak percaya lagi pada rezim, sejak jauh di
awal pemerintahan Soeharto."

Ia mengaku, hidupnya "menjadi lengkap" dengan dua tahun ia bermukim di
rumah tahanan tanpa peradilan karena dituduh menjadi dalang Peristiwa
Malari 1974. "Di sana saya tahu, ada satu hal yang tak bisa dirampas
dari manusia: kebebasan," ujarnya. Di sana ia juga bergaul dengan para
gembong PKI, yang menurut pendapatnya "ternyata tidak lebih dari kaum
priayi Jawa yang tidak paham apa sesungguhnya komunisme".

Tokoh ini memuja Sutan Sjahrir, yang disebutnya sebagai "my political
guru". Namun, sosialisme tak bisa memupus kebiasaannya naik mobil
Eropa dan berdiam di Jalan Brawijaya, sebuah kawasan elite di
Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Di sela-sela waktu ia mendengarkan
Eine Kleine Nacht Music dari Mozart, Symphony No.9 Beethoven, dan
nomor-nomor jazz klasik. Sesekali ia bermain biola dan kecapi.

Ia bukan tipe orang tua sakit-sakitan. Rambutnya seperti disepuh
perak, tapi gerak-geriknya lincah, hasil olah raga rutin jalan kaki
dan golf. Nada suaranya mengentak keras, seperti umumnya orang Jawa
Timur. Secara kultural-berdarah Sunda asli-dia memang merasa sebagai
orang Jawa. Ia lahir-12 Agustus 1917-dan dibesarkan di Madiun.

Banyak temannya "menyesali" betapa ia kerap melepaskan berbagai
kesempatan baik dalam hidup. Namun ia menegaskan, tidak pernah
menyesal.

Kamis pekan silam, tokoh itu, Sarbini Sumawinata, menerima wartawan
TEMPO Agus Hidayat, Wicaksono, dan Hermien Y. Kleden untuk sebuah
wawancara. Percakapan berlangsung di ruang kerjanya yang sempit dan
tua, di Business News, Jalan Abdul Muis, Jakarta Pusat. Petikannya.
  _________________________________________________________________

Sejak sebelum 1970 Anda sudah menolak bekerja pada pemerintahan
Soeharto, menentang eksistensi rezimnya. Kini, apa rasanya menyaksikan
semua keruntuhan itu?

  Wait a minute! Orde Baru itu belum selesai. Soeharto pergi, tapi
  orde itu masih ada. Salah satu kesalahan besar reformasi ini
  menganggap yang dihadapi adalah Soeharto. Sumber malapetaka ini
  adalah Orde Baru bikinan dan pimpinan Soeharto. Ia sudah pergi,
  tapi sumber masalah masih ada di Orde Baru ini.

Itu sebabnya Anda pernah mengatakan "Habibie harus pergi"?

  Kebetulan Habibie yang jadi presiden. Kalau bukan Habibie-entah
  Akbar, entah Wiranto-juga harus pergi karena mereka semua itu Orde
  Baru. Yang menghadapi krisis ini haruslah orang yang mampu, punya
  kredibilitas dan integritas, dan itu bukan Orde Baru.

  Yang saya maksudkan, pergi secara politik, tidak lagi berada dalam
  kekuasaan. Di luar politik, sih, kita enggak peduli.

Kritik Anda terhadap Soeharto dan Orde Baru sangat tajam, tapi kenapa
Anda pernah bersedia menjadi asisten Soeharto-asisten ahli bidang
politik-pada awal kekuasaannya (1966-1968)?

  Saya masuk sebelum Orde Baru, ketika kita mengira bisa berharap
  pada Pak Harto. Saya mengenalnya lewat pembantu kepercayaannya,
  Soedjono Hoemardani. Ketika itu saya menyampaikan makalah berisi
  konsep pembangunan ekonomi kepada Soeharto pertengahan Oktober
  1965. Lalu, dalam Seminar Angkatan Darat II di Bandung, 25 Agustus
  1966, saya berbicara, mewakili sindikat politik, Widjojo
  (Nitisastro) mewakili sindikat ekonomi. Pemikiran yang saya
  kemukakan: bahaya militerisme, kerja sama yang sederajat
  sipil-militer, dan kebebaan pers. Tapi mereka tidak menerima
  pemikiran itu.

Sebetulnya apa saja tugas Anda sebagai penasihat politik presiden?

  Apa, ya? Kita menulis nota-nota usulan bagaimana mesti mengubah
  keadaan politik masa Soekarno ke arah yang lebih demokratis.
  Langkah pertama, paling tidak, menghidupkan kembali partai-partai
  yang dimatikan Soekarno. Terutama PSI dan Masyumi. Di situ langsung
  kelihatan mereka (Soeharto dan kelompoknya) tidak setuju.

Apa alasannya?

  Militer kan tidak perlu alasan segala macam. Dan bagi saya
  tiba-tiba semuanya jelas: kita tidak bisa bekerja sama dengan orang
  ini.

