Sulit, Cari Guru Bahasa Sunda
SMA/SMK Selama Ini Memanfaatkan Guru Bidang Studi Lain 

BANDUNG, (PR).-
Penetapan bahasa Sunda sebagai mata pelajaran muatan lokal di SMA/SMK
membuat pihak sekolah kesulitan memperoleh guru bahasa Sunda karena
jumlahnya terbatas. Selama ini SMA/SMK di bawah Pasundan dan Yayasan
Atikan Sunda (YAS) yang sudah mengajarkannya.

"Kondisi saat ini banyak SMA/SMK yang menggunakan guru-guru dari mata
pelajaran lain untuk mengajarkan bahasa Sunda," kata penanggung jawab
kesekretariatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) bahasa Sunda
Kota Bandung, Drs. H. Encang Iskandar, M.Pd., dalam pernyataan persnya
ke "PR".

Lebih jauh Encang mengatakan, sesuai dengan Surat Keputusan (SK)
Gubernur Jabar No. 423.5/Kep.674-Disdik/2006, bahasa Sunda menjadi
mulok wajib dari SD sampai SLTA. "Selama ini bahasa Sunda sudah
menjadi mulok wajib dari tingkat SD dan SLTP, sedangkan SLTA baru pada
tahun ajaran 2006/2007," ujarnya.

Karena masih baru, maka Encang mengakui terdapat banyak hambatan
terutama dalam penyediaan guru bahasa Sunda, sehingga banyak SMA/SMK
yang memakai guru yang mengajar pelajaran lain. "Ironisnya, siswa dan
masyarakat menganggap pelajaran bahasa Sunda sebagai pelajaran susah.
Bahkan, siswa-siswa SMA/SMK lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia
dalam berkomunikasi," katanya.

Encang yang juga Kepala SMAN 2 Bandung mengharapkan agar pemerintah
segera mengatasi kekurangan guru bahasa Sunda tersebut. "Tentunya
perangkat pembelajaran di luar guru juga perlu disiapkan agar upaya
pemeliharaan bahasa Sunda bisa berjalan baik. Peningkatan kuantitas
dan kualitas guru bahasa Sunda merupakan hal wajib," ucapnya.

Selain itu, nasib guru-guru bahasa Sunda yang berstatus honorer juga
perlu diperhatikan, misalnya Pemprov Jabar berinisiatif mengangkat
sebagai guru PNS. "Guru-guru bahasa Sunda di SMA/SMK lingkungan
Paguyuban Pasundan maupun YAS sebagian besar berstatus honorer. Karena
kekurangan guru sehingga mereka mengajar di berbagai SMA/SMK," katanya.

Sebagai upaya peningkatan kemampuan guru yang mengajar bahasa Sunda,
MGMP bahasa Sunda mengadakan pelatihan bekerja sama dengan Dinas
Pendidikan Kota Bandung. "Pelatihan juga diadakan oleh Paguyuban
Pasundan dengan materi kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP)
bahasa Sunda," ujarnya.

Sebagaimana diberitakan, tokoh masyarakat selama ini prihatin dengan
penggunaan bahasa Sunda yang semakin berkurang penggunaannya. Penutur
bahasa Sunda selama ini lebih suka menggunakan bahasa Indonesia dan
mengajarkan anak-anak mereka berbahasa nasional, akibatnya anak didik
semakin teralienasi dari bahasa ibu mereka.

Mengantisipasi semakin melorotnya penggunaan bahasa Sunda, pemerintah
menetapkan bahasa Sunda sebagai mata pelajaran muatan lokal (mulok) di
Jawa Barat. Sayangnya, pengajar bahasa Sunda secara akademis semakin
berkurang. (A-71)***

Kirim email ke