Berjalan tegak 'bermula di pohon'
orangutan
Manusia berjalan dengan dua kaki mungkin terkait perilaku orang tua
Leluhur manusia mulai berjalak tegak saat mereka masih hidup di
pepohonan, bukan di tanah terbuka, kata suatu teori baru.
Teori tradisional menyatakan bipedalisme (manusia berjalan di atas dua
kaki) berangsur bergeser dari berjalan dengan buku jari (knuckle
walking) empat tungkai seperti yang dilakukan simpanse dan gorila.
Kini, suatu penelitian yang diterbitkan di jurnal ilmiah Science
menepis gagasan tersebut.
Para peneliti Inggris yang menulis laporan ilmiah tersebut mengatakan,
berjalan tegak selalu menjadi ciri khas perilaku kera besar.
Manusia mewarisi perilaku itu tanpa pernah melewati fase berjalan
dengan buku jari.
Para peneliti yakin, berjalan dengan buku jari baru berevolusi
akhir-akhir ini sebagai cara menjelajahi lahan dasar hutan.
Susannah Thorpe, Robin Crompton dan Roger Holder menarik kesimpulan
ini setelah menganalisis gerakan orangutan liar yang menghabiskan
sebagian besar kehidupan mereka di pepohonan.
Mereka mendapati bahwa orangutan mempergunakan gerak tegak untuk
memungut makanan dari cabang-cabang kecil pada pohon dan menyeberang
dari satu pohon ke pohon lain.
"Baik menjangkau buah-buahan dan melintasi pepohonan pasti memerlukan
kemampuan untuk menyiasati cabang-cabang ujung yang sangat tipis yang
cenderung bengkok akibat berat badan," kata Profesor Robin Crompton
dari Universitas Liverpool.
"Kesimpulan logis dari bukti lingkungan, fosil dan eksperimen adalah
bahwa berjalan tegak dengan kaki lurus pada awalnya berevolusi sebagai
adapati terhadap kehidupan di pepohonan," katanya.
Keunggulan selektif
Mereka mengindikasikan perpindahan yang dilakukan oleh leluhur kita ke
gaya hidup di atas tanah terjadi saat perubahan iklim membuat habitat
hutan semakin tipis.
Sebagai reaksi, mahluk kuno mirip kera, atau hominid, mungkin telah
meninggalkan puncak pohon dan beralih ke lahan dasar hutan. Di sini,
mereka tetap berjalan dengan dua kaki dan makan makanan dari tanah
atau dari pohon-pohon yang lebih kecil.
Profesor Crompton menjelaskan bahwa orang utan yang berjalan tegak
pada dahan-dahan yang berayun-ayun berperilaku seperti atlet yang
berlari di jalur berpegas. Mereka mengulur postur lutut dan pinggul
untuk memberi mereka kaki yang lebih lurus.
Tim peneliti menunjukkan bahwa sebagian fosil leluhur manusia memiliki
kombinasi tungkai bawah yang disesuaikan untuk berjalan tegak dengan
bagaian atas tubuh yang tampak sesuai untuk memanjat pohon.
Juga ada bukti bahwa mahluk berjalan dengan kaki dua hidup di
lingkungan hutan tertutup, bukannya savannah yang pasti mengharuskan
mereka bergerak di tanah secara rutin.
Daniel Lieberman, antropolog biologis dari Universitas Hardvard, AS,
mengatakan kepada BBC News: "Saya rasa ini makalah yang rapi; sangat
mengasyikkan ketika orang memikirkan secara kreatif asal-muasal
manusia berjalan dengan dua kaki. Tapi, ini tidak akan menjadi
kesimpulan terakhir."
"Pertanyaan besarnya adalah - apa keuntungan selektif yang diperoleh
hominid pertama yang berjalan tegak? Kita baru tahu sedikit soal
konteks itu terjadi," tambahnya.
Dr Lieberman juga mempertanyakan gagasan bahwa jenis kemampuan gerak
yang diperlihatkan simpanse dan gorila pasti baru berevolusi belum
lama ini.
Simpanse, gorilla dan manusia lebih terkait erat satu sama sama lain
daripada mereka dengan orangutan.
"Hubungan antara kera itu tidak diragukan," kata Lieberman," kecuali
semua kemiripan antara simpanse dan gorila berevoluasi tanpa
keterkaitan satu sama laiin, maka kesimpulan yang tidak bisa dielakkan
adalah bahwa leluhur bersama terakhir simpanse dan manusia pasti
seperti simpanse atau gorila."