Apakah Anda pernah merasa ikut bertanggung jawab terhadap sikap
politik Soeharto?

  Politik saya pada permulaan tidak bisa dikatakan ikut Soeharto.
  Saya memperjuangkan sesuatu lewat kesempatan dengan Soeharto. Tapi
  saya sama sekali tidak ikut membina dan membesarkannya. Saya toh
  sudah tidak ada pada waktu Orde Baru lahir, 1971.

Dan Soeharto kemudian berkuasa selama 30 tahun lebih. Anda sakit?
Kecewa barangkali?

  Kecewa enggak, sakit juga enggak. Hanya benci akan segala kebusukan
  yang dia lakukan. Memang kedengarannya emosional, tapi Soeharto
  memang tidak jujur pada perjuangan di Indonesia, pada perjuangan,
  pada usaha mengangkat derajat rakyat. Kepentingan dia adalah
  kekuasaan, kehausan akan kekayaan.

Tentu Anda menderita, memendam perasaan, karena selama 30 tahun tidak
bisa bicara seperti ini?

  Well, ya, tapi tidak sejelek itu, karena Soeharto sesungguhnya
  menguasai segala sesuatu. Tapi ada satu hal yang tidak bisa
  dia-atau Soekarno-kuasai, yaitu segala aspek kehidupan Anda. Hidup
  itu sangat kaya. Apalagi di Indonesia, Anda bisa melakukan apa
  saja.

Apa saja yang Anda lakukan?

  Mengajar, menulis, "menjual kecap". Gelandangan, sih, tapi banyak
  juga yang bisa dilakukan.

Anda seharusnya mencoba jadi elite birokat. Pada waktu-waktu awal
mestinya banyak kesempatan. Kabarnya, Anda menolak jadi duta besar?

  Waktu itu Widjojo, yang dulu ketua sindikat ekonomi, sudah jadi
  menteri. Nah, si Sarbini mau diapain? Lalu datang Soedjono
  Hoemardani. Dia bilang, bagaimana kalau saya jadi duta besar di
  Amerika Serikat. Saya jawab, "Mas Djono, saya enggak butuh permen.
  Perjuangan saya itu dalam negeri, kalau disuruh ke luar negeri, mau
  apa?" Dia sangat terpukul dan meyakinkan tawaran itu tidak ada
  hubungannya dengan "permen".

Setelah itu Anda memimpin buletin ekonomi Business News dan mengajar
ekonomi di Universitas Indonesia?

  Antara lain. Saya orang Harvard pertama di UI. Prof. Sumitro
  Djojohadikusumo meminta saya mengajar di sana.

Tahun 1974, saat ditangkap menyusul Peristiwa Malari, Anda masih
mengajar di sana?

  Ketika peristiwa itu terjadi, saya sedang berbicara dengan para
  mahasiswa di ruang kuliah. Biasa, "jual kecap". Topiknya selalu
  sama, menentang rezim yang korup dan menuntut clean government.

Anda ditangkap dengan tuduhan menghasut para mahasiswa. Apa benar
begitu?

  Benar. Tapi waktu itu mana kita ngaku. Tuduhannya, saya ini aktor
  intelektual dari demo-demo mahasiswa. Padahal semua itu kan diatur
  si Ali Moertopo. Hariman (Siregar) dan kawan-kawannya
  berdemonstrasi teratur dari Salemba. Sementara itu Moertopo
  mengerahkan massa, bajingan, dan sebagainya, untuk bikin rusuh.

Siapa yang membebaskan Anda?

  Tidak siapa-siapa. Undang-undang mengatakan, kalau orang ditangkap
  dan tidak diadili, paling lama satu tahun ditahan. Surat tangkapan
  itu kemudian diperpanjang satu tahun. Setelah dua tahun, Ali
  Said-waktu itu Jaksa Agung-mengeluarkan keputusan tidak menemukan
  kesalahan apa pun. Saya dibebaskan.

Anda tidak menuntut rehabilitasi nama?

  Untuk apa? Saya toh sudah tidak percaya pada seluruh rezim Orde
  Baru.

Apa saja yang Anda lakukan di penjara?

  Bergaul dengan orang-orang PKI. Ada Syam Kamaruzaman. Ada
  tokoh-tokoh yang lebih rendah, tapi tetap punya posisi, misalnya
  Ketua PKI Jakarta. Ini pengalaman yang sangat menarik karena saya
  baru tahu bahwa secara kultural mereka adalah priayi Jawa yang
  tidak paham apa itu komunisme.

Apa menariknya pengalaman seperti ini?

  Sangat. Pengalaman penjara buat saya sangat rohaniah. Di situ saya
  tahu, manusia ternyata tidak bisa dikurung. Kebebasan itu menyatu
  dengan manusia, tidak bisa diambil dengan cara apa pun. Setelah
  dipenjara, saya merasa, yang nomor satu dalam hidup bukan lagi
  kesehatan, tapi kebebasan.

