Miris juga membaca Headline sebuah surat kabar di Malingshit yang berjudul :
'Mini Bandung': Pusat maksiat pekerja kilang. Padahal dalam tulisannya tak
satupun melibatkan orang Bandung di dalamnya. Berita tersebut menggambarkan
adanya razia di daerah yang dikasih nama Mini Bandung. Dan para petugas
menemukan sepasang manusia yang sedang 'bermesraan', kalau gak mau disebut
sedang berzina.
Yang menjadi pertanyaan kenapa harus kata 'Bandung'. Kalau memang mau memberi
nama, hendaknya sesuai dengan kondisi yang dinamainya. Siapa yang belum pernah
ke Bandung. Walaupun dari segi tata kota, kota ini lagi terpuruk karena
ketidakbecusan pemerintah kotanya, tapi dari segi lain, kota ini masih sepeti
kota yang dulu, dan menjadi tujuan pelancong-pelancong khususnya orang Jakarta
untuk berweek-end ria di Bandung.
Jika harus mengkaitkan Bandung dengan hal-hal under cover begitu, kota-kota
lain juga mempunyi permasalahan yang sama. pertanyaannya semula adalah kenapa
harus Bandung. Orang Indonesia sendiri tidak berani mengatakan bahwa Bandung
adalah kota yang terkenal dengn under cover-nya. Kecuali orang Indonesia
sendiri mengakui akan kelebihan gadis-gadis Bandung, seperti halnya orang-orang
Eropa yang tingal pada abad 19 dahulu.
Kota yang sejuk, indah asri, dengan pemandangan para wanitanya yang dapat
ditemui di setiap tempat membuat kita akan betah untuk tinggal di kota ini.
Coba hitung berapa kendraan letter B singgah di Bandung pada hari minggu atau
libur lainnya. perbandingan dngan kendaraan pribumi dalah hampir mencapai
50-50. Ini menunjukan bahwa Bandung masih mempunyai pesona untuk disinggahi.
Saya tidak bisa menyebutkan berapa persen dari para pengunjung itu 'meniduri'
kota Bandung. Jelas semua pendatang yang singgah di kota Bandung pun tidak mau
dikatakan merka datang ke Bandung hanya untuk sekedar 'tidur-tidur'. Gadis
Bandung manis, ya, menarik, ya, semua orang tahu itu. Tapi hanyalah oknum-oknum
tertentu yang memanfaatkan hal terebut. Parahnya, para gadis pendatang yang
datang ke Bandung untuk mencari nafkah sekedar untuk 'ditiduri' dan mengaku
sebagai orang Bandung, sehingga menarik nama kota Bandung menuju arah yang
menjijikan.
Atau sepeti yang dikatakan Bapak Eka suripto dari KBRI Malaysia : "Hal itu bisa
diartikan bahwa masyarakat Malaysia menilai kota Bandung sebagai kota pelacuran
atau bisa juga warga Malaysia berhidung belang biasa mencari pelacur di Bandung
sehingga menimbulkan persepsi Bandung sebagai kota pelacuran."
Suatu judul dari kesimpulan yang naif. Dari kata-kata tersebut dapat diambil
beberapa hipotesis. Pertama, Jika warga Malaysia berpandangan seperti itu,
berarti sebagian mereka telah merasakan sendiri pernah 'meniduri' kota ini. Dan
sebagian besar dari mereka dapat dikatakan pernah memakai jasa pelacur di kota
ini, belum di kota2 lainnya, atau di negeri sendiri. Maka hipotesis awalny
adalah bahwa sebagian dari mereka adalah penidur pelacur.
Kedua, sebagian besar para wisatawan Malaysia yang datang ke Bandung hanya
sekedar 'meniduri' kota ini. Begitu banyaknya wisatawan 'penidur', sehingga
mampu membuat opini tentang Bandung seperti itu.
Yang ketiga, bisa jadi si wartawan sendiri pernah datang ke Bandung, sekadar
untuk 'tidur', dan tidak pernah melakukan aktifitas di kota ini kecuali hal
tersebut, sehingga menggambarkan Bandung sebagai kota seperti itu.
Saya mengakui bahwa kota ini tidak sempurna, tidak munafik dengan masalahnya
khususnya pelacuran, tapi seperti kota2 lain di semua negara, permasalahan
gadis-gadis penghibur memang sangat komplek. Apalagi di tengah himpitan ekonomi
seperti ini. Yang saya sesalkan, kenapa harus Bandung. Apakah berarti kota-kota
di Malysia begitu bersih, suci sehingga tidak layak dikaitkan dengan hal ini.
Dan seperti biasa, pemerintah berdiam diri dengan hal ini.
faezan.blogspot.com
---------------------------------
Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.
[Non-text portions of this message have been removed]