Benarkah Budaya Sunda Krisis?

KALAU ada anggapan budaya Sunda sekarang sedang krisis, apa ukurannya?
Kita pun bisa meneruskan pertanyaan, dalam kondisi apa atau kapan
budaya Sunda tidak krisis? Apakah pada zaman Pajajaran atau ketika
pengaruh Mataram merasuki sendi-sendi kehidupan masyarakat Sunda atau
pada "zaman normal" (zaman Roesdi jeung Misnem?)

Itulah pernyataan fenomenal budayawan Uu Rukmana dalam dialog budaya
di Universitas Langlangbuana Bandung yang diselenggarakan BEM FISIP
Unla, Rabu (11/7). Acara yang menyorot tajam terhadap identitas dan
krisis budaya Sunda tersebut, juga menghadirkan budayawan Dana Setia,
Nano S., dan wakil dari Disbudpar Jabar. Dialog itu mencoba menguak
soal kekhawatiran dampak modernisasi yang dapat berpengaruh pada
nilai-nilai budaya Sunda.

Uu mempertanyakan, apakah memang budaya Sunda sekarang sedang krisis?
Kalau ya, jawaban tersebut menurut pandangan siapa dan apa yang
menjadi kriterianya? Uu melihat identitas yang terjadi terhadap jati
diri manusia Sunda masih didasarkan pengamatan sepintas, intensitas
krisis pada setiap aspek kehidupan orang Sunda tidak bisa dipukul rata.

Sedangkan Dana Setia menilai, pengaruh modernisasi dengan sendirinya
akan terjadi, toleransi budaya baik dari Barat maupun wilayah lainnya
di Indonesia akan secara alamiah terjadi, kemudian akan berproses
dalam akulturisasi. (Diro/"PR")*** 

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/072007/12/0204.htm

Kirim email ke