timbangan buku
Manusia Bertanya Manusia Menjawab

LAN FANG

Faktanya adalah sejak purba, hidup manusia selalu bergantung pada
tanda-tanda. Sebab, pada dasarnya manusia mempunyai perasaan cemas
karena segala sesuatu dalam kehidupan adalah kegelapan dan ketidakpastian.

Hal itu menimbulkan tanda tanya besar dalam diri manusia. Tanda tanya
akan Dia, akan alam semesta, akan masa depan, dan sebagainya. Maka,
manusia membutuhkan tanda sebagai jawaban atas pertanyaan. Manusia
butuh pegangan untuk mendapatkan kepastian akan sesuatu.

Audifax rupanya ingin menjawab pertanyaan tentang keberadaan Tuhan
sebagai Zat Tertinggi. Bukan dalam pandangan Tuhan manakah yang paling
benar atau paling tinggi. Karena Tuhan terlalu besar untuk ditelaah
dari sudut yang demikian kecil. Setidaknya, Tuhan adalah suatu daya
(energi) yang mahakuat sampai melampaui batas keterbatasan manusia.
Tuhan bisa mengada dalam berbagai bentuk tanda yang seharusnya bisa
dibaca manusia.

Tidak ada kebetulan

Bagaimana membaca tanda Zat Tertinggi yang disebut semiotika? Inilah
yang menjadi tema buku ini. Audifax mengambil perbandingan dari dua
tokoh semiotika, yaitu Ferdinand de Saussure dan Charles Sanders Pierce.

Bagi Saussure, semiotika merupakan ilmu umum yang mengkaji kehidupan
tanda-tanda dalam masyarakat sehingga merupakan bagian dari disiplin
psikologi sosial. Sedangkan menurut Pierce, semiotika adalah bentuk
lain dari logika yang merupakan salah satu cabang dari filsafat.

Sedangkan dalam perspektif pandang Audifax, tidak ada sesuatu yang
namanya "kebetulan" di dunia ini. Semua kejadian, pertemuan,
perpisahan, orang-orang yang saling bertemu, bahkan mimpi pun,
mengusung pesan yang bisa dihubungkan satu sama lain akan membawa kita
kepada kesempatan yang kita inginkan. Dan, itu adalah tanda yang harus
kita baca sebagai pesan yang ingin disampaikan-Nya.

Audifax membaginya menjadi dua esensi, yaitu: real dan unreal. Karena
membaca tanda bisa jadi tidak menalarnya dengan pemikiran yang
didasari oleh logika. Esensi unreal itu hanya bisa dirasakan di dalam
alam bawah sadar tiap manusia. Sebagai suatu energi besar di dalam
alam semesta yang berpengaruh ke dalam perjalanan (pencarian) hidup
manusia secara spiritual.

Sampai di titik inilah, maka manusia kemudian membutuhkan figur Tuhan
dalam bentuk sebagai suatu pegangan yang tidak absurd. Entah itu dalam
bentuk simbol-simbol berbagai macam dewa dalam mitologi kuno. Dari
zaman Mesir, China, Yunani, Romawi, sampai ke dalam peradaban
agama-agama samawi dalam bentuk para nabi, ulama, rohaniwan, sampai
kepada salib atau tulisan huruf tertentu. Ini membuktikan bahwa
manusia adalah zat yang lemah, sederhana, tak berdaya, yang bergantung
pada zat lain yang lebih besar. Celakanya, dalam proses ini, manusia
terjebak ke dalam ritual-ritual bahasa dan legitimasi pemujaan kepada
Tuhan dan nabi yang ditulis sepanjang sejarah manusia.

Kita justru menjauh dari Tuhan. Kita tidak memedulikan tanda atau
pesan yang disampaikannya melalui kebetulan-kebetulan. Kita hanya
memandang hidup semata berada dalam esensi real yang bisa dianalisa
oleh akal kecerdasan manusia. Karena dari sana, manusia mendapatkan
jaminan kepastian melalui ilmu pengetahuan, logika, dan rasio. Atau
bahkan kita sibuk dijejali oleh khotbah-khotbah dalam teks-teks agama
tentang jaminan keselamatan yang dipaksakan pengertiannya.

Sampai tahap ini, Audifax dengan cerdas membedakan antara Tuhan
sejarah dan Tuhan semesta.

Tuhan sejarah adalah yang tampil dalam simbol-simbol real. Bisa
ditangkap pancaindra yang dipergunakan manusia untuk memberikan
kenyamanan iman. Karena sekalipun manusia itu seorang ateis, sosok
tentang Tuhan yang tertanam dalam jiwanya mendorongnya untuk
menempatkan sesuatu yang lebih perkasa dalam bentuk simbol-simbol.
Inilah "Tuhan" yang tampak dan muncul dari alam nirsadar manusia
karena manusia sendiri yang menginspirasinya.

Sedangkan tanda dari Tuhan semesta yang merupakan satu energi (daya)
mahadahsyat yang berada di dalam lingkaran waktu yang kerap tidak
diperhatikan.

