Sabtu, 05 Januari 2008

Hidup Sederhana Gaya Kuba

Haridadi Sudjono

Kuba atau Republica de Cuba, negara di kawasan Laut Karibia yang lebih
kecil dari luas Pulau Jawa ini, memperingati Hari Kemenangan
Nasional-nya pada 1 Januari 2008. Tepat 49 tahun yang lalu, hanya
didukung 82 pejuang yang dilatih oleh Alberto Bayo (bekas kolonel
tentara Spanyol), Fidel Castro menggulingkan diktator Fulgencio
Batista yang berkuasa di negeri itu sejak tahun 1956 dan Batista
kemudian melarikan diri pada 1 Januari 1959.

Saat Batista melarikan diri itulah Fidel Castro dan pendukungnya
menduduki Havana dan membentuk pemerintahan baru. Castro menjadi
kepala negara dan membangun Republik Kuba menjadi negara sosialis
berhaluan sosialis-komunis (Marxis-Leninis) di bawah kepemimpinan
partai tunggal Partai Komunis Kuba. Itulah yang kemudian diperingati
sebagai Hari Kemenangan Nasional Kuba yang biasa- nya dilaksanakan
dengan sangat sederhana.

Nama Kuba berasal dari bahasa Taino, Cubanacan, yang berarti "tempat
yang sentral". Kini negeri itu memiliki 14 provinsi yang membentang
sepanjang 1.200 kilometer dan merupakan pulau terbesar ke-16 di dunia.
Negara bekas jajahan Spanyol (karena itu bahasa resminya juga bahasa
Spanyol) yang dikenal sebagai penghasil gula, kapas, beras, kopi,
nikel, bauksit, emas, dan perak ini juga dikenal gigih "melawan"
Amerika Serikat (AS) selama Fidel Castro berkuasa.

Kesehatan dan pendidikan

Di bawah pemerintahan Castro, pembangunan nasionalnya dititikberatkan
pada pemeliharaan kesehatan dan pendidikan. Dua hal yang merupakan
kebutuhan mendasar rakyat di negeri itu. Hasilnya, penyediaan dan
peningkatan fasilitas kesehatan dan pendidikan terus maju sehingga
keduanya merupakan fasilitas gratis bagi semua rakyat Kuba (hanya
orang asing yang dikenai pembayaran). Namun, rakyat Kuba yang tak
dikenai pembayaran mendapat perlakuan yang sama baiknya dengan orang
asing yang membayar mahal.

Biaya hidup di sana serba murah. Sukses pembangunan di dua sektor yang
sangat menonjol tersebut membuat negeri kecil ini mendapat "nama
besar" di dunia. Banyak penderita sakit dari berbagai negara (bahkan
yang dikenal lebih maju) berobat ke Kuba karena teknologi kedokteran
dan terutama kualitas dokter serta pelayanannya sangat baik dan maju.

Dengan adanya fasilitas istimewa di bidang kesehatan dan pendidikan
ini mengakibatkan kondisi sosial rakyat Kuba terus meningkat. Tahun
2005, penduduk Kuba mencapai 11,4 juta jiwa, dengan PDB 33,92 miliar
dollar AS atau rata-rata pendapatan per kapita 3.000 dollar AS.
Tingkat kelahiran penduduknya rendah sehingga tak ada masalah
kependudukan di negeri itu. Rendahnya tingkat kelahiran ini juga
didukung tingginya tingkat aborsi (ke-3 tertinggi di dunia). Tingkat
kriminalitas juga sangat rendah. Karena semua orang berstatus pegawai
negeri (mulai dari presiden sampai tukang cukur dan pelayan toko),
tingkat produktivitasnya rendah.

Dalam melaksanakan pembangunan, pemerintah dan rakyat Kuba memiliki
prinsip serba apa adanya. Tidak mau mengada-ada. Mereka makan apa yang
ada di negerinya, bukan makanan impor. Kalau punya uang hanya sekian,
ya itulah yang dipakai. Tidak perlu ngutang ke luar negeri atau
lembaga-lembaga donor internasional yang ujung-ujungnya menjerat leher
sendiri. Kuba hanya menerima bantuan yang sebagian besar dalam bentuk
hibah dari negara sekutunya (misalnya Rusia).

Karena rakyat dan para pemimpinnya dibiasakan untuk menempuh pola
hidup sederhana, praktik KKN tidak menonjol meskipun mungkin ada juga.
Kalau Kuba merasa tidak memiliki minyak untuk menopang kegiatan
industrinya, negeri itu "menjual" dokternya ke Venezuela dan negara
Amerika Latin lainnya untuk ditukar dengan minyak dan kebutuhan hidup
lainnya. Kuba juga menghasilkan banyak pelatih olahraga, misalnya
untuk tinju dan voli, yang "dijual" ke negara lain, termasuk
Indonesia. Honor yang mereka terima sebagian diserahkan kepada
kedutaan negaranya sebagai sumbangan wajib bagi negaranya. Kini Kuba
"menjual" tenaga ahlinya di lebih dari 100 negara di dunia. Barangkali
ini dapat dijadikan salah satu masukan bagi kita di Indonesia.

