slam Perdana
Oleh Luthfi Assyaukanie
28/05/2007

Kajian al-Qumni tentang perang masa Nabi (Hurub Dawlatir Rasûl)
mengungkap dinamika-dinamika insani kehidupan Nabi dan para sahabat.
Menurut al-Qumni, perang yang begitu sering tak hanya didorong
cita-cita luhur mati syahid, tapi juga impuls duniawi dan material
seperti keinginan mendapat harta rampasan (ghanîmah), perempuan, dan
perbudakan.

Sejak beberapa tahun terakhir, kajian sejarah pembentukan Islam makin
marak dilakukan sarjana Muslim. Ini perkembangan penting dan menarik.
Penting, karena studi-studi ini akan mengungkap berbagai misteri
seputar sejarah awal Islam. Menarik, karena yang melakukan adalah kaum
Muslim yang tumbuh dan dididik dalam lingkungan agama yang taat.

Selama ini, kajian-kajian "Islam perdana" banyak dilakukan orientalis.
Sejak awal abad ke-19, para orientalis berusaha menyuguhkan asal-usul
Islam dari berbagai aspek, mulai dari sejarah Muhammad (Arthur
Jeffrey), sejarah Alquran (Theodor Nöldeke), sejarah Hadith (Nabia
Abbott), dan sejarah Fikih (Joseph Schacht). Karya agak komprehensif
tentang Islam perdana adalah buku Montgomery Watt, The Formative
Period of Islamic Thought.

Sebelum ini, kaum Muslim bersikap apologetis, bahkan antagonis
terhadap temuan-temuan para orientalis tentang sejarah awal Islam.
Dengan generalisasi yang keliru, para orientalisme itu dituduh sengaja
diciptakan untuk merusak Islam. Memang ada saja orientalis yang tak
bersahabat terhadap Islam. Tapi, mereka tak banyak, karena cepat pula
ditinggalkan komunitas akademis yang begitu ketat dalam menyeleksi
karya ilmiah. Sebagai disiplin ilmu, orientalisme juga tunduk pada
metodologi dan kerangka berpikir obyektif. Jika ada yang mengabaikan
rumus ini, jangan harap karya mereka dipakai dunia akademis.

Selain itu, banyak kaum Muslim yang tak sadar bahwa sumber-sumber
rujukan para orientalis itu adalah buku-buku pemikiran Islam klasik
semacam Ibn Ishak, al-Tabari, Ibn Nadiem, Ibn Mujahid, Ibn Athier, Ibn
Katsir, dan al-Suyuthi. Sebagai "orang luar" mereka punya jarak untuk
mengkaji karya-karya itu secara "lebih obyektif" dan kerap menemukan
hal yang tak dibayangkan kaum Muslim yang "berada di dalam."

Berbeda dari para orientalis, kajian-kajian Islam perdana dari kaum
Muslim umumnya apologetis. Jika ada hal yang dikhawatirkan mengganggu
ketentraman beragama, kajian dihentikan atau ditafsirkan agar sesuai
dengan keyakinan ortodoksi Islam. Dari kacamata ilmiah, pendekatan ini
tentu tak ada gunanya.

Untunglah situasi mulai berubah. Sejak beberapa tahun terakhir, muncul
sejumlah sarjana Muslim yang punya dedikasi kesarjanaan tinggi dan
tumbuh di lingkungan Islam yang kuat. Sarjana Muslim seperti Mahmud
al-Qumni, Khalil Abdul Karim, dan Zakaria Ouzon, adalah di antara
puluhan nama yang mengkaji dan membaca-ulang Islam perdana.

Kajian al-Qumni tentang perang masa Nabi (Hurub Dawlatir Rasûl)
mengungkap dinamika-dinamika insani kehidupan Nabi dan para sahabat.
Menurut al-Qumni, perang yang begitu sering tak hanya didorong
cita-cita luhur mati syahid, tapi juga impuls duniawi dan material
seperti keinginan mendapat harta rampasan (ghanîmah), perempuan, dan
perbudakan.

Al-Qumni juga punya kajian-kajian lain yang tak kalah menariknya.
Sementara itu, trilogi Ouzon, Jarîmatus Syâfi'i, Jarîmatul Bukhâri,
dan Jarîmatus Sibawayh, merupakan studi rintisan tentang tokoh penting
era pembentukan Islam lewat pendekatan kritis. Selama ini,
tulisan-tulisan tentang al-Syafii atau al-Bukhari dilakukan secara
tidak kritis. Buku tentang tokoh-tokoh itu ditulis lebih sebagai karya
hagiografi ketimbang biografi.

Selain sebagai karya akademis, kajian Islam perdana juga berfungsi
mengungkap kenyataan historis pembentukan Islam. Ini penting untuk
memberi bandingan terhadap gerakan Salafi yang belakangan marak.
Salafisme (mazhab salafi) adalah gerakan yang ingin kembali ke
masa-masa awal Islam. Kaum Wahabi dan sebagian Muslim Indonesia,
sangat terobsesi oleh gagasan Salafi.

Para pengikut Salafi percaya bahwa masa Nabi adalah masa ideal dan
sempurna yang harus diikuti Muslim masa kini. Tapi, pandangan mereka
tentang Islam perdana sangat subyektif karena memilih satu versi Islam
dan membuang versi-versi lain. Kaum Salafi cenderung menolak
aspek-aspek humanis (termasuk kekeliruan dan kesalahan) sejarah awal
Islam. Bagi mereka, seluruh sejarah awal Islam adalah kesempurnaan.

Sikap itu tak banyak membantu. Selain mengelabui orang masa kini,
perilaku itu cenderung mengabsolutkan pandangan tertentu sembari
menolak pandangan-pandangan lain. Sikap ini pada gilirannya
memunculkan perilaku intoleran, karena yang berbeda dianggap "sesat"
dan "menyimpang."

Karena itu, munculnya kajian-kajian Islam perdana dari sarjana Muslim
dengan pendekatan ilmiah dan kritis patut disambut. Di tengah
kecenderungan sikap tertutup dan merasa benar sendiri, adanya
keragaman pandangan itu patut diapresiasi tinggi-tinggi. Tanpa perlu
dikatakan, tentu apresiasi itu juga harus diiringi sikap kritis,
sesuai kaedah ilmiah yang berlaku. 

Kirim email ke