Nengetan warta soal IPDN .....wah bener-benet IPDN teh sigana kudu 
dibubarkeun. Loba teuing "perkeliruanana", salah sahijina, geuningan nu 
nutup-nutup panyiksaan ka Cliff Muntu teh lain mahasiswa wae, tapi oge 
dosenna. Nu nitah mayit Cliff diformalin teh salah saurang Dekan di dinya 
jeung boga gelar Guru Besar!. Kitu cenah ceuk kasaksian nu nyuntikeun 
formalin, saurang pangsiunan mantri kasehatan, nu ayeuna oge jadi 
"tersangka".

Ditambahan deuih, ku warta yen mahasiswa2 IPDN nu nyiksa Wahyu Hidayat di 
taun 2003 tepi ka palastra, tepi ka poe ieu oge acan asup panjara, sanajan 
kasasina geus ditolak ku MA. Anehna deuih, sanajan baheula geus diumumkeun 
"dipecat" ti IPDN, tapi geuningan ukur "bohong-bohongan". Maranehna tetep 
nganggeuskeun sakolana, terus digarawe jadi PNS di Pemda-Pemda di Jabar.

Nyanggakeun editorial Media Indonesia, nu sarua sapamikiran, IPDN ....bubar, 
geraak!!!


EDITORIAL Media Indonesia 12 April 2007

Tutup saja IPDN

PEMERINTAH akhirnya menonaktifkan Rektor Institut Pemerintahan Dalam Negeri 
(IPDN). Sebuah langkah tambahan setelah serangkaian keputusan yang 
sebelumnya telah diambil pemerintah.
Semua itu akibat kematian praja asal Sulawesi Utara, Cliff Muntu, karena 
dibunuh para seniornya. Bukan kematian yang pertama, bukan pembunuhan yang 
perdana, bukan pula pertama kali setelah terjadi kematian, rektor penghasil 
pamong praja itu diganti.

Namun, seribu kali rektornya diganti, sejuta kali rektornya dinonaktifkan, 
tidak akan mengubah kultur kekerasan bahkan pembunuhan yang telah tumbuh 
subur di institut itu.

Nama lembaga itu pun pernah diubah setelah terungkap terjadi pembunuhan 
sebelumnya. Tetapi faktanya, pembunuhan kembali terjadi di kampus itu. Jadi, 
sejuta kali pun nama lembaga itu diganti tidak akan mengubah institut itu 
menjadi institut yang beradab.

Sebab lembaga itu dari asalnya sudah salah cetak biru. Institut itu, sejak 
gagasan pendiriannya, sudah mengidap kekeliruan. Ia cacat bahkan sebelum 
lahir.

Alkisah adalah seorang mantan Kepala Staf Angkatan Darat yang bernama Rudini 
diangkat menjadi Menteri Dalam Negeri oleh Presiden Soeharto. Sang jenderal 
lalu memiliki pandangan bahwa jajaran aparatur pemerintahan yang bernama 
pamong praja itu tidak memiliki disiplin, bahkan tidak memiliki 
kepemimpinan. Untuk menghasilkan jenis pamong praja yang memiliki disiplin 
tinggi dan kepemimpinan yang kuat itu, ia pun lalu mendirikan lembaga 
pendidikan dengan gaya militer. Bukan cuma sampai di situ, lulusannya pun 
kemudian dilantik presiden persis seperti lulusan akademi militer.

Yang dihasilkan kemudian sudah pasti bukan tentara untuk bertempur, tetapi 
juga bukan sipil yang digembleng untuk melayani rakyat. Yang terjadi adalah 
penggemblengan untuk menjadi pembunuh!

Zaman pun berubah, dari militer yang berkuasa menjadi supremasi sipil. Tidak 
ada lagi kursi militer di DPR dan MPR karena diangkat. Tidak ada lagi dengan 
gampang tentara menjadi bupati, wali kota, atau gubernur karena diangkat 
atau ditunjuk. Siapa pun hanya bisa menjadi kepala daerah karena dipilih 
rakyat secara langsung.

Dan konsep pamong praja pun berubah dari memerintah menjadi melayani 
kepentingan publik. Dari disiplin militer menjadi disiplin sosial. Tetapi, 
lembaga yang menghasilkan pamong praja itu pada dasarnya tetap tidak berubah 
dari gagasan kelahirannya oleh Jenderal Rudini, yang dicetuskan di zaman 
otoriter, di era ketika dwifungsi ABRI adalah segalanya.
Tidak hanya zaman berubah, tetapi Institut Pemerintahan Dalam Negeri juga 
telah berubah menjadi institut pembunuhan dalam negeri. Oleh karena itu, ia 
tidak punya dasar untuk tetap dipertahankan. Ia seharusnya ditutup sekarang 
juga, bahkan mestinya dilakukan sejak kemarin.

Jika bangsa ini masih memerlukan sekolah untuk mengisi kebutuhan 
pemerintahan dalam negeri, biar itu diurus Menteri Pendidikan Nasional. 
Bukan oleh Menteri Dalam Negeri. Dan pula, bukankah ada universitas negeri 
yang memiliki fakultas ilmu sosial jurusan ilmu pemerintahan? Mengapa 
lembaga pendidikan tinggi negeri ini tidak dimanfaatkan? Mengapa harus 
menghabiskan uang negara untuk menghasilkan para pembunuh?

Untuk menutup Institut Pemerintahan Dalam Negeri itu sesungguhnya tidak 
diperlukan secuil pun keberanian. Yang diperlukan cuma satu perkara, yaitu 
secuil kejujuran untuk mengakui institut itu telah menjadi sekolah yang 
menghasilkan para pembunuh! 

Kirim email ke