Dulu di masa pemerintahan Presiden Soekarno, kita juga memiliki
prinsip seperti itu yang kita kenal dengan politik berdikari (berdiri
di atas kaki sendiri). Karena itu pula, Kuba tak banyak tersentuh oleh
ingar-bingarnya arus negatif akibat globalisasi ekonomi yang
didominasi kapitalis Barat. Kuba juga tidak mengalami guncangan ketika
krisis moneter melanda banyak negara di dunia pada tahun 1997-1998.

Duri di mata AS

Meskipun merupakan negara kecil, Kuba tetap dipandang sebagai duri
bagi AS, dan duri itu sulit untuk dicabut begitu saja. Hubungan dan
kerja sama ekonomi serta politik negeri itu dengan Uni Soviet yang
berlangsung sejak Fidel Castro berkuasa membuat AS tidak menyukainya
dan berusaha mengisolasi Kuba dengan embargo ekonomi dan melakukan
blokade di perairan internasional. Akibat hal itu, setidaknya Kuba
telah menderita kerugian sebesar 222 miliar dollar AS.

Sejak Uni Soviet runtuh tahun 1991, Kuba mengalami pukulan ekonomi di
dalam negeri yang sangat hebat. Meskipun demikian, negeri kecil ini
tak pernah menyerah terhadap segala upaya pengucilan yang dilakukan
AS. Menteri Luar Negerinya, Felipe Perez Roque, menuduh AS masih tetap
ingin "membungkam" Kuba dan menuding Presiden Bush telah mendorong
kekerasan agar terjadi perubahan politik di pulau yang diperintah
dengan sistem sosialis-komunis itu. Bush juga dituding oleh Perez
Rouqe telah memprovokasi tentara Kuba untuk tidak menekan rakyat yang
menghendaki perubahan. Namun, Perez Rouqe menanggapinya dengan
menegaskan bahwa "di Kuba tentara adalah penduduk yang berseragam".

Dunia mengenal Castro sebagai pemimpin yang paling lama berkuasa di
dunia. Sebagai negara otoriter, di samping hanya ada partai tunggal,
juga hanya ada serikat buruh tunggal, yakni Sentral Buruh Kuba
(Central de Trabajadores de Cuba-CTC). Fidel Castro, yang oleh
rakyatnya dipanggil Comandante, mulai tidak tampil di muka umum sejak
Juli 2006. Dalam keadaan tidak dapat menjalankan pemerintahannya, dia
diwakili oleh adiknya, Raul Castro, yang menjabat sebagai menteri
pertahanan dan pejabat Presiden Dewan Negara setelah resmi menerima
penyerahan kekuasaan dari kakaknya tanggal 31 Juli 2006.

Melangkah ke depan

Bagaimana Kuba mencoba terus melangkah ke depan ketika partai-partai
sosialis-komunis di seluruh dunia runtuh? Seperti dikemukakan oleh
Raul Castro, ne- gerinya tertarik untuk memilih jalan sosialis seperti
yang dilakukan di Tiongkok. Bukan tidak mungkin kalau di Tiongkok ada
istilah "sosialisme khas Tiongkok", ma- ka kelak juga akan lahir
"sosialisme khas Kuba". Kalau Tiongkok bisa maju, kenapa Kuba tidak?
Apalagi, di beberapa negara Amerika Latin sedang terjadi fenomena
seperti yang sedang berlangsung di Tiongkok, seperti yang terjadi di
Venezuela, Bolivia, Peru, Brasil, dan Argentina.

Meskipun AS tak jemu-jemunya terus berusaha mengisolasi Kuba, terutama
melalui sanksi perdagangan, perjuangan penguasa dan rakyat negeri ini
terus mendapat angin. Majelis Umum PBB dengan resolusinya yang ke-16
secara mutlak (didukung 184 negara) malah mendesak agar AS mengakhiri
embargo perdagangannya yang sudah berusia 45 tahun itu terhadap Kuba.
Felipe Perez Roque, seorang insinyur dan menteri yang masih sangat
muda usianya, menilai itu sebagai "kemenangan yang sangat indah" bagi
negerinya. "Kuba tidak akan pernah menyerah dan akan terus melawan
politik AS sampai kapan pun," katanya.

Haridadi Sudjono Mantan Dubes RI untuk Kuba (1999-2003) 

Kirim email ke