he he he kenalan ah... EMINX SUJALMA
blog: eminxsgallery.multiply.com 081586366991 - +620321510165 Address : Jl A Yani 07 Pohkecik Dlanggu Mojokerto 61371 East Java Indonesia ----- Original Message ---- From: Rahman <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Sunday, September 14, 2008 1:02:51 PM Subject: [Baraya_Sunda] nurutan Jawa yu? Membalut Keberagaman dengan Budaya Jawa KOMPAS/WAWAN H PRABOWO / Kompas Images Remaja putri penerima beasiswa seni dan budaya Indonesia 2008 dari berbagai negara di kawasan Asia Pasifik belajar tari Golek di Taman Budaya Yogyakarta, Jumat (12/9). Mereka nantinya akan mementaskan tari tersebut pada akhir kegiatan melalui pentas puncak di Taman Budaya Yogyakarta. Minggu, 14 September 2008 | 00:52 WIB Ketika semakin sedikit orang Jawa yang mengukuhi budaya dan seni warisan nenek moyangnya, 12 pemuda dari berbagai negara justru bersemangat mempelajari hal itu selama 81 hari di Sanggar Sekar Setaman, Taman Budaya Yogyakarta. Melalui program beasiswa seni dan budaya Indonesia 2008, mereka sekaligus memperoleh pengalaman sebagai warga Yogyakarta dan berinteraksi dengan masyarakat. Memang tak seluruh materi pembelajaran tentang seni dan budaya sanggup mereka serap dengan baik. Tak jarang kebosanan dan keengganan untuk belajar tergambar dari mimik, bahasa tubuh, ataupun kata-kata yang mereka lontarkan saat berbincang-bincang. Meski demikian, semangat mereka pada umumnya cukup baik. Sepanjang hari, mulai Senin hingga Jumat, perwakilan dari beberapa negara yang telah lolos seleksi beasiswa dari Departemen Luar Negeri Indonesia itu diajak belajar seni tari, karawitan, pedalangan, tatah sungging, batik, hingga seni keramik. Sore harinya barulah mereka bebas bersentuhan dengan kehidupan Yogyakarta. Jalan-jalan ke pusat perbelanjaan menjadi rutinitas. Setiap Sabtu, para pemuda dan pemudi itu diajak mengenal sisi lain Yogyakarta, misalnya mengunjungi keraton, Candi Prambanan, dan beberapa tempat ibadah di Yogyakarta. "Saya selalu menunggu datangnya hari Sabtu. Sangat unik mengenal Yogyakarta dengan mengunjungi situs-situs bersejarahnya, " komentar peserta dari Filipina, Amanda Fe Castillo Echevarria (23). Perubahan paradigma Setelah separuh jalan mengikuti program yang dilaksanakan mulai 12 Agustus hingga 31 Oktober mendatang, Amanda mengaku mengalami perubahan paradigma dalam memandang budaya Indonesia, terutama Jawa. Dia melihat ada sejumlah kesamaan dan perbedaan antara budaya Indonesia dan Filipina. Sebagai dosen seni dan ilmu pengetahuan di Ateneo de Davao University, Amanda bertekad mentransfer berbagai pengalaman yang dia peroleh di Yogyakarta itu kepada mahasiswanya. Dia mengaku memperoleh semacam penyadaran akan keberadaan budaya adiluhung di Indonesia maupun di Asia Tenggara yang selama ini belum banyak dikenal. "Saya menyukai semua yang saya pelajari di Jawa. Masyarakat kami lebih banyak berkiblat pada budaya Eropa dan Amerika. Mereka butuh lebih banyak penyadaran bahwa ada budaya unggul di negara tetangga dekat yang sering kali tidak disadari," ungkapnya, saat ditemui Jumat (12/9). Perwakilan dari Pulau Samoa, Alan Aiolupotes (30), yang bekerja sebagai Senior Youth Officer untuk Ministry of Youth, dan mahasiswa dari Azerbaijan, Elmar Iskandarov, justru mengaku kebingungan menularkan dan membagikan apa yang mereka peroleh di Indonesia. "Meski ada kemiripan budaya, banyak seni yang dipelajari di Yogyakarta yang tidak bisa diterapkan di Pulau Samoa," kata Alan. Tari Nglana Raja yang dipelajari saat ini misalnya, lanjut Alan, takkan bisa dibawakan di negerinya nanti. "Meski suka memainkan alat musik gamelan, di negara saya pun tak ada perangkat musik serupa gamelan," paparnya. Karena itu, dia lebih suka mempelajari seni pahat tatah sungging karena hampir serupa dengan seni pahat yang ada di negaranya. Ketua pelaksana program beasiswa seni dan budaya Indonesia 2008 di Yogyakarta, yang juga Kepala Taman Budaya Yogyakarta, Dyan Anggraeni, mengatakan, program beasiswa yang sudah dilangsungkan sejak tahun 2003 itu sebenarnya bertujuan menjembatani persahabatan dan saling pengertian antarbangsa dalam keberagaman. Melalui program pengenalan budaya dan seni, katanya, diharapkan peserta mampu membalut keberagaman dalam kesatuan budaya Jawa. (WKM) [Non-text portions of this message have been removed]
