Ieu ingfo ti rerencangan anu pikasediheun ... daya saing endonesa emang nyungseb nya kunaon deui upami sanes ku The Root of All Evils tea... Jurig Kurupsi... pikasediheun na teh deuih... nu kurupsina eta gagayaan weh kadang mah sok so suci saperti nu dibritakeun di koran tea deuuuuuh aya oge anu berperan sapertos ROBIN HOOD tea... Gelooo sugan mah.
Sektor riil di Indonesia teu jalan kumargi kurupsi ieu... investor termasuk pengusaha aralim usaha di Indonesia kumargi nya KURUPSI deui... sedihna info ti TI kurupsi oge aya di tempat anu kedahna newakan kuruptor atuuuuh panginten makin pakojot weh. Teras oge sistem hukum di Indonesia pan memungkinkan kanggo kurupsi ... da nya eta HAKIM pan sami sareng "TUHAN" gaduh power anu unlimited anu tiasa mutuskeun naon wae... alasanna tiasa oge dibulak balik tergantung kepada yg menggayot... Upami aya anu calik di wawakil rahayat... tah anu peryogi di robih oge sistem peradilan anu kedahna nganggo sistem JURI... janten hakim mung sifatna janten moderator hungkul... anu mutuskeun kedahna JURI... tah JURI pan biasana dipilih berdasarkan trek recordna anu waras cageur anu gaduh nalar anu okeh surokeh... janten rada sesah kanggo misalna pelaku kriminal kanggo nyogok JURI kumargi JURIna seueur teras oge teu sadayana tiasa di sogok pan... malahan mah kumargi JURI -na dipilih tinu trek recordna Straight alias Lempeng maka pastina oge moal daekeun di sogok ... tidieu anu salah janten salah nu bener tiasa bener... benten sapertos ayeuna berita di koran aya istilah tebang pilih... mafia veradilan jsb... panginten tos janten bisnis pengadilan upami kitu mah aya istilah mafia sagala mah. Mudah-2an upami KURUPSI sareng SISTEM PERADILAN di urang parantos dibebener mah panginten tiasa nagara urang maju pesat. Salam Maju, A ----- Original Message ----- From: Mang Toyib JAKARTA (SINDO) – Buku tahunan daya saing dunia (World Competitiveness Yearbook/WCY) menempatkan Indonesia pada urutan ke-54 dari 55 negara di dunia yang disurvei tahun ini. Posisi Indonesia sekaligus terburuk dari 13 negara Asia-Oceania yang disurvei. Secara keseluruhan, peringkat Indonesia hanya satu tingkat lebih baik di atas Venezuela yang menempati posisi terbawah. Pada laporan yang diterbitkan International Institute for Management Development (IMD) di Lausanne, Swiss, itu Indonesia mendapat nilai 37,4 dengan posisi di Asia-Oceania, tepat di bawah Filipina (47,2) dan Thailand (57,8). Dalam laporan kali ini, Indonesia juga termasuk salah satu negara yang mengalami penurunan kinerja dibanding survei tahun sebelumnya. Posisi teratas di Asia-Oceania ditempati Singapura yang dalam kategori keseluruhan menempati urutan kedua di bawah Amerika Serikat. Dalam publikasi resmi di situsnya, kemarin, survei IMD ini memakai 323 kriteria dan empat kelompok indikator, yakni kinerja ekonomi, efisiensi birokrasi, efisiensi bisnis, dan ketersediaan infrastruktur. Pada sisi ekonomi, ratarata negara yang terpilih disurvei adalah yang memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi pada kisaran 5% per tahun. Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Muhammad S Hidayat mengatakan, hasil publikasi ini perlu segera disikapi pemerintah. Menurut dia, persoalan dasar dalam daya saing Indonesia terletak pada rendahnya investasi. Masalah investasi dan daya saing saling berkelindan menjadi lingkaran setan yang sulit dipecahkan. Dia menegaskan, masuknya investasi tergantung daya saing Indonesia. ”Soalnya, tahun lalu itu pertumbuhan ekonomi rendah karena hampir tidak ada investasi. Bagaimana memperbaiki investasi kalau daya saing rendah,”kata dia. Hidayat menuturkan, investasi yang rendah menyebabkan sektor manufaktur Indonesia lemah sehingga berimbas pada kinerja perekonomian. Pokok masalah yang menurutnya perlu segera dibenahi adalah menciptakan kondisi agar biaya produksi di Indonesia rendah. ”Penyebabnya ya ekonomi biaya tinggi, misalnya biaya transportasi yang mahal, biaya listrik mahal,suku bunga perbankan tinggi. Di luar negeri itu, suku bunga pinjaman sudah di bawah 10%, Indonesia masih 14%,”kata dia. Hidayat menunjukkan beberapa masalah utama yang perlu segera diselesaikan dalam rangka meningkatkan daya saing. Satu di antaranya pemberantasan pungutan liar, khususnya pada jalur transportasi. Langkah lain yang dipandang perlu adalah memberantas grey area (wilayah abu-abu) di Bea dan Cukai. ”Masih ada kongkalikong yang harus diberantas,” kata dia. Di tempat terpisah, Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Djimanto mengatakan, perlu