Kekosongan sejati

Di tataran inilah, pembacaan semiotika poststrukturalis yang melandasi
pikiran Nietzche menjadi muara pemikiran poststrukturalis lainnya,
seperti Jacques Lacan, Jacques Derrida, Gilles Delueze, Felix
Guattari, dan Julia Kristeva. Pemikiran-pemikiran ini yang digunakan
untuk "membaca ulang" tentang Tuhan yang melampaui dualisme di atas
atau oposisi biner. Makna lain yang masuk adalah pluralisme.
Keberadaan pluralisme ini hanya bisa ditangkap melalui kerendahan hati
yang menimbulkan harapan akan Tuhan karena semua makna menjadi plural,
termasuk makna Tuhan.

Menurut saya, pemikiran Nietzche itu bisa disamakan dengan pemahaman
Buddhisme mengenai ruang dan waktu alam semesta yang berawal dari
kekosongan sejati. Kemudian pikiran delusif manusialah yang melahirkan
corak-corak Tuhan yang mempunyai identifikasi tertentu. Kegiatan
identifikasi inilah yang kemudian melahirkan manifestasi perbedaan
corak yang dipersepsikan oleh masing-masing manusia.

Sesungguhnya, bukankah "sesuatu yang tidak sama itu pun tidak
berbeda"? Disebut "tidak sama" karena manusia mempunyai corak
tersendiri. Sedangkan disebut "tidak berbeda" karena semua manusia
sebetulnya berbagi satu substansi "hidup" yang sama.

Dengan mengutip pendapat Rusybroeck bahwa gambar Tuhan pada dasarnya
secara pribadi terdapat dalam diri tiap manusia. Masing-masing
memilikinya semua, seluruhnya, tak terbagi dan semuanya bersatu,
Audifax memaparkannya dalam konsep manusia Jawa yang selalu berusaha
menyatukan dirinya (mikrokosmos) dengan alam semesta (makrokosmos),
yaitu dalam keblat papat lima pancer, yaitu arah wetan, kidul, kulon,
lor, serta pancer (tengah). Arah ini juga terkait dalam perjalanan
hidup manusia yang ditemani kadang papat lima pancer. Kadang papat di
sini diartikan sebagai kawah, getih, puser, dan ari-ari. Sedangkan
pancer (tengah) adalah ego atau manusia itu sendiri. Dengan demikian,
maka Tuhan ada di dalam alam semesta dan diri manusia sehingga manusia
melihat alam semesta di dalam dirinya dan dirinya adalah alam semesta.
Konsep inilah yang kita temukan dalam buku Sindhunata, Anak Bajang
Menggiring Angin.

Inilah sebenarnya energi (daya) luar biasa Tuhan yang bisa kita baca
melalui tanda dari alam semesta, bila kita mau sedikit lebih peka
menandai setiap kebetulan yang terjadi dalam hidup kita sehari-hari.
Karena tidak ada "kebetulan" yang cuma kebetulan.

Skema inilah yang ada di dalam buku Audifax yang ketiga ini. Tentang
konsep yang memadukan intelektualitas dan spiritual manusia untuk
menyerap pengetahuan dan singkapan-Nya yang berserakan dalam realitas
dan peristiwa yang terjadi. Manusia seharusnya bisa melihat realitas
secara transparan melalui kepekaannya sehingga mampu membaca fenomena
yang Dia inginkan bukan hanya dalam gerakan linear.

Keindahan abadi

Selain itu, Audifax juga memadukannya teori-teori semiotika dari para
pemikir dunia itu dengan apresiasi yang terbaca dari fenomena
masyarakat modern sekarang, seperti dalam bait-bait lagu With or
Without You (U2), Hero (Mariah Carey), One of Us (Joan Osborne),
Spirit Carries On (Dream Theater), bahkan membawa Harry Potter ke
dalam bukunya.

Karena itu, buku ini menjadi unik. Karena pemahaman akan pencarian
makna ini bisa diibaratkan suatu keindahan karya seni. Yang walaupun
menyimpan berbagai gejolak kepedihan, tetapi bila ditangkap melalui
karya seni, maka bisa menjadikannya sebuah keindahan abadi.

Sebelumnya, Audifax telah menerbitkan dua buku psikoanalisa, yaitu:
Mite Harry Potter (Jalasutra, 2005) dan Imagining Lara Croft
(Jalasutra, 2006). Bagi pembaca yang mencari pola pencarian manusia
akan Tuhan, buku Semiotika Tuhan ini bisa merupakan salah satu
alternatif, karena disuguhkan dengan cukup sederhana, tetapi cerdas
dan tidak mengurangi makna kedalamannya.

Tidak berlebihan bila saya menulisnya sebagai salah satu penulis
filsafat muda yang menjanjikan dan cukup mampu berbicara. Hal itu
terbaca dari daftar referensi buku yang dipakainya untuk menulis buku
ini. Setidaknya ada 14 buku referensi dan beberapa informasi yang
diambilnya dari website. Sudah pasti dibutuhkan suatu napas panjang
dan energi kuat untuk melahap data-data itu dan mengolahnya kembali
menjadi sebuah buku yang padat.

Jadi, bila Audifax pada bagian penutup mengutip bait lagu Agnes Monica
yang bertanya "Di manakah surga itu?", maka saya mencoba menjawabnya
dengan mengutip bait lagu Ebiet G Ade, "tanyakan saja pada rumput yang
bergoyang".

Bukankah tidak sulit untuk memahami semiotika?

(Lan Fang, Penulis, Bermukim di Surabaya) 
http://www.kompas.com/

Kirim email ke