Omong-omong, apakah Anda ikut menentang dominasi kapitalisme Jepang di
Indonesia, seperti yang diperjuangkan mahasiswa dalam demonstrasi
Malari?

  Bukan investasinya yang kita tentang. Tuntutan Malari itu kan
  "pemerintahan yang bersih". Tapi lalu dianggap anti-Jepang.
  Waktunya memang bertepatan. Saat itu kita marah sama Jepang, yang
  memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada kekuatan-kekuatan korup
  Soeharto. Mereka memberi proyek berikut segala patgulipat.

Yang membuat Anda berang apakah karena investasi asing ini sangat
menekankan pertumbuhan, sementara Anda percaya betul pada model
ekonomi kerakyatan?

  Tidak persis seperti itu. Yang kita tentang adalah model investasi
  Jepang yang sangat merangsang pemerintahan korup. Sejak awal
  kelihatan betul para investor Jepang-berbeda dengan Amerika dan
  Eropa yang lebih konservatif memegang etika bisnis-merintis
  hubungan lewat keluarga dan kroni. Keterlaluan betul.

Apa, misalnya, yang keterlaluan?

  Ketika kita mau membangun dan butuh investasi asing, apa yang
  didanai Jepang? Ajinomoto. Come on, bagaimana mungkin membangun
  negeri ini dengan Ajinomoto? Ini kan keterlaluan. Bahwa mereka
  mementingkan profit, oke. Kita bisa menerima itu sebagai bagian
  dari kapitalisme. Tapi, jangan Ajinomoto.

Sedikit tentang ide ekonomi kerakyatan. Bisa tolong dirumuskan secara
singkat dan sederhana?

  Ekonomi kerakyatan itu sesungguhnya strategi pembangunan untuk
  Indonesia dengan dasar sosialisme kerakyatan. Jadi, memihak rakyat,
  mementingkan rakyat, memberdayakan kemampuan rakyat dengan
  menyediakan alat-alat produksi yang lebih baik dari alat-alat yang
  selama ini mereka pakai.

Apakah ide ini membawa konsekuensi menolak investasi dari luar,
misalnya?

  Tidak ada soal dengan investasi. Justru investasi itu bisa
  menyediakan alat-alat ini.

Pernah mendengar kritik ini: ide Anda hebat, tapi sulit diterapkan?

  Ya, bahkan dari Sadli (Prof. Dr. Sadli), ha-ha-ha.... Sadli itu
  paling kurang ajar, paling dekat dengan saya, karena itu dia anggap
  boleh kurang ajar, sekurang-kurang ajarnya. Dia pernah saya kasih
  makalah tentang ekonomi kerakyatan. Eh, tulisan itu direken sampah
  sama Sadli. Barangkali sekarang jadi lain karena ekonomi kerakyatan
  diucapkan Adi Sasono, bukan Sarbini.

Tapi yang mengkritik kan bukan hanya Prof. Sadli. Ada juga profesor
lain yang....

  Oh, yang itu. Kalau itu, sih, sudah tidak bisa lepas dari soal-soal
  personal. Ya, semacam ada kecemburuan, persaingan intelektual yang
  sangat kuat pada waktu itu.

Kenapa?

  Saya tidak tahu. Saya belum pernah mendiskusikan hal ini dengan
  dia. Tapi kalau boleh sedikit bercongkak cara PSI, saya rasa,
  kurang lebih karena dia menemukan dalam diri saya seorang "lawan
  berbahaya".

Berbahaya? Ucapan Anda kedengarannya, kok, seperti politisi saja?

  Saya memang jauh lebih merasa sebagai politisi ketimbang ekonom.
  Saya ini PSI sejati, sosialis demokrat. Dan Sjahrir, he is my
  political guru.

Saya tumbuh dalam pengarahannya.

Bagaimana dengan Bung Karno?

  Begini, kan Sarbini ada macam-macam. Sarbini 80 tahun, 40 tahun, 20
  tahun. Sarbini yang mengagumi Soekarno adalah Sarbini yang belasan
  tahun.

Pikiran-pikiran sosialis tampak banyak dipengaruhi Sjahrir. Juga gaya
Anda yang populis. Tapi substansi gaya hidup Anda itu, kok, sangat
elitis.

  Anda benar. Well, itu selera pribadi. Tapi saya rasa itu tidak ada
  hubungannya dengan sosialisme atau semangat humanismenya Sjahrir
  dan PSI.

Omong-omong soal PSI, apakah kejayaan PSI di masa lalu bisa kembali
nanti?

  Mengapa tidak? Saya berusaha untuk itu.

Berusaha untuk masuk lagi ke dalam kekuasaan?

  Kita hanya ingin mengembalikan bentuk negara yang sudah diciptakan
  Soeharto selama puluhan tahun. Kerajaan ini harus kembali ke dalam
  bentuk republik yang demokratis dan berdaulat seperti yang
  dicita-citakan Soekarno dan Sjahrir.

Kirim email ke