gebrakan lebih lanjut Inpres No 3/2006 tentang Paket Kebijakan Perbaikan Iklim Investasi. Menurut dia, langkah baik pemerintah sejak tahun lalu ini sudah mulai meredup. ”Perlu gebrakan, salah satunya memperbaiki masalah perburuhan dalam hal hubungan industrial. Masalah buruh merupakan hal menonjol dalam industri kita,” kata dia. Dia menunjukkan, salah satu hal yang perlu dilakukan adalah pengesahan Peraturan Pemerintah tentang kompensasi pemutusan hubungan kerja (PHK). Baginya, hal itu penting untuk meretas masalah perburuhan yang tidak kunjung terselesaikan. Akibatnya, dari sisi hubungan industrial, Indonesia terbilang kalah dengan negara-negara lain. Merujuk pada empat indikator penilaian, Djimanto menilai indikator efisiensi bisnis merupakan fokus yang harus diperbaiki. Kendati demikian, tidak dimungkiri bila memajukan hal itu tidak mungkin dengan menafikan tiga indikator lain. ”Semuanya seragam (paralel), atau terhubung. Namun, efisiensi bisnis merupakan vocal point-nya,” kata dia. Djimanto mengatakan, jika membandingkan hasil survei IMD dengan Bank Dunia, tampak bahwa upaya peningkatan daya saing Indonesia jalan di tempat. Makanya, hasil survei harus ditempatkan sebagai peringatan bahwa Indonesia perlu segera berbenah. ”Itu tandanya kita harus berbenah, kebetulan sekarang habis reshuffle (kabinet),” kata dia. Direktur Utama Institute for Development of Economics and Finance Indonesia M Fadhil Hasan mengatakan, dalam konteks Asia, lawan sebenarnya bagi Indonesia terkait daya saing adalah Filipina.”Kalau dengan Malaysia, kita memang sudah nggak sebanding,” kata dia. Dia menyarankan perbaikan ekonomi untuk meningkatkan daya saing ini fokus pada sektor riil, khususnya perbaikan di lingkungan industri atau perusahaan. ”Kalau ekonomi makro kita tinggal pertahankan saja,” kata dia. China dan India Kejar AS Pada peringkat daya saing secara keseluruhan, Singapura dan Hong Kong berada pada peringkat kedua dan ketiga. Peringkat pertama tetap dipegang Amerika Serikat (AS). Direktur proyek Stephane Garelli mengungkapkan, posisi AS dinilai dinamis atas kondisi pasar keuangannya, dipicu oleh kondisi ekonomi domestik, investasi, jual beli saham,ekspor,dan jasa perdagangan. ”Raksasa seperti China, yang naik peringkat dari urutan 18 ke 15, dan India, yang berada pada peringkat 27, dengan cepat mengejar AS yang memiliki pertumbuhan ekonomi 2,5% per tahun,”rilis laporan IMD tersebut. IMD memperingatkan, keseluruhan tren yang saat ini berkembang dapat memicu tindakan proteksi di Eropa dan AS. ”Pada 2007 dan selanjutnya,hubungan ekonomi akan lebih menantang dan kompetitif,” papar Stephane Garelli di kantor pusat IMD,Lausanne. Garelli menegaskan, negara industri akan semakin sulit untuk menoleransi hilangnya sejumlah ”permata bisnis” mereka akibat tumbuhnya brands dan perusahaan- perusahaan baru dari Asia, Rusia, dan kawasan Teluk. ”Pertumbuhan ini dalam beberapa tahun terakhir telah memicu kekacauan politik,” ungkap Garelli. Menurut Garelli, Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) akan kian banyak mendapatkan komplain tentang praktik ketidakadilan yang terjadi. ”Masalah seperti proteksi, termasuk masalah perusahaan negara, proteksi lingkungan, proteksi hak kekayaan intelektual, dan hak asasi sosial akan kian bertambah,” paparnya. Laporan tahunan IMD tersebut menunjukkan, perkembangan daya saing China, India, dan Hong Kong cukup konsisten dalam dekade terakhir. Sementara sejumlah negara Asia seperti Indonesia dan Filipina, dikatakan IMD memiliki daya saing yang tidak konsisten.Menurut Garelli, Indonesia dan Filipina termasuk dalam kelompok negara- negara yang kehilangan daya saing. ”Hanya 15 negara yang dianalisis kehilangan daya kompetitifnya. Indonesia, Italia, Argentina, Brasil,Meksiko,Turki,Filipina, dan Prancis, termasuk dalam kelompok ini,” ujar Garelli. Selanjutnya, IMD merilis sejumlah negara, seperti Australia, termasuk dalam negara makmur yang mendorong daya saing mereka dalam beberapa tahun terakhir. Untuk kategori ini,Australia bergabung bersama negara lain seperti Austria, Denmark, Swiss, dan Hong Kong. Di luar negara-negara Asia, sejumlah negara melakukan lompatan besar dalam peringkat daya saing. Jerman naik sembilan peringkat menjadi urutan 16.Sementara Afrika Selatan merosot tajam dari peringkat 12 menjadi ke-50. (AFP/CNA/m ma’ruf/syarifudin) http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/ http://barayasunda.servertalk.in/index.php?mforum=barayasunda [Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
