Forum Sunda Tidak Dicipta Belanda Oleh ATEP KURNIA
"Kang Gani A Jaelani jangan terlalu naif. Maafkan saya kalau sedikit sinis. Tulisan Anda di harian Kompas (24/2) berjudul "Sunda Dicipta Belanda" itu mirip resensi daripada sebuah opini. Rasa-rasanya tulisan Anda merupakan ulasan buku karya Mikihiro Moriyama, Semangat Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad Ke-19. Buku ini berasal dari disertasi Mikihiro di Rijkuniversiteit Leiden, Belanda, tahun 2003. Versi Inggrisnya berjudul A New Spirit: Sundanese Publishing and the Changing Configuration of Writing in Nineteenth Century West Java. Versi Indonesianya diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, Januari 2005. Buku ini memang membahas tentang terbentuknya bahasa dan sastra Sunda sebagai hasil kebijakan kolonialisme Belanda, khususnya di bidang penerbitan dan pendidikan, yang sesuai dengan modernitas yang sedang menggejala di Eropa. Fokus amatannya sendiri dibatasi dari paruh kedua abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Akan tetapi, yang disayangkan, ia tidak menyebutkan secara eksplisit sumber penulisan opininya itu. Ia hanya menulis "Jadi, di Priangan pada masa itu ada dua bahasa yang digunakan. Setidaknya itulah yang dilaporkan para pelancong Barat itu. Kata Mikihiro, profesor Jepang yang tergila-gila dengan Sunda itu, Raffles saja pernah dibuat bingung soal ini". Sudut pandang kolonialis Menurut studi Edi S Ekadjati dalam pengantar buku Semangat Baru, Mikihiro bertitik tolak dari pandangan kaum kolonial dan berakhir pada kreativitas dan kebijakan kaum kolonial pula, sedangkan kaum Bumiputra menjadi obyeknya saja. Hal tersebut dapat dimengerti karena Mikihiro sesuai dengan batas-batas permasalahan yang ia ungkapan dalam penelitian doktoralnya itu. Sayang, Gani A Jaelani tidak melihat tradisi lisan atau naskah-naskah Sunda yang ditelaah oleh para sejarawan dan filolog. Ia tidak kritis membaca buku Mikihiro, sehingga ia melupakan naskah-naskah kuno yang dipelajari oleh para sejarawan dan filolog yang telah menyebutkan bahwa bahasa Sunda sudah dipakai jauh-jauh hari sejak zaman kerajaan-kerajaan di Tatar Sunda. Dengan demikian, tulisannya lebih mewakili sudut pandang kolonialis daripada sudut pandang poskolonialis yang seharusnya memberi suara terhadap the other dalam hal ini bahasa Sunda. Seharusnya Gani A Jaelani lebih jeli memerhatikan motif-motif yang berada di balik wacana kolonialisme Belanda atas budaya Sunda, bukannya malah terjebak ke dalam diskursus kolonial. Apalagi, barangkali, dengan sengaja ia menaruh kata dicipta tidak berada dalam tanda kutip. Seolah-olah bahasa Sunda memang diciptakan oleh orang Belanda. Oleh karena itu, menurut saya, terlalu naif untuk menyetujui tulisannya. Padahal, bahasa Sunda sudah digunakan orang Sunda sudah sejak lama sekali. Menurut Ensiklopedi Sunda (2000), bukti tertulis tentang penggunaan bahasa Sunda dapat dilihat dari prasasti yang ditemukan di daerah Kawali, Ciamis. Prasasti yang ditulis dalam aksara dan bahasa Sunda kuno ini berasal dari abad ke-14, yang bersesuaian dengan masa pemerintahan Prabu Wastukancana (1397-1475). Selanjutnya, penggunaan bahasa Sunda kuno secara tertulis banyak didapati pada naskah-naskah kuno yang ditulis pada daun lontar, enau, kelapa, dan daun nipah. Naskah-naskah ini berasal dari abad ke-15 sampai dengan abad ke-18. Contohnya, naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian (1518) dan Sewaka Darma (abad ke-16). Dan buku paling baru yang memuat naskah-naskah Sunda kuno adalah Three Old Sundanese Poems (2006). Buku ini di antaranya memuat naskah Bujangga Manik yang kini menjadi milik Perpustakaan Bodleian di Oxford, Inggris. Mulanya naskah ini milik saudagar Inggris, Andrew James, yang kemudian menyerahkannya ke perpustakaan tersebut pada tahun 1627 atau 1629. Menurut A Teeuw, yang meneruskan pekerjaan Dr J Noorduyn meneliti naskah tersebut-naskah Bujangga Manik-diperkirakan berasal dari abad ke-16. Pada saat itu pengaruh-pengaruh bahasa asing pun telah ada. Bahasa Sanskerta dari India datang bersama agama Hindu dan Budha. Bahasa Arab datang bersamaan denga penyebaran agama Islam. Bahasa Jawa paling tidak telah digunakan sejak abad ke-11, yaitu dengan ditemukannya Prasasti Cibadak yang ditulis dalam aksara dan bahasa Jawa kuno. Akan tetapi, melalui invasi Kerajaan Mataram pada 1620-an sampai dengan 1677, pemerintahan di Tatar Sunda, khususnya di lingkungan kabupaten, diwajibkan memakai bahasa Jawa sebagai bahasa resmi. Ketika Tatar Sunda dialihkan kekuasaannya kepada VOC dan pemerintah kolonial Hindia Belanda, bahasa dan budaya Jawa tetap dipakai sampai dua abad lebih. Selanjutnya, seiring dengan kebijakan kolonial yang membuka sekolah-sekolah bagi pribumi pada pertengahan abad ke-19, bahasa Sunda pun mulai "digunakan lagi" sebagai bahasa tulisan. Pembalikan posisi Apa yang dapat dibaca dari penemuan "kembali" bahasa Sunda oleh Belanda adalah beroperasinya apa yang disebut Edward Said sebagai orientalisme. Dari sisi Said sebagaimana yang dapat kita baca dari tulisan Danujaya (2003) dan Juliastuti (1999), ternyata melalui para orientalislah, orang Belanda telah mempersiapkan pemahaman mengenai bahasa dan berbagai aspek tradisi dan kebudayaan Sunda sehingga memudahkan kolonialisme Belanda memasuki kawasan ini dengan pendekatan kultural. Sunda "seakan" menerima begitu saja pencitraan Belanda atas dirinya. Hal ini tentu saja menciptakan relasi kekuasaan yang timpang. Akibatnya, muncullah kekeliruan-kekeliruan pemahaman tentang orang dan bahasa Sunda. Dalam hal ini termasuk mengenai keyakinan para kolonialis bahwa bahasa Sunda hanyalah sub-Jawa atau salah satu dialek dari bahasa Jawa. Hal ini tentu saja bersumber dari kecupetan berpikir kaum kolonialis yang hanya melihat penggunaan bahasa Sunda di lingkungan kabupaten-kabupaten di Tatar Sunda, yang kebanyakan dihuni oleh para priayi yang ketika itu sangat mengagung-agungkan bahasa dan budaya Jawa. Ya, dalam keadaan seperti itulah kaum intelektual, penginjil, dan filantropis Barat (Belanda) berusaha "menemukan kembali" bahasa Sunda. Setelah "ditemukan", mereka pun menentukan ejaan. Selain itu, mereka juga membakukan bahasa Sunda dialek Bandung sebagai bahasa lulugu yang dipakai sebagai bahasa resmi dalam tulisan ataupun bahasa pengantar di sekolah. Walhasil, tidak seperti yang dikatakan Gani A Jaelani bahwa apa yang dilakukan Belanda sebenarnya mengikis pengaruh kuat bahasa Jawa dalam bahasa Sunda. Yang terjadi justru sebaliknya, hal tersebut menegaskan kuatnya pengaruh bahasa Jawa terhadap bahasa Sunda. Saya kira, dari sisi Said, di situlah titik lemah Gani A Jaelani. Ia bukannya membongkar operasi-operasi kuasa di balik "penemuan kembali" Sunda itu, melainkan justru mempertegas keyakinan kaum kolonialis terhadap bahasa Sunda. ATEP KURNIA Penulis Lepas, Tinggal di